Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN – Jogja National Museum kembali berdenyut sebagai pusat seni kontemporer saat ARTJOG 2026 resmi dibuka pada 19 Juni. Festival yang berlangsung hingga 30 Agustus ini mengusung tema besar ARS LONGA Trilogia, yang akan bergulir hingga 2028. Pada babak pertama bertajuk ARS LONGA: Generatio, ARTJOG menekankan pentingnya dialog antargenerasi, seraya mengingatkan bahwa seni bukan sekadar persoalan estetika—melainkan juga perlawanan, pengetahuan, dan penyembuhan. Di tengah ketidakpastian zaman, festival ini menghadirkan ruang inklusif bagi seniman lintas usia dan latar belakang untuk merajut gagasan bersama.
Roby Dwi Antono menjadi salah satu seniman yang diundang khusus untuk menerjemahkan tema tersebut melalui instalasi Generatio: Cyclus Vitae. Karyanya menyoroti luka yang diwariskan dari generasi sebelumnya, lalu membentuk identitas baru bagi generasi berikutnya. Dari fasad utama Vulnera hingga ruang imersif Rahim Kolektif dan Generatio Continua, Roby mengajak publik menyadari bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan katalis bagi kelahiran kembali. Sementara itu, Hiromi Tango menampilkan performans Living Thread—terinspirasi dari tali suci shimenawa dalam tradisi Jepang—yang mengikat generasi melalui partisipasi kolektif. ARTJOG juga memamerkan karya kolaboratif dari Alyakha Kolektif, Atreyu Moniaga Project, serta Dolorosa Sinaga bersama Kelas Aktivisme Seni, yang menegaskan pentingnya Dialogus sebagai jembatan antar generasi.
Segmen Prāctica memperlihatkan keragaman praktik seni kontemporer. Jessica Soekidi menghadirkan The Disco of Roots, yang menempatkan umbi-umbian sebagai arsip hidup pengetahuan tentang sejarah dan ketahanan pangan. Radi Arwinda Experience menjadi penghormatan atas perjalanan panjang seniman Bandung yang memadukan simbol budaya Cirebon dengan elemen populer. TEMPA, melalui riset artistik di Palu, menampilkan kain kulit kayu sebagai artefak budaya yang menyimpan spiritualitas dan ekologi. Semua ini memperlihatkan bagaimana seni mampu menembus batas ruang, waktu, dan generasi.
Namun, di luar panggung besar ARTJOG, ada denyut lain yang tak kalah penting. Sirin Farid Stevy bersama komunitas Paseduluran Nandur Banyu menghadirkan praktik seni yang berakar pada kehidupan sehari-hari. Mereka menekankan bahwa karya sejati lahir bukan dari sorotan media, melainkan dari interaksi nyata dengan masyarakat. Dari desa Gunungkidul, mereka membawa pengalaman tentang sampah, eksploitasi air, hingga aroma muletik yang lahir dari keseharian—semua menjadi simbol bahwa seni bukan sekadar pertunjukan, melainkan praktik berulang yang menjaga sumber kehidupan.
Farid Stevy menuturkan, “Kami tidak ingin karya berhenti di panggung atau galeri. Yang lebih penting adalah bagaimana praktik itu hidup di masyarakat, di sumber air, di pekarangan desa, di ruang-ruang yang sering dianggap sepele.” Ia menambahkan bahwa jarak psikologis dan budaya yang pernah ia rasakan sejak keterlibatan dalam Kacok 2021 justru menjadi pemicu untuk pulang—kembali ke sumber, kembali ke masyarakat. “Pulang itu tidak mudah, karena ada jarak yang tak bisa dijawab dengan kata-kata. Tapi melalui praktik kecil, bersih sumber, penanaman, kami mencoba menjawabnya,” ujarnya.
Selama dua setengah bulan ke depan, Paseduluran Nandur Banyu bersama masyarakat akan melanjutkan tradisi bersih sumber. Ketika musim hujan tiba, mereka menanam; ketika musim berganti, mereka membersihkan dan merawat mata air. Aktivitas ini bukan sekadar ritual ekologis, tetapi juga ajakan untuk kembali pulang, menghidupkan air, dan menjadikannya bagian dari narasi bersama. Farid Stevy menegaskan, “Yang paling penting adalah bagaimana kita bersama menjaga sumber, menghidupkan kembali air, dan menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari. Seni bagi kami adalah praktik yang terus berulang, bukan sekadar acara besar atau sorotan sesaat.”
