Qodari Buka-bukaan soal Kopdes Merah Putih: Bukan Swalayan Tutup, Tapi Memang Belum Buka

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Minggu, 5 Juli 2026 | 17:43 WIB
 Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI Muhammad Qodari
Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI Muhammad Qodari

Jakarta, SUARA PEMBARUAN  — Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI Muhammad Qodari menegaskan pemerintah pusat terus memastikan narasi program strategis nasional tersampaikan secara utuh, adaptif, dan berbasis data kepada masyarakat. Salah satu program yang kini menjadi sorotan publik adalah Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial.

Qodari menyoroti beredarnya unggahan yang menarasikan sejumlah bangunan Kopdes Merah Putih seperti swalayan yang hendak tutup. Menurutnya, anggapan tersebut keliru karena koperasi yang dimaksud memang belum memasuki tahap operasional penuh.

“Bukan swalayan mau tutup, memang belum buka. Koperasi Merah Putih itu sudah berjalan, seperti beberapa program Presiden lainnya, hanya saja ada kategori transisi dan permanen,” kata Qodari saat menjadi bintang tamu dalam sebuah acara pada 26 Juni 2026.

Ia menjelaskan, program KDKMP saat ini berjalan sesuai tahapan yang telah dirancang pemerintah. Pada fase transisi, koperasi dapat lebih dulu berfungsi sebagai pusat aktivitas ekonomi warga, meski belum memiliki bangunan permanen. Qodari mencontohkan pengalamannya saat berkunjung ke Padang, ketika KDKMP dimanfaatkan masyarakat sebagai tempat menampung hasil produksi madu.

Menurut dia, skema seperti itu justru menunjukkan bahwa koperasi desa tidak sekadar diposisikan sebagai gerai penjualan, melainkan sebagai simpul ekonomi yang menghubungkan produksi warga dengan pasar. Hasil penjualan madu tersebut, lanjutnya, telah menjadi sumber pemasukan bagi masyarakat setempat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sementara itu, untuk koperasi permanen yang telah memiliki bangunan fisik, Qodari menyebut jumlah yang sudah diresmikan hingga kini mencapai 1.061 unit. Angka itu, kata dia, merupakan bagian dari proses menuju target besar pemerintah.

“Nah, menuju ke 40.000 sesuai proyeksi Menteri Koperasi di tahun 2026, itu masih berproses. Kalau bangunan sudah jadi, tentu ada tahapannya, mulai dari penataan display, lalu barang masuk. Jadi, tunggu tanggal mainnya,” ujarnya.

Selain menjawab keraguan publik, Qodari juga menekankan manfaat ekonomi yang disebut dapat dirasakan langsung masyarakat melalui program Kopdes Merah Putih. Ia menyebut kehadiran koperasi ini dirancang untuk membantu keluarga menekan pengeluaran rutin, terutama untuk kebutuhan pokok seperti LPG 3 kilogram dan minyak goreng MinyaKita.

Qodari memaparkan, harga LPG 3 kilogram di pasaran saat ini berkisar Rp20.000 per tabung, sedangkan di koperasi dapat dijual Rp16.000. Sementara MinyaKita yang di pasaran umumnya dijual Rp21.000 per liter, di koperasi bisa ditebus dengan harga Rp15.700.

Berdasarkan data Kemendukbangga tahun 2025, terdapat sekitar 74 juta keluarga di Indonesia dengan rata-rata konsumsi empat tabung LPG 3 kilogram dan empat liter minyak goreng setiap bulan. Dengan asumsi itu, selisih harga LPG sebesar Rp4.000 per tabung diperkirakan dapat menghasilkan penghematan sekitar Rp14,2 triliun per tahun. Adapun dari minyak goreng, selisih Rp5.300 per liter diperkirakan menghasilkan penghematan sekitar Rp18,82 triliun per tahun.

“Maka dalam satu tahun sebenarnya masyarakat dapat menghemat sekitar Rp33 triliun. Bagi keluarga yang setiap hari menghitung pengeluaran dengan cermat, itu penghematan yang berarti. Angka itu bukan sekadar kalkulasi di atas kertas,” kata Qodari.

Tak hanya dari sisi penghematan rumah tangga, Qodari juga menyoroti potensi besar program ini dalam membuka lapangan pekerjaan. Ia menyebut target pembangunan 80.000 unit KDKMP hingga 2029 berpeluang menyerap lebih dari 1,4 juta tenaga kerja di berbagai daerah.

Skema ketenagakerjaan di dalamnya, kata dia, tidak hanya melibatkan manajer hasil rekrutmen nasional, tetapi juga tenaga kerja lokal yang diprioritaskan berasal dari desa setempat. Setiap gerai KDKMP disebut akan melibatkan satu manajer dan 17 pekerja lokal untuk menjalankan operasional koperasi.

“Setiap gerai KDKMP melibatkan satu manajer yang telah mengikuti rekrutmen nasional, serta 17 pekerja lokal yang seluruhnya diprioritaskan berasal dari desa setempat,” ujarnya.

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Romo Para Jomblo Itu Telah Berpulang…

Jumat, 3 Juli 2026 | 15:29 WIB
X