Kasus Kiai Cabul di Pati Memanas, Eks Pengikut Sebut Santri Sering Dicium hingga Dipeluk

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Minggu, 3 Mei 2026 | 17:16 WIB
Massa datangi Ponpes di Pati usai oknum kiai diduga lakukan pencabulan pada santriwatinya. (Instagram/ekosuswanto_mbahto)
Massa datangi Ponpes di Pati usai oknum kiai diduga lakukan pencabulan pada santriwatinya. (Instagram/ekosuswanto_mbahto)




Pati, SUARA PEMBARUAN – Kasus dugaan pencabulan yang menyeret seorang oknum kiai pengasuh Ponpes Ndholo Kusumo di Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, terus menjadi sorotan publik.


Situasi di lingkungan pondok pesantren memanas setelah pengasuh ponpes tersebut resmi ditetapkan sebagai tersangka kasus pencabulan terhadap sejumlah santriwati. Bahkan, muncul dugaan jumlah korban mencapai puluhan orang.


Kemarahan warga memuncak hingga berujung aksi unjuk rasa di sekitar pondok dan rumah tersangka pada Sabtu, 2 Mei 2026. Massa mendesak aparat penegak hukum menuntaskan kasus tersebut dan memberikan hukuman setimpal kepada pelaku.


Dalam aksi itu, seorang mantan pengikut tersangka bernama Shofi ikut angkat bicara. Ia mengaku pernah menjadi pengikut sejak 2008 hingga 2018 dan menyebut selama itu dirinya mengalami banyak kerugian, baik materi maupun tenaga.


“Dulu kerja gotong royong siang malam tanpa dibayar. Kalau punya uang malah diminta setor,” ujar Shofi kepada wartawan.
Ia mengaku pernah diminta berpura-pura mondok di tempat lain agar uang kiriman dari orang tuanya dapat diberikan kepada tersangka.


Menurut Shofi, jumlah kerugian yang dialaminya sulit dihitung karena selama bertahun-tahun ia terus menyerahkan uang untuk kepentingan pembangunan pondok.


“Tenaga juga habis. Bangun musala siang malam terus. Banyak yang mengalami hal sama,” katanya.


Tak hanya itu, Shofi mengaku pernah menjual tanah pada 2009 dan menyerahkan uang hasil penjualan sebesar Rp9 juta kepada tersangka.


Ia mengungkapkan, saat itu dirinya sangat mempercayai tersangka karena dianggap memiliki kemampuan spiritual luar biasa.


“Saya menganggap dia wali. Banyak hal yang katanya bisa diketahui lebih dulu,” ucapnya.
Shofi juga membongkar perilaku tersangka yang disebut kerap menciumi para santri maupun pengikutnya.


“Istri saya juga pernah dicium pipi kanan kiri, jidat sampai bibir. Banyak santri diperlakukan seperti itu, hampir semuanya,” ungkapnya.


Menurutnya, tindakan tersebut kerap dianggap wajar oleh para pengikut karena tersangka disebut memiliki kemampuan khusus dan mendapat penghormatan tinggi dari lingkungan pondok.


Selain itu, Shofi mengaku sering melihat tersangka merangkul santri perempuan saat berkumpul bersama.


Kasus dugaan pencabulan ini sebelumnya mencuat setelah delapan santriwati melapor kepada salah satu pengurus pondok. Laporan itu kemudian ditindaklanjuti Polresta Pati hingga menetapkan pengasuh ponpes sebagai tersangka.

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X