Ia juga menekankan bahwa karya yang mereka lakukan adalah “karya sering”—praktik setiap saat, di luar panggilan media dan sorotan publik. “Kami tidak menunggu panggilan, tidak menunggu sorotan. Setiap hari, setiap momen, ada karya yang kami lakukan. Itu yang membuat seni hidup, bukan hanya di ruang pamer, tetapi di ruang-ruang kecil yang sering dilupakan.” Baginya, seni adalah cara merawat ingatan kolektif, mengikat masyarakat dengan sumber air, dan menumbuhkan kesadaran ekologis.
Kehadiran mereka seolah menjadi gema dari tema ARS LONGA: Generatio. Jika Roby Dwi Antono berbicara tentang luka antargenerasi, maka Paseduluran Nandur Banyu berbicara tentang ingatan ekologis yang diwariskan dari satu musim ke musim berikutnya. Jika Hiromi Tango mengikat generasi melalui tali suci, maka Farid Stevy mengikat masyarakat melalui air dan tanah. Keduanya sama-sama menegaskan bahwa seni adalah praktik keberlanjutan, bukan peristiwa sesaat. “Kami ingin masyarakat kembali mengunjungi sumber air, bersama merawatnya, dan menjadikannya bagian dari kehidupan. Itu adalah seni yang paling penting,” tutup Farid.
Performa ARTJOG yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation, IFI Yogyakarta, hingga Project Eleven Australia, menghadirkan musik elektro-pop Violet Indigo, jazz eksperimental Watchdog, serta kolaborasi lintas negara oleh Monica Lim, Patrick Hartono, dan Serenata Choir ISI Yogyakarta. Artistique Théâtre dari Prancis membawa Daughters of the Sea, sementara Densiel Lebang menyoroti ritual Toraja melalui Ma Bua’. Semua ini memperlihatkan bahwa seni pertunjukan di ARTJOG bukan hanya hiburan, melainkan refleksi sosial yang mendalam.
Dalam lanskap yang lebih luas, ARTJOG dan Paseduluran Nandur Banyu sama-sama menegaskan bahwa seni adalah ruang perjumpaan. Di satu sisi, ARTJOG menghadirkan dialog antargenerasi melalui instalasi, performans, dan riset artistik. Di sisi lain, Paseduluran Nandur Banyu menghadirkan praktik ekologis yang mengikat masyarakat dengan sumber air. Keduanya bertemu dalam gagasan bahwa seni adalah cara merawat kehidupan, menyulam ingatan, dan menumbuhkan harapan.
Dengan tema ARS LONGA: Generatio, ARTJOG 2026 membuka trilogi panjang hingga 2028. Namun lebih dari itu, ia membuka kesadaran bahwa seni bukan hanya milik galeri atau panggung besar, melainkan juga milik desa, sumber air, dan kehidupan sehari-hari. Seni adalah generasi yang terus lahir kembali—dari luka menjadi harapan, dari air menjadi kehidupan. Dan di Yogyakarta, kota yang selalu menjadi episentrum seni kontemporer, narasi ini menemukan rumahnya.
Sirin Farid Stevy, merangkai ARTJOG 2026 dengan praktik Paseduluran Nandur Banyu, menghadirkan seni sebagai ruang yang indah, penuh makna, dan berakar pada kehidupan.
Artikel Terkait
Kepala Imigrasi Jakbar Terjaring OTT KPK, Dugaan Suap Pengurusan KITAP-KITAS WNA Terungkap
Sabangi Pedagang Pasar Keyabi Nduga, Papua, Polwan Damai Cartenz Rajut Rasa Aman dan Nyaman
Bukan Cuma Angkat Senjata, Peran Ganda Satgas Damai Cartenz 2026 Dipuji Tokoh Papua
Pasar Kangen 2026 Tampilkan 300an Tenant, Didominasi Generasi Muda
Kepala Suku Besar Meepago Imbau Masyarakat Tidak Terprovokasi Isu Negatif Jelang 1 Juli