Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Kalis Mardiasih, penulis dan aktivis perempuan yang selama ini dikenal lewat esai-esai sosial-budayanya, kini resmi meluncurkan novel debut berjudul Makamkan Ibu di Samping Ayah. Karya fiksi ini mengangkat tema keluarga, perceraian, dan trauma antargenerasi yang kerap tersimpan dalam ruang sunyi kehidupan masyarakat Indonesia. Diterbitkan oleh Shira Media, novel ini hadir sebagai drama keluarga yang sarat emosi sekaligus menawarkan pembacaan segar tentang hubungan orang tua dan anak di tengah dinamika keluarga modern. Peluncurannya bukan sekadar seremoni, tetapi juga menjadi ruang diskusi hangat mengenai isu yang makin relevan: bagaimana luka emosional diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kalis menjelaskan bahwa setiap generasi punya cara berbeda dalam memandang dunia, mulai dari pekerjaan, status sosial, hingga impian masa depan. Anak-anak masa kini tumbuh dengan realitas yang berbeda dari orang tua mereka, sehingga wajar jika cara pandang mereka tak selalu sejalan. Bahkan dalam satu keluarga, saudara kandung yang lahir dari rahim yang sama dan dibesarkan di lingkungan yang serupa belum tentu memiliki pengalaman emosional yang sama. Setiap anak punya hubungan unik dengan orang tuanya, yang akhirnya membentuk cara pandang masing-masing terhadap keluarga dan hidup. Fenomena inilah yang menjadi fondasi utama cerita novel ini.
Makamkan Ibu di Samping Ayah bermula dari sebuah wasiat yang mengejutkan. Seorang ibu yang sedang menjelang ajal meminta agar dirinya dimakamkan di samping mantan suaminya, pria yang telah lama meninggalkan keluarga dan membangun kehidupan baru dengan perempuan lain. Permintaan ini memaksa ketiga anaknya, Aji, Vikra, dan Lini, untuk menghadapi kembali masa lalu yang selama ini mereka kubur. Mereka tak hanya berhadapan dengan kehendak terakhir sang ibu, tetapi juga dengan luka, rahasia, kemarahan, dan pertanyaan-pertanyaan yang bertahun-tahun membayangi kehidupan keluarga. Lewat enam sudut pandang berbeda, Kalis merangkai narasi yang kompleks dan penuh kontradiksi. Tak ada tokoh yang sepenuhnya benar atau salah; setiap karakter punya alasan, luka, dan keterbatasannya sendiri. Aji digambarkan sebagai anak sulung yang sejak remaja dipaksa memikul tanggung jawab layaknya orang dewasa. Vikra memilih diam sebagai cara bertahan dari konflik yang tak pernah usai. Sementara Lini tumbuh tanpa banyak kenangan tentang ayah kandungnya, sehingga ia harus membangun pemahamannya sendiri dari cerita-cerita yang didengarnya.
Menurut Kalis, luka yang diwariskan orang tua kepada anak-anaknya tak selalu lahir dari kebencian atau niat buruk. Sering kali, luka itu muncul karena generasi sebelumnya pun tak pernah mendapat ruang untuk menyembuhkan diri. Ia menegaskan bahwa luka tersebut diwariskan bukan karena kebencian, melainkan karena mereka pun tidak pernah diajarkan cara menyembuhkannya. Tema luka generasional atau intergenerational trauma menjadi benang merah yang mengikat seluruh cerita. Novel ini mengajak pembaca memahami bagaimana pengalaman masa lalu orang tua dapat memengaruhi pola pengasuhan, hubungan keluarga, dan kondisi psikologis anak di masa depan. Dalam beberapa tahun terakhir, isu seperti toxic parenting, trauma keluarga, dan kesehatan mental makin santer diperbincangkan di media sosial. Konten-konten tentang masa kecil, hubungan dengan orang tua, hingga proses penyembuhan diri mendapat respons besar, menunjukkan bahwa banyak orang punya pengalaman serupa namun selama ini tak punya ruang untuk membicarakannya secara terbuka.
Puput Alvia dari Shira Media mengatakan bahwa relevansi isu keluarga menjadi alasan utama penerbit tertarik menghadirkan novel ini. Menurutnya, setiap pembaca pasti punya keluarga, sehingga mereka bisa merasa dekat dengan tokoh-tokohnya, baik sebagai anak pertama, kedua, maupun ketiga. Cerita ini ringan dibaca tetapi tetap menyimpan kedalaman emosi. Puput menilai banyak karya dengan tema berat disajikan secara kompleks sehingga tak selalu mudah diakses pembaca umum. Sebaliknya, novel ini hadir dengan bahasa yang lebih sederhana dan hangat, tanpa kehilangan substansi persoalan. Pembaca tak akan merasa digurui atau dipaksa memahami teori psikologi rumit; mereka justru diajak mengenali pengalaman hidup sendiri melalui perjalanan para tokoh.
Kehangatan cerita juga terlihat dalam sesi pembacaan dan diskusi sebelum peluncuran. Banyak peserta mengaku memiliki latar belakang keluarga yang mirip dengan tokoh-tokoh dalam novel, terutama mereka yang tumbuh dengan orang tua bercerai. Kalis mengungkapkan, hampir setiap sesi diskusi selalu menghadirkan cerita personal dari peserta yang merasakan dampak perceraian sejak kecil. Pengalaman ini menunjukkan bahwa persoalan keluarga retak ternyata jauh lebih dekat dengan kehidupan masyarakat daripada yang terlihat. Meski angka perceraian di Indonesia tergolong tinggi, pengalaman anak-anak yang tumbuh dalam keluarga bercerai masih jarang menjadi topik publik. Banyak keluarga menganggap perceraian sebagai aib yang harus disembunyikan, sehingga dampak emosional pada anak sering terabaikan.
Kalis mengingatkan bahwa seseorang yang menyimpan trauma keluarga tak selalu menunjukkan tanda-tanda lahiriah. Mereka tetap bisa bekerja, kuliah, bergaul, dan menjalani aktivitas sehari-hari seperti orang lain. Ia mengatakan bahwa banyak orang terlihat baik-baik saja, tetapi kita tak pernah benar-benar tahu beban emosional yang mereka bawa setiap hari. Melalui novel setebal 142 halaman ini, Kalis tak berusaha memberi jawaban sederhana atas persoalan keluarga. Sebaliknya, ia mengajak pembaca memahami bahwa keluarga adalah ruang penuh kompleksitas, kadang menjadi sumber luka namun tetap menjadi tempat yang ingin dirindukan. Dengan gaya bertutur yang jujur dan penuh empati, Makamkan Ibu di Samping Ayah menawarkan refleksi tentang pengampunan, penerimaan, dan keberanian menghadapi masa lalu. Novel ini menjadi cermin bagi banyak keluarga Indonesia yang selama ini menyimpan cerita, rahasia, dan luka yang tak pernah benar-benar dibicarakan. Lebih dari sekadar kisah perceraian, novel debut Kalis Mardiasih menyampaikan pesan bahwa penyembuhan tak selalu dimulai dengan mencari siapa yang salah, melainkan dari keberanian untuk memahami, mendengarkan, dan menerima bahwa setiap orang membawa luka yang tak selalu terlihat oleh orang lain.
Artikel Terkait
BGN Kaji Coret Siswa SMA dari Program MBG, Anggaran Rp270 Triliun Diarahkan ke Kelompok Prioritas
OJK Sita 41 Aset Senilai Miliaran Rupiah, Bongkar Dugaan Kredit Fiktif di BPRS Medan
Satgas PASTI Sikat Promosi Investasi Ilegal, Sejumlah Influencer Keuangan Diminta Hapus Konten
Polda Lampung Gelar Pasar Rakyat, Olahraga Bersama, dan Bakti Sosial Sambut Hari Bhayangkara ke-80
Bareskrim Polri Amankan DPO Jaringan Fredy Pratama, Ungkap Pengendali Keuangan Sindikat Narkotika Internasional