Majelis Taklim Perempuan Jadi Penggerak Dakwah dan Kesejahteraan Umat

Photo Author
M Kiblat Said, Suara Pembaruan
- Jumat, 17 Juli 2026 | 22:24 WIB
Jusuf Kalla membuka Rakernas I BKMM DMI di Auditorium Kampus Universitas YARSI, Jakarta Pusat, Jumat (17/7/2026).(Ist)
Jusuf Kalla membuka Rakernas I BKMM DMI di Auditorium Kampus Universitas YARSI, Jakarta Pusat, Jumat (17/7/2026).(Ist)

JAKARTA —SUARA PEMBARUAN - Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla menegaskan pentingnya peran perempuan dalam memperkuat dakwah Islam sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, majelis taklim tidak hanya menjadi wadah pembinaan keagamaan, tetapi juga harus menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan pemberdayaan ekonomi umat.

Hal tersebut disampaikan Jusuf Kalla usai melantik Ibu Nora Yosse Novia sebagai Ketua Badan Koordinasi Majelis Taklim Masjid (BKMM) DMI periode 2026–2031 sekaligus membuka Rakernas I BKMM DMI di Auditorium Kampus Universitas YARSI, Jakarta Pusat, Jumat (17/7/2026).

Dalam sambutannya, Jusuf Kalla menyampaikan apresiasi kepada para pengurus BKMM DMI yang baru dilantik. Ia berharap kepengurusan baru dapat menghadirkan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.

"Semoga dalam menjalankan tugas, para pengurus memberikan berbagai kegiatan yang bermanfaat untuk kita semua," ujar Jusuf Kalla.

Ia menjelaskan, dalam sejarah Islam, perempuan memiliki peran besar dalam perkembangan dakwah. Ia mencontohkan Siti Khadijah RA sebagai sosok yang pertama mendukung perjuangan Rasulullah SAW, baik secara moral maupun material.

"Tanpa dukungan Khadijah, mungkin perkembangan Islam tidak seperti sekarang ini. Ini menunjukkan bagaimana fungsi perempuan dalam kehidupan dan pengembangan Islam," katanya.

Menurut Jusuf Kalla, masjid dan majelis taklim harus mampu menjalankan fungsi yang lebih luas. Tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan sosial, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.

"Masjid bukan hanya berbicara tentang akhirat, tetapi juga harus berbicara tentang dunia. Apa yang diperoleh di akhirat bergantung pada apa yang kita lakukan di dunia," jelasnya.

Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara pemahaman agama dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurutnya, umat Islam harus mampu mengembangkan kemampuan agar dapat bersaing di dunia modern.

"Dunia tanpa ilmu pengetahuan dan teknologi akan membuat seseorang sulit bersaing. Karena itu, kehidupan dunia dan akhirat harus berjalan seimbang," ujarnya.

Jusuf Kalla juga menyoroti besarnya peran ibu dalam pendidikan keluarga, khususnya dalam menanamkan nilai-nilai agama kepada anak-anak. Menurutnya, ibu memiliki posisi strategis karena lebih banyak berinteraksi dengan anak di lingkungan rumah.

"Anak belajar agama biasanya dari ibu, karena ibu lebih banyak bersama anak di rumah. Karena itu peranan ibu sangat penting dalam membangun keluarga yang baik," katanya.

Selain bidang keagamaan, Jusuf Kalla mendorong majelis taklim agar turut memberikan pembinaan terkait keterampilan dan ekonomi produktif. Ia mengusulkan agar kegiatan pengajian juga menghadirkan para ahli di berbagai bidang.

"Pengajian tidak hanya mengundang ustaz dan ustazah, tetapi juga para ahli tentang kuliner, bagaimana berusaha yang baik, keterampilan menjahit, dan bidang lainnya. Agama harus didukung dengan kemampuan," ungkapnya.

Halaman:

Editor: M Kiblat Said

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Rekomendasi

Terkini

Ketika Adab Runtuh, Negeri Tinggal Nama

Sabtu, 3 Januari 2026 | 12:04 WIB

Allah Selalu Menjagamu Setiap Desah Nafasmu

Kamis, 18 September 2025 | 07:33 WIB

Allah Mencintai Hamba yang Terus Berbuat Baik

Rabu, 17 September 2025 | 07:46 WIB

Ketika Kesabaran Menjadi Jalan Hidayah

Jumat, 23 Mei 2025 | 15:07 WIB

Husniah Lepas 599 Jemaah Calon Haji Gowa

Jumat, 25 April 2025 | 13:46 WIB
X