Tak Sedetikpun Allah Meninggalkanmu, Setiap Saat Mengawasimu

Photo Author
Bangun P Lubis, Suara Pembaruan
- Senin, 19 Mei 2025 | 14:08 WIB
Al Quranulkarim. [ SuaraPembaruan.News/ Foto: Muslim.o.id ]
Al Quranulkarim. [ SuaraPembaruan.News/ Foto: Muslim.o.id ]

 

 

Oleh: Bangun Lubis ( Wartawan SuaraPembaruan.News) 

 

SALAH satu nilai takwa yang dihasilkan dari ibadah puasa adalah muraqabatullah, yakni merasa diawasi oleh Allah Swt. Betapa tidak, pada siang hari ketika kita sedang melaksanakan puasa, kita bisa saja makan dan minum di tempat yang tersembunyi.

Namun, hal itu tidak dilakukan karena kita meyakini, walaupun dapat bersembunyi dari penglihatan dan pengawasan manusia, kita tidak akan mampu bersembunyi dari penglihatan dan pengawasan Allah. Kita bisa saja berpura-pura menjalankan ibadah puasa di hadapan manusia, tetapi kita tidak dapat menyembunyikan hal itu dari pengawasan Allah. Inilah bentuk dari muraqabatullah.

            Jelasnya, muraqabarullah itu adalah mengondisikan diri merasa diawasi oleh Allah di setiap waktu kehidupan hingga akhir kehidupan. Allah melihat, mengetahui rahasia-rahasia, memperhatikan semua amal perbuatan, dan juga mengamati apa saja yang dikerjakan semua jiwa. Allah berfirman, “Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Alquran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biar pun sebesar zarah (atom) di bumi atau pun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata.” (QS.Yunus [10]: 61)

Dalam ajaran Islammuraqabatullah merupakan suatu kedudukan yang tinggi. Hadis menyebutkan bahwa muraqabatullah sejajar dengan tingkatan ihsan, yakni beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya dan jika kita tak mampu melihatnya, maka sesungguhnya Allah melihat kita (Muttafaq alaih). Sebagai seorang mukmin hendaknya kita berusaha menggapai kedudukan muraqabatullah ini. Ketika kita sudah mencapai kedudukan muraqabatullah, serangkaian kebaikan dan keutamaan akan kita dapatkan.

Baca Juga: Menjaga Akar, Menyongsong Masa Depan: Wajah Indonesia di Tengah Perubahan

Di antaranya, kita akan merasakan keagungan Allah Ta’ala dan kesempurnaan-Nya, tenteram ketika ingat nama-Nya, merasakan ketenteraman ketika taat kepada-Nya, ingin bertetanggaan dengan-Nya, datang menghadap kepada-Nya, dan berpaling dari selain-Nya. Akhirnya, mari kita merenungi sebuah kisah yang dituturkan oleh Abdullah bin Dinar sebagai motivasi bagi kita untuk menjadi orang yang merasa selalu diawasi oleh Allah Swt.  Abdullah bin Dinar dalam dokumen republika, berkata, “Pada suatu hari, aku pergi ke Makkah bersama Umar bin Khattab. Di salah satu jalan, kami berhenti untuk istirahat, tiba-tiba salah seorang penggembala turun kepada kami dari gunung. Umar bin Khaththab bertanya kepada penggembala tersebut, ‘Hai penggembala, jualah seekor kambingmu kepada kami’.”

Penggembala tersebut berkata, “Kambing-kambing ini bukan milikku, tapi milik majikanku.’’ Umar bin Khattab berkata, “Katakan saja kepada majikanmu bahwa kambingnya dimakan serigala.’’ Namun, penggembala yang budak tersebut berkata, “Kalau begitu, di mana Allah?”. Umar bin Khattab menangis, kemudian ia pergi ke majikan penggembala tersebut, lalu membeli budak tersebut dan memerdekakannya.”

Bila kita sediakan waktu membaca dan menguak kisah-kisah masa para sahabat, maka banyak ikhtibar dan pedoman yang dapat dijadikan sebagai pegangan dalam kehidupan sehari-hari. Kisah itu menjadi pencerdasan dan inspirasi yang begitu besar dalam menata kehidupan selama waktu kehidupan di dunia ini.

Ustadz Drs. H. Umar Said, Ketua FUI (Forum Umat Islam), mengurai soal kisah-kisah yang baik untuk dijadikan sebagai pedoman dalam menata hidup di dunia. Kisah itu adalah mana kala Khalifah Umar bin Khattab dalam perjalanan melewati gurun pasir, yang bertemu sekelompok kafilah. Saat itu malam begitu gelap, masing-masing orang tidak saling mengenali. Sahabat Abdullah bi Mas’ud berada dalam kafilah itu.

Khalifah Umar memerintahkan seseorang untuk bertanya kepada kafilah yang berada di hadapan mereka. “Dari manakah kalian? Dan hendak kemana kalian ? ” Abdullah menjawab “Min fajjin ‘amiq ila baitil atiq. Dari lembah yang dalam menuju baitullah al-atiq.”

Halaman:

Editor: Bangun P Lubis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Ketika Adab Runtuh, Negeri Tinggal Nama

Sabtu, 3 Januari 2026 | 12:04 WIB

Allah Selalu Menjagamu Setiap Desah Nafasmu

Kamis, 18 September 2025 | 07:33 WIB

Allah Mencintai Hamba yang Terus Berbuat Baik

Rabu, 17 September 2025 | 07:46 WIB

Ketika Kesabaran Menjadi Jalan Hidayah

Jumat, 23 Mei 2025 | 15:07 WIB

Husniah Lepas 599 Jemaah Calon Haji Gowa

Jumat, 25 April 2025 | 13:46 WIB
X