MADYA Apresiasi Presiden Prabowo Subianto atas Pembangunan Museum Marsinah dan Penghormatan terhadap Perjuangan Buruh Perempuan

Photo Author
Philipus Anton, Suara Pembaruan
- Sabtu, 16 Mei 2026 | 20:15 WIB
Joe Marbun Koordinator MADYA (ist)
Joe Marbun Koordinator MADYA (ist)

Jakarta, SUARA PEMBARUAN – Koordinator Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) sekaligus praktisi warisan budaya dan museum, Jhohannes Marbun, yang akrab disapa Joe Marbun, menyampaikan apresiasi kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto. Apresiasi ini diberikan atas dukungan dan perhatian Presiden terhadap pembangunan Museum Marsinah yang dinilai sebagai bentuk penghormatan negara terhadap sejarah perjuangan buruh Indonesia, terutama perjuangan buruh perempuan.

Menurut Joe Marbun, dukungan Presiden Prabowo terhadap Museum Marsinah menunjukkan adanya komitmen negara dalam merawat memori kolektif bangsa. Hal ini sekaligus memperkuat penghormatan terhadap nilai-nilai keadilan sosial, demokrasi, hak asasi manusia, serta perjuangan kaum pekerja di Indonesia.

"Kami memberikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto atas perhatian dan dukungannya terhadap pembangunan Museum Marsinah. Langkah ini penting dalam menghadirkan penghormatan negara terhadap sejarah perjuangan kaum buruh, khususnya buruh perempuan yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan demokrasi dan keadilan sosial di Indonesia," ujar Joe Marbun.

Ia menilai bahwa kehadiran Museum Marsinah bukan sekadar pembangunan fisik sebuah museum, melainkan sebuah ikhtiar kebudayaan untuk menjaga ingatan sejarah bangsa. Museum ini diharapkan menjadi ruang edukasi publik yang mampu membangun kesadaran sosial bagi generasi muda.

Marsinah dikenal sebagai simbol perjuangan buruh Indonesia setelah ia wafat pada tahun 1993 dalam perjuangannya membela hak-hak pekerja. Sosoknya kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah gerakan buruh nasional serta perjuangan hak asasi manusia di Indonesia.

Joe Marbun juga menekankan bahwa Museum Marsinah memiliki nilai strategis sebagai museum berbasis memori sosial dan kemanusiaan, yang menghadirkan narasi perjuangan rakyat dalam ruang kebudayaan nasional. "Museum Marsinah harus dimaknai sebagai ruang edukasi publik, ruang refleksi kebangsaan, dan ruang pengingat bahwa demokrasi, hak-hak pekerja, serta keadilan sosial diperoleh melalui perjuangan panjang dan pengorbanan," tambahnya.

Sebagai koordinator MADYA dan praktisi warisan budaya, Joe Marbun menegaskan bahwa museum modern seharusnya berkembang menjadi pusat pembelajaran publik yang inklusif, partisipatif, dan relevan dengan perkembangan zaman. Ia berharap Museum Marsinah dapat menjadi pusat edukasi, riset, dan literasi sejarah sosial yang mampu memperkuat kesadaran publik mengenai pentingnya penghormatan terhadap perjuangan rakyat dan nilai-nilai kemanusiaan.

"Kita membutuhkan lebih banyak museum yang menghadirkan narasi rakyat, narasi perjuangan, dan narasi kemanusiaan. Museum bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana bangsa ini membangun kesadaran untuk masa depan," jelasnya.

Joe Marbun juga berharap pengelