Oleh: Bangun Lubis - Wartawan Muslim
KITA sedang hidup di sebuah zaman yang gaduh, tetapi miskin makna. Zaman yang riuh oleh suara, namun sepi oleh hikmah. Kebebasan dielu-elukan setinggi langit, sementara adab diinjak-injak tanpa rasa bersalah.
Hari ini, hidup seolah boleh sebebas-bebasnya—bebas berkata kasar, bebas bertingkah tanpa etika, bebas memamerkan kesombongan—dan semua itu dianggap biasa, bahkan normal. Inilah tanda ketika sebuah negeri perlahan kehilangan kedaulatannya dalam nilai.
Bahasa yang dahulu dijaga kini dilepas liar. Caci maki menjadi tontonan, hinaan menjadi konsumsi harian. Media sosial berubah menjadi pasar bebas kata-kata kotor. Padahal Allah ﷻ telah memperingatkan dengan sangat jelas, “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.” (QS. Al-Isra: 53). Namun ayat ini seperti tak lagi punya tempat dalam kesadaran publik.
Baca Juga: Firman Soebagyo: Berlakunya KUHP–KUHAP Baru Tonggak Reformasi Hukum Nasional
Lebih menyedihkan, orang yang berbicara santun sering dianggap lemah. Yang menahan diri dikira kalah. Yang menjaga adab dianggap kuno dan tidak relevan. Padahal Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa lisan adalah penentu keselamatan. Masyarakat yang rusak lisannya, sesungguhnya sedang merusak masa depannya sendiri.
Allah ﷻ telah mengingatkan bahwa kerusakan sosial bukan datang tiba-tiba. “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41). Kerusakan itu bermula dari hati yang kosong dari iman, lalu menjalar ke lisan, sikap, kebijakan, dan akhirnya ke seluruh sendi kehidupan.
Kesombongan kini dipertontonkan tanpa rasa malu. Merendahkan orang lain dianggap keunggulan. Pamer kekuasaan, harta, dan pengaruh menjadi gaya hidup. Padahal Allah ﷻ dengan tegas memperingatkan, “Dan janganlah kamu berjalan di bumi dengan sombong. Sungguh, kamu tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menyamai gunung-gunung dalam ketinggian.” (QS. Al-Isra: 37). Kesombongan bukan tanda kuat, tetapi bukti rapuhnya jiwa.
Baca Juga: Polres Sarmi Terus Lakukan Pencarian Pelajar yang Tenggelam di Pantai Tarontah
Lebih parah lagi, nilai malu—yang oleh Rasulullah ﷺ disebut sebagai bagian dari iman—kian menghilang. Aurat diumbar, etika dipertontonkan, batas antara yang pantas dan tidak pantas semakin kabur. Semua dibungkus atas nama kebebasan dan hak pribadi. Padahal Islam tidak pernah memusuhi kebebasan. Islam hanya menolak kebebasan yang liar, yang merusak diri dan orang lain.
Allah ﷻ memerintahkan keseimbangan antara hak dan tanggung jawab. “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan…” (QS. An-Nahl: 90). Keadilan dan kebajikan tidak mungkin tegak di tengah masyarakat yang kehilangan adab.
Sikap pelit dan egois juga semakin menonjol. Kepentingan pribadi didahulukan, kepedulian sosial dikesampingkan. Orang lain dianggap beban, bukan saudara. Padahal Al-Qur’an memuji orang-orang beriman yang memiliki empati tinggi: “Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan.” (QS. Al-Hasyr: 9). Tanpa empati, sebuah bangsa hanya akan menjadi kumpulan individu yang saling berkompetisi tanpa kasih.
Baca Juga: Inilah Penerima Manfaat Revitalisasi 38 SMA/SMK dan SLB di Malang Raya
Lalu kita bertanya: di mana peran negara? Negara sibuk mengatur prosedur, tetapi lalai menjaga nilai. Hukum ditegakkan, namun moral ditinggalkan. Pendidikan mengejar angka, tetapi lupa membentuk adab. Padahal Allah ﷻ menegaskan, “Apakah orang yang mengetahui itu sama dengan orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9). Ilmu tanpa akhlak bukan kemajuan, melainkan bencana yang tertunda.
Artikel Terkait
Borong Apresiasi BPH Migas 2025, PGN Tegaskan Peran Strategis Jaga Energi Nasional
Malam Tahun Baru 2026 Aman Terkendali, Polda Jateng Apresiasi Kedewasaan Warga
Universitas Bengkulu Tempati Peringkat 56 Nasional di UI GreenMetric 2025
Wali Kota Dedy Minta OPD Pemkot Bengkulu Siaga Antisipasi Dampak Cuaca Ekstrem
Wali Kota Dedy Wahyudi Lepas 209 ASN Pemkot Bengkulu Purna Tugas
Polres Sarmi Terus Lakukan Pencarian Pelajar yang Tenggelam di Pantai Tarontah
Kapal Kemanusiaan Gelombang 2 Berisi Peralatan dan Logistik di Lepas PMI ke Sumatera dan Aceh
Inilah Penerima Manfaat Revitalisasi 38 SMA/SMK dan SLB di Malang Raya
Firman Soebagyo: Berlakunya KUHP–KUHAP Baru Tonggak Reformasi Hukum Nasional
PGN Perluas Gas Bumi Industri, BMI Lamongan Resmi Gunakan Gas di Awal 2026