Studi Kelayakan Rampung 2026, Proyek Kereta Api Trans Borneo Siap Satukan Malaysia, Brunei, dan Indonesia

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Kamis, 14 Agustus 2025 | 18:40 WIB
Foto Ilustrasi - Menteri Perhubungan Malaysia, Anthony Loke Siew Fook menyebut studi kelayakan proyek kereta api Trans Borneo rampung pada kuartal ketiga 2026. (Unsplah/Johannes Plenio)
Foto Ilustrasi - Menteri Perhubungan Malaysia, Anthony Loke Siew Fook menyebut studi kelayakan proyek kereta api Trans Borneo rampung pada kuartal ketiga 2026. (Unsplah/Johannes Plenio)

Jakarta, SUARA PEMBARUAN - Proyek besar kereta api Trans Borneo yang akan menghubungkan Sabah, Sarawak, Brunei, dan Kalimantan kian mendekati tahap realisasi.

Menteri Perhubungan Malaysia, Anthony Loke Siew Fook, menyampaikan bahwa studi kelayakan proyek ini ditargetkan tuntas pada kuartal ketiga 2026.

Dalam jawaban tertulis kepada anggota parlemen Vivian Wong Shir Yee (PH-Sandakan), Loke mengungkapkan bahwa konsultan lokal telah ditunjuk untuk melakukan studi selama 12 bulan, dimulai sejak Juni 2025. Kajian ini mencakup rencana jalur Kereta Api Lintas Kalimantan di wilayah Sabah dan Sarawak.

Studi kelayakan tersebut akan meliputi analisis mendalam dari sisi teknis, komersial, sosial-ekonomi, operasional, tata kelola, hingga manfaat sosial.

“Hasil utama yang diharapkan mencakup rekomendasi strategis, jadwal pelaksanaan, rencana aksi, serta garis waktu yang jelas, sambil memastikan dukungan penuh dari semua pemangku kepentingan,” ujar Loke kepada media Malaysia, Kamis (14/8/2025).

Pemerintah federal telah mengalokasikan dana sebesar RM7 juta atau sekitar Rp26 miliar untuk membiayai studi ini. Wakil Menteri Sabah III, Datuk Shahelmey Yahya, menambahkan bahwa proyek ini telah tercantum dalam Rencana Malaysia ke-12.

Rencana jalur kereta lintas negara ini pertama kali diusulkan pada 2015 oleh mantan Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Najib Razak, kepada Presiden Indonesia saat itu, Joko Widodo. Jika berhasil direalisasikan, Trans Borneo akan menjadi jalur strategis untuk pergerakan manusia, barang, dan jasa di jantung Pulau Borneo, sekaligus membuka era baru konektivitas lintas negara di Asia Tenggara.*

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB
X