Roma Kyo Kae Saniro
Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas
Sastra menjadi sebuah ilmu yang tidak hanya mempelajari sebuah tulisan yang dikenal dengan jenis bentuk puisi, prosa, dan drama. Berdasarkan pembabakan waktu, tiga bentuk tersebut terbagi menjadi dua waktu, yaitu tradisional dan modern (kontemporer). Dalam sastra tradisional, sastra sangat erat kaitannya dengan aturan-aturan yang mengikat. Berbeda dengan sastra modern yang tidak memiliki kaidah atau bebas. Hal ini menjadikan sastra modern lebih ‘cair’ dengan ilmu lainnya. Contoh perluasan sastra budaya (kontemporer): sastra maritim, sastra pariwisata, sastra agama, sastra musik, sastra rempah, sastra horor.
Sastra horor menjadi sebuah bagian dari sastra yang memiliki nilai horor atau mistis. Sebenarnya, sastra horor tidak hanya masuk ke kategori sastra kontemporer, tetapi juga sastra tradisional, seperti cerita Calonarang. Menurut Nevins (2020), cerita horor merupakan cerita yang memuat kengerian, tetapi sebenarnya, narasi-narasi yang terkandung di dalamnya tidak bertujuan untuk menakuti, tetapi untuk memberikan pesan, khususnya dalam lingkup sosiologi sastra. Jika ditilik dari kesejarahan cerita horor di Indonesia, cerita horor di Indonesia mengalami kejayaan pada tahun 1970-1990-an. Salah satu penulis yang terkenal pada masa tersebut adalah Abdullah Harahap yang mampu menyoroti kondisi sosial yang bercampur dengan kepercayaan lokal, seperti dukun, mitos, dan legenda yang hadir dan muncul di masyarakat.
Baca Juga: ODM UNDIP 2025: Cinta Laura Motivasi Mahasiswa Baru untuk Mandiri dan Visioner
Di tingkat global, minat terhadap genre horor mengalami perkembangan yang signifikan. Berdasarkan data Statista Consumer Insights (Oktober 2023–September 2024), tercatat sejumlah negara memiliki proporsi tinggi penduduk yang gemar mengonsumsi konten horor, baik berupa film layar lebar, serial televisi, maupun video daring.
Di urutan pertama, Meksiko dengan 49% respondens yang menyukai konten horor. Selanjurnya, Spanyol menempati posisi teratas dengan 41% respondens menyatakan bahwa mereka secara aktif menonton dan menikmati konten horor. Angka ini memperlihatkan betapa kuatnya budaya menonton horor di negara tersebut, yang kemungkinan dipengaruhi oleh tradisi panjang film horor dan thriller Spanyol yang dikenal di dunia internasional.
Baca Juga: Dorong Literasi dan Inklusi Finansial, Danantara dan IFG Perkuat Sinergi Komunikasi
Menyusul di posisi kedua adalah Amerika Serikat dengan 40%, yang menegaskan posisi negeri Paman Sam sebagai salah satu pasar film horor terbesar di dunia. Tingginya angka ini sejalan dengan performa horor di Box Office Amerika Utara, di mana film-film bergenre horor secara konsisten menembus jajaran film dengan pendapatan tertinggi. Di Jerman (38%), Afrika Selatan (37%), dan Inggris (36%), proporsi penonton horor juga tergolong tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa horor bukan hanya diminati di negara dengan industri perfilman besar, tetapi juga merata di berbagai belahan dunia, termasuk kawasan Eropa dan Afrika.
Sementara itu, di Prancis, angka tersebut lebih rendah, yaitu 30%, memperlihatkan bahwa meskipun horor memiliki basis penggemar, preferensi masyarakat Prancis terhadap genre lain masih lebih dominan. Menariknya, Cina justru mencatat angka yang jauh lebih kecil, menunjukkan bahwa konten horor belum menjadi konsumsi utama di negara tersebut. Hal ini bisa dikaitkan dengan faktor regulasi sensor, budaya menonton, serta preferensi masyarakat yang cenderung berbeda dibandingkan negara-negara Barat.
Baca Juga: SIG dan Pemprov Jatim Perkuat Ekosistem Pesisir, 17.845 Mangrove Ditanam di Probolinggo
Artikel Terkait
SIG dan Pemprov Jatim Perkuat Ekosistem Pesisir, 17.845 Mangrove Ditanam di Probolinggo
UNDIP Kirim 57 Tim Ekspedisi Patriot ke 13 Provinsi untuk Bangun Negeri
Alumni Akpol ’90 Gelar Pasar Murah di Semarang, Polri Hadir Ringankan Beban Warga
OJK Ajak Generasi Muda Biasakan Menabung, Dorong Indonesia Emas 2045
OJK Jateng Dorong UMKM dan Generasi Muda Melek Finansial Lewat Sosialisasi Pendanaan dan Puncak Bulan Literasi Keuangan
Dorong Literasi dan Inklusi Finansial, Danantara dan IFG Perkuat Sinergi Komunikasi
Penurunan Kualitas Komunikasi Papua Selatan dan Papua Tengah, Telkomsel Berikan Kompensasi Juga Percepat Perbaikan