Romo Para Jomblo Itu Telah Berpulang…

Photo Author
Stefy Thenu, Fuska Sani Evani, Suara Pembaruan
- Jumat, 3 Juli 2026 | 15:29 WIB
Romo Busyet semasa hidup dikenal sebagai Romo Para Jomblo lewat Komunitas Jomblo Katolik.  (SP/istimewa)
Romo Busyet semasa hidup dikenal sebagai Romo Para Jomblo lewat Komunitas Jomblo Katolik. (SP/istimewa)


Semarang, SUARA PEMBARUAN — Kabar duka menyelimuti umat Katolik, khususnya kaum muda di wilayah Keuskupan Agung Semarang. Romo Andreas Setyo Budi Sambodo Pr, imam yang akrab disapa “Romo Busyet” atau “Romo Buset”, berpulang ke rumah Bapa di surga pada Jumat, 3 Juli 2026, pukul 07.57 WIB di Rumah Sakit St. Elisabeth Semarang. Almarhum wafat dalam usia 50 tahun.

Bagi banyak orang muda Katolik, nama Romo Busyet bukan sekadar imam. Ia adalah sosok pastor yang hangat, komunikatif, dan penuh pesona dalam mendampingi umat, terutama kalangan muda.

Di tengah kesibukan pelayanan pastoralnya, dia dikenal luas sebagai pembimbing Komunitas Jomblo Katolik (KJK), sebuah komunitas yang lahir dari keprihatinan atas tantangan kaum muda Katolik dalam menemukan pasangan hidup yang seiman, sekaligus tetap bertumbuh dalam iman.

Di tangannya, komunitas itu tidak sekadar menjadi ruang pertemuan para lajang. KJK berkembang menjadi wadah pendampingan yang menggabungkan keakraban, refleksi iman, dan relasi yang sehat.

Melalui berbagai kegiatan seperti gathering, pertemuan komunitas, hingga jambore, Romo Busyet berupaya mempertemukan para anggota secara langsung di dunia nyata, bukan semata melalui percakapan virtual. Pendekatan itu membuat banyak anak muda merasa didengar, ditemani, dan dikuatkan.

Julukan “Romo para jomblo” pun melekat kuat pada dirinya. Dengan gaya khas yang cair dan dekat dengan anak muda, Romo Andreas kerap menyelipkan candaan di sela pelayanan.

Salah satu kalimat yang paling diingat banyak umat adalah ucapannya setelah mendampingi pasangan menerima Sakramen Perkawinan. Seusai misa, ia sering berfoto atau membuat video sambil melontarkan kalimat yang kemudian menjadi semacam slogan komunitas: “Jomblo pasti berlalu.” Kalimat sederhana itu bukan sekadar guyonan, melainkan suntikan harapan bahwa penantian, bila dijalani dalam iman dan kesungguhan, akan menemukan waktunya sendiri.

Kehangatan itulah yang membuat Romo Busyet begitu dikenang. Ia bukan hanya imam yang berdiri di altar, tetapi juga sahabat bagi kaum muda yang sedang bergulat dengan pencarian jati diri, panggilan hidup, dan pasangan seiman.

Banyak orang muda merasa Romo Busyet mampu menjembatani bahasa Gereja dengan realitas keseharian mereka—termasuk keresahan tentang cinta, komitmen, dan masa depan.

Jenazah Romo Busyet disemayamkan di Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan pada Jumat, 3 Juli 2026 pukul 11.30 WIB. Selanjutnya, Misa Requiem dilaksanakan pada pukul 15.00 WIB di Kapel Paulus Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan, dipimpin oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko, dan dilanjutkan dengan upacara pemakaman di Makam Romo Projo KAS, kompleks Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan.

Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko Pr saat memimpin Misa Requiem Almarhum Romo Busyet di Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta, Jumat (3/7/2026) (capture YT Komsos KAS)

Romo Busyet lahir di Sragen, 19 Juli 1975 dan berasal dari Paroki Sragen. Ia ditahbiskan sebagai diakon di Kentungan pada 14 April 2007, lalu menerima tahbisan imam pada 27 Juni 2007. Sejak itu, hidupnya diabdikan untuk pelayanan pastoral di berbagai tempat.

Riwayat karyanya mencerminkan perjalanan panjang seorang imam yang setia melayani. Ia pernah menjadi Vikaris Paroki Kalasan (2007–2009), melayani di Campus Ministry Universitas Atma Jaya (2009–2011 dan 2013–2015), Vikaris Paroki Babarsari (2011–2012), Vikaris Paroki Gamping (2014–2015), Asistensi Paroki Babadan (2015), Vikaris Paroki Magelang-Fatima (2015–2017), serta berkarya di Keuskupan Ketapang (2017–2022). Setelah itu, ia melanjutkan pelayanan sebagai Vikaris Paroki Ganjuran (2022–2023), Vikaris Paroki Karangpanas (2023–2024), Vikaris Paroki Plamongan Indah (2024), Administrator Paroki Boyolali (2024–2025), dan terakhir menjabat sebagai Pastor Paroki Boyolali sejak 2025.

Namun, di balik daftar panjang penugasan itu, ada jejak lain yang tak kalah kuat: jejak seorang imam yang memilih hadir dekat dengan umat, terutama generasi muda. Romo Busyet mengajarkan bahwa Gereja tidak boleh terasa jauh, kaku, atau menakutkan. Sebaliknya, Gereja harus hadir sebagai rumah yang menyapa, mendampingi, dan memberi harapan—bahkan untuk urusan yang sangat manusiawi seperti menemukan pasangan hidup.

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Romo Para Jomblo Itu Telah Berpulang…

Jumat, 3 Juli 2026 | 15:29 WIB
X