Isu LGBT dan Krisis Moral Disorot, Generasi Muda Jateng Diminta Jadi Benteng Ancaman Non-Militer

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Kamis, 9 Juli 2026 | 21:52 WIB
Dwi Yasmanto menyoroti ancaman non-militer, dari dekadensi moral hingga isu LGBT, yang dinilai mengancam karakter generasi muda.
Dwi Yasmanto menyoroti ancaman non-militer, dari dekadensi moral hingga isu LGBT, yang dinilai mengancam karakter generasi muda.

Semarang, SUARA PEMBARUAN  – Anggota DPRD Jawa Tengah Fraksi Gerindra, Dwi Yasmanto, menyoroti ancaman non-militer yang dinilainya semakin nyata di tengah masyarakat, terutama melalui pergeseran moral generasi muda, derasnya pengaruh media sosial, hingga maraknya isu LGBT yang disebut perlu disikapi serius. Sorotan itu disampaikan dalam diskusi bertema Membangun Generasi Jawa Tengah yang Berkarakter untuk Memperkokoh Kedaulatan Bangsa yang dihelat Fraksi Gerindra DPRD Jateng, Kamis (9/7/2026) malam.

Dalam forum tersebut, Dwi menilai ancaman terhadap bangsa saat ini tidak selalu datang dalam bentuk fisik atau konflik terbuka, tetapi juga melalui perubahan budaya, pola pikir, dan perilaku sosial yang perlahan menggerus karakter generasi muda.

“Sekarang ini ancaman tidak melulu dalam bentuk militer. Ada ancaman non-militer yang masuk lewat budaya, perilaku, media sosial, sampai perubahan moral anak-anak muda kita. Ini tidak bisa dianggap sepele,” kata anggota dewan yang biasa disapa Yayan ini.

Ia menilai, gejala kemerosotan moral sudah terasa dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari menurunnya rasa hormat anak kepada orang tua, lunturnya etika dalam pergaulan, hingga makin lemahnya kepekaan sosial di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Menurut Dwi, kondisi itu menjadi alarm serius, terlebih ketika isu-isu yang dianggap menyimpang, termasuk LGBT, mulai ramai dibicarakan di ruang publik dan media sosial. Ia mengaku khawatir jika fenomena tersebut terus berkembang tanpa ada penguatan nilai dan karakter di kalangan generasi muda.

“Kalau kita bicara 20 sampai 30 tahun ke depan, lalu fenomena seperti ini makin marak, tentu kita harus bertanya: seperti apa karakter bangsa ini ke depan? Jangan sampai generasi muda kehilangan pijakan nilai, kehilangan arah, dan justru mudah dipengaruhi budaya luar yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa,” ujarnya.

Dwi mengatakan, pemerintah dan masyarakat perlu melihat persoalan tersebut sebagai bagian dari ancaman non-militer yang harus direspons lewat penguatan karakter, pendidikan moral, literasi digital, serta pembinaan keluarga. Menurutnya, generasi muda Jawa Tengah harus dibekali ketahanan moral agar tidak mudah terseret arus budaya digital yang destruktif.

Suasana diskusi yang digelar Fraksi Gerindra DPRD Jateng.

Senada dengan itu, mantan Ketua HMI Cabang Semarang, Ilham Rosyid Hasibuan, menilai ancaman non-militer terhadap generasi muda saat ini memang semakin kompleks. Ia menyebut tantangannya tidak hanya soal ideologi dan budaya, tetapi juga menyangkut krisis moral, individualisme, narkoba, judi online, konsumerisme, hingga rendahnya literasi digital.

“Ancaman terhadap generasi muda hari ini datang dari banyak sisi. Ada krisis moral, lemahnya integritas, pengaruh narkoba, judi online, sampai banjir informasi yang tidak semuanya sehat. Kalau karakter anak muda lemah, mereka akan sangat mudah terseret,” kata Ilham.

Ia menegaskan, penguatan karakter harus menjadi fondasi utama agar generasi muda tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga kuat secara mental, sosial, dan kebangsaan. Menurut Ilham, karakter itu mencakup integritas, nasionalisme, disiplin, gotong royong, kepemimpinan, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.

“Karakter yang kuat akan membuat generasi muda punya filter dalam menghadapi pengaruh luar. Mereka tidak gampang terbawa arus, tidak mudah termakan hoaks, dan tetap punya orientasi untuk menjaga kepentingan bangsa,” ujarnya.

Ilham menambahkan, Jawa Tengah memiliki posisi strategis dalam menyiapkan generasi muda karena ditopang bonus demografi, banyaknya kampus, serta potensi ekonomi dan budaya yang besar. Namun, semua itu bisa berubah menjadi beban apabila anak muda tidak dibekali karakter dan literasi yang memadai.

Karena itu, baik Dwi maupun Ilham sama-sama menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, keluarga, sekolah, kampus, organisasi kepemudaan, dan masyarakat dalam menghadapi ancaman non-militer. Penguatan karakter dinilai menjadi benteng utama agar generasi muda Jawa Tengah tidak kehilangan arah di tengah gempuran perubahan sosial dan budaya digital.

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X