BHS juga menekankan urgensi pembangunan jaringan rel di Aceh untuk mendukung kawasan industri dan pelabuhan yang sedang direncanakan, sekaligus menghadapi persaingan logistik dengan Singapura dan Malaysia di kawasan Selat Malaka dan Selat Sunda.
“Dengan sistem kereta api yang terintegrasi, Indonesia bisa mengangkut bahan mentah dari daerah menuju industri di Sumatera, lalu mendistribusikan hasil olahan ke Jawa maupun pasar ekspor,” ujarnya.Baca Juga: Sri Hartono Dorong Pemerintah Kaji Kenaikan Usia Pensiun Guru hingga 65 Tahun
Ia menambahkan, fokus utama pemerintah sebaiknya adalah pembangunan kereta konvensional di seluruh Indonesia sebagai tulang punggung transportasi massal dan logistik nasional. Setelah itu, barulah proyek kereta cepat seperti rute Jakarta–Surabaya hingga Banyuwangi bisa dikembangkan.*Baca Juga: Pulsagram Permudah Akses Digital Terjangkau bagi Masyarakat Indonesia
Artikel Terkait
Desak Pengaktifan 15 Kapal LCT, Bambang Haryo Soroti Kemacetan Parah dan Keamanan Penyeberangan di Ketapang
Bambang Haryo: Pemindahan IKN Harus Dikaji Ulang Demi Hindari Beban Rakyat
Studi Kelayakan Rampung 2026, Proyek Kereta Api Trans Borneo Siap Satukan Malaysia, Brunei, dan Indonesia
Debut di DPR, Dirut Baru KAI Bobby Rasyidin Ungkap Perjalanan dari Industri Pertahanan ke Transportasi Kereta Api
Gibran: Utamakan Fasilitas Ibu, Anak, dan Difabel daripada Gerbong Perokok di Kereta Api
Pemkot Bengkulu Tegaskan Kometmen Dukung Percepatan Program 3 Juta Rumah