Dalam Cahaya Islam, Mereka Membesarkan Peradaban
DALAM sejarah Islam, banyak perempuan tak dikenal dunia, tapi dikenal langit. Mereka tidak tercetak dalam buku sejarah sebagai jenderal, raja, atau pemimpin bangsa. Namun di mata Allah, mereka adalah pahlawan abadi. Dalam diam dan kesederhanaannya, mereka mengukir takdir umat manusia.
1. Aminah binti Wahb: Kasih Ibu yang Mengandung Kenabian
Aminah, ibu dari Rasulullah ﷺ, adalah perempuan tangguh yang menanggung beban luar biasa. Ia mengandung Muhammad ﷺ dalam keadaan sendiri, ditinggal wafat oleh suaminya, Abdullah. Tapi ia menjaga kandungannya dengan penuh cinta dan pengharapan.
Dalam Al-Qur’an, Allah mengabadikan kehormatan para ibu melalui firman-Nya:
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun...”
(QS. Luqman: 14)
Baca Juga: Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Jatim Turun 33,2 %, dan 31,7%
Walau hanya sebentar memeluk Muhammad ﷺ sebelum dipanggil Allah, kasih sayangnya tetap hidup dalam sejarah kenabian. Ia tidak disebut banyak dalam hadis, tapi tanpa Aminah, takkan lahir manusia paling mulia yang membawa rahmat bagi alam semesta.
2. Hajar: Ibu yang Berlari demi Sebuah Doa
Hajar, istri Nabi Ibrahim, adalah lambang keikhlasan, iman, dan keteguhan. Ditinggalkan di lembah gersang Makkah bersama bayi kecilnya, Ismail, ia hanya bertanya:
"Apakah ini perintah Allah?"
Ibrahim menjawab: "Ya."
Ia berkata: "Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami."
(HR. Bukhari)
"Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi'ar Allah. Maka barang siapa berhaji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya untuk mengerjakan sa'i antara keduanya."(QS. Al-Baqarah: 158).
Baca Juga: Islam Memberikan Kedudukan Tinggi Bagi Kaum Wanita yang Shalihah
Hari ini, jutaan umat Islam menapaki jejak Hajar — perempuan yang tidak menyampaikan khutbah, tapi seluruh dunia meneladani langkahnya.
3. Ibu Imam Syafi’i: Pendekar Ilmu dari Balik Tirai Kesederhanaan
Imam Syafi’i, sang hujjatul Islam, tidak lahir dari istana atau kekayaan. Ia tumbuh dalam pelukan ibunya — seorang wanita miskin, tapi berjiwa mulia. Ibunya menjual sedikit demi sedikit barang demi barang untuk membiayai pendidikan anaknya ke Makkah dan Madinah.
Artikel Terkait
Wanita adalah Mutiara
Makin Banyak Wanita Pilih Menjanda
Dokter Wanita di Kota Palembang, Ramaikan Bursa Calon Wakil Walikota
Persatuan Wanita Patra Kunjungi Sekolah Anak Percaya Diri
Pengakuan Keluarga Soal Kasir Wanita yang Terjebak di Kebakaran Glodok Plaza
Islam Memberikan Kedudukan Tinggi Bagi Kaum Wanita yang Shalihah