Keseluruhan data ini mengungkap bahwa horor merupakan genre lintas budaya dengan pasar yang luas, tidak hanya terbatas pada Amerika Serikat sebagai kiblat industri perfilman dunia. Dengan tren global yang positif, peluang terbuka lebar bagi sineas dari berbagai negara—termasuk Indonesia—untuk mengembangkan film horor yang tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga mengandung nilai budaya lokal. Dengan demikian, horor dapat berfungsi ganda: sebagai produk kreatif yang kompetitif secara komersial sekaligus sarana diplomasi budaya yang memperkenalkan identitas bangsa di panggung internasional.
Salah satu diplomasi ini pun terjadi antara Indonesia dan America melalui perayaan 75 tahun hubungan diplomatik antara kedua negara pada tahun 2024 silam. Dalam peluncuran ini, tema “Keberagaman, Demokrasi, Kemakmuran” digunakan sebagai representasi nilai-nilai yang sama-sama dijunjung tinggi oleh kedua negara. Salah satu wujud kerja sama dalam bidang kebudayaan adalah di sektor perfilman.
Momentum bersejarah tercipta ketika film Indonesia “Agak Laen” (2024) diputar di Amerika Serikat sebagai film Indonesia pertama yang tayang secara resmi di sana. Film bergenre horor komedi ini bukan hanya membawa hiburan, tetapi juga menjadi media untuk memperkenalkan budaya Indonesia sekaligus menunjukkan identitas bangsa yang kuat di panggung internasional. Selain itu, film ini pun sukses mendapatkan 9 juta penonton sejak tayang pertama kali tayang pada 1 Februari 2024.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Mobil Matic Bekas di Bawah Rp100 Juta, Nyaman dan Praktis untuk Harian
Selain itu, data menunjukkan bahwa pasar Amerika memiliki minat besar terhadap film horor. Berdasarkan laporan dari berbagai platform streaming di Amerika Serikat tahun 2023, debut film dengan genre horor menempati posisi teratas dalam jumlah penonton. Tren tersebut juga terlihat pada Box Office Amerika Utara tahun 2024, di mana dari 10 film dengan pendapatan tertinggi, salah satunya adalah “Smile 2”, sebuah film bergenre horor [4]. Selain itu, film “Terrifier 3” dan “The Nightmare Before” turut masuk dalam jajaran film teratas, bersaing dengan genre lain seperti animasi, drama, dan aksi. Hal ini mengonfirmasi bahwa horor tetap memiliki basis penonton yang solid sekaligus daya tarik komersial yang kuat. Fakta ini menunjukkan adanya peluang besar bagi film Indonesia, khususnya dengan genre horor, untuk masuk dan bersaing di pasar perfilman global, terutama Amerika Serikat.
Horor, baik di Amerika maupun di Indonesia, memiliki kekhasan yang mencerminkan cara masyarakat memandang dunia gaib, ketakutan, serta dinamika sosial-budayanya. Meski berbeda latar, keduanya sama-sama menjadikan horor sebagai medium untuk menghadirkan hiburan sekaligus merefleksikan kondisi masyarakat.
Di Amerika Serikat, horor identik dengan tokoh-tokoh ikonik yang telah mendunia, seperti vampir pengisap darah atau drakula, zombie pemakan daging, dan monster jahat penyiksa. Karakter-karakter tersebut sering kali berakar pada mitologi Eropa dan tradisi literatur horor Barat. Popularitas tokoh-tokoh ini kemudian diperkuat oleh industri perfilman Hollywood yang mampu mengemas cerita horor dengan efek visual menakjubkan, menjadikannya daya tarik global. Horor Amerika cenderung menonjolkan aspek visual, efek kejutan (jump scare), dan simbolisasi ketakutan modern, seperti wabah, eksperimen sains yang gagal, atau kekuatan supranatural yang sulit dijelaskan.
Baca Juga: Petani Tebu Adukan ke DPR: 100 Ribu Ton Gula Menumpuk, Impor Bebas Dinilai Rugikan Produk Lokal
Sebaliknya, di Indonesia, horor sangat dipengaruhi oleh adat istiadat, kepercayaan lokal, serta kehidupan sehari-hari masyarakat. Tokoh-tokoh hantu dalam budaya Indonesia—seperti pocong, kuntilanak, tuyul, gendruwo, gundulpringis, hingga wewe gombel—merupakan figur yang lahir dari mitologi dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun. Sosok-sosok tersebut biasanya terkait erat dengan pengalaman masyarakat: kematian, kesedihan, balas dendam, maupun kepercayaan terhadap roh halus. Berbeda dengan horor Barat yang sering berhubungan dengan mitos asing bagi masyarakat Indonesia, tokoh hantu Nusantara terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga menimbulkan rasa takut yang lebih personal bagi penonton.
Jika ditelusuri lebih dalam, sastra horor Indonesia juga berfungsi bukan sekadar sebagai hiburan, tetapi juga sebagai cermin kehidupan sosial. Cerita-cerita horor yang mengangkat mitos lokal dapat memperkaya wawasan pembaca terhadap keberagaman budaya, adat, dan kepercayaan. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa sastra pada dasarnya adalah potret yang menangkap kenyataan, sekaligus refleksi budaya suatu masyarakat.
Dengan demikian, meskipun horor Hollywood dan horor Indonesia sama-sama berfungsi menghadirkan rasa takut dan hiburan, perbedaan mendasar terletak pada akar budaya, jenis tokoh, dan simbolisasi cerita. Horor Amerika lebih universal dan global dengan figur-figur yang mendunia, sementara horor Indonesia sangat kental dengan lokalitas dan kearifan tradisional yang mencerminkan keunikan budaya Nusantara. Justru perbedaan inilah yang menjadikan horor Indonesia memiliki potensi besar untuk tampil di kancah internasional, membawa kekayaan narasi lokal yang belum dikenal luas oleh masyarakat global.
Artikel Terkait
SIG dan Pemprov Jatim Perkuat Ekosistem Pesisir, 17.845 Mangrove Ditanam di Probolinggo
UNDIP Kirim 57 Tim Ekspedisi Patriot ke 13 Provinsi untuk Bangun Negeri
Alumni Akpol ’90 Gelar Pasar Murah di Semarang, Polri Hadir Ringankan Beban Warga
OJK Ajak Generasi Muda Biasakan Menabung, Dorong Indonesia Emas 2045
OJK Jateng Dorong UMKM dan Generasi Muda Melek Finansial Lewat Sosialisasi Pendanaan dan Puncak Bulan Literasi Keuangan
Dorong Literasi dan Inklusi Finansial, Danantara dan IFG Perkuat Sinergi Komunikasi
Penurunan Kualitas Komunikasi Papua Selatan dan Papua Tengah, Telkomsel Berikan Kompensasi Juga Percepat Perbaikan