Semarang, SUARA PEMBARUAN – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Tengah menegaskan komitmennya untuk memperluas akses layanan keuangan, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala OJK Jateng, Hidayat Prabowo, dalam kegiatan Sosialisasi Alternatif Pendanaan UMKM di Kantor OJK Jateng, Rabu (20/8).
Hidayat menekankan bahwa UMKM adalah tulang punggung ekonomi nasional dengan kontribusi lebih dari 60 persen terhadap PDB dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja. Kehadiran Securities Crowdfunding (SCF) diharapkan dapat menjembatani UMKM dengan investor serta memperluas inklusi keuangan di Indonesia.
“OJK sebagai regulator berkomitmen mendorong terciptanya ekosistem pembiayaan yang sehat, inovatif, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat perlindungan konsumen. Kami juga terus menghadirkan instrumen-instrumen baru agar UMKM tumbuh mandiri dan berkontribusi bagi kesejahteraan bangsa,” ujarnya.
Kegiatan ini digelar melalui sinergi OJK Jateng bersama Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta Kadin Jawa Tengah. Acara berlangsung secara hybrid dengan 150 pelaku UMKM hadir langsung dan peserta lainnya mengikuti secara daring.
Hadir sebagai narasumber, Direktur Perizinan Perorangan, Profesi Penunjang, dan Lembaga Penunjang Pasar Modal OJK, Muhamad Adi Wijoyo, serta Bendahara Umum Asosiasi Layanan Urun Dana Indonesia (ALUDI), Yandhi Surya.
Adi menekankan bahwa layanan urun dana mampu memperluas akses permodalan bagi UMKM melalui pasar modal, dengan payung hukum dari POJK 17/2025. Sementara Yandhi menambahkan kisah sukses penerbit SCF di Jawa Tengah yang berhasil mengembangkan usaha, meningkatkan kepercayaan investor, serta memberi dampak positif pada penciptaan lapangan kerja.
Puncak Bulan Literasi Keuangan 2025
Selain sosialisasi SCF, OJK Jateng juga menggelar Puncak Bulan Literasi Keuangan 2025 bertajuk “Kolaborasi Ilmu & Kreativitas: Membangun Generasi Melek Finansial” pada Kamis (21/8).
Merujuk hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, tingkat inklusi keuangan mencapai 80,51 persen, sementara literasi keuangan berada di angka 66,46 persen.
Hidayat menyebut masih adanya kesenjangan tersebut menunjukkan masyarakat belum sepenuhnya memahami produk dan layanan keuangan yang digunakan. Oleh karena itu, dibutuhkan terobosan edukasi agar literasi keuangan semakin meningkat.
Pada kesempatan ini, OJK Jateng bersama mitra menyelenggarakan Investment Competition tingkat SMA/sederajat se-Jawa Tengah dan DIY. Kompetisi ini digelar sejak Mei hingga Agustus 2025 dengan berbagai tahapan, mulai dari stocklab, virtual trading, hingga final di Semarang yang diikuti 10 tim terbaik.
Tiga besar pemenang tahun ini adalah:
Juara 1 – SMA Negeri 10 Bantul
Artikel Terkait
OJK Cabut Izin Usaha BPR Disky Surya Jaya, LPS Putuskan Likuidasi
OJK Luncurkan Kampanye Nasional Anti-Scam: Satgas PASTI Perkuat Perlindungan Masyarakat dari Keuangan Ilegal
OJK: Kerugian Akibat Keuangan Ilegal Tembus Rp120 Triliun, Digitalisasi Picu Risiko Baru
OJK Beri Penghargaan kepada PNM atas Kiprah Literasi Keuangan di Financial Literacy Award 2025
OJK Ajak Generasi Muda Biasakan Menabung, Dorong Indonesia Emas 2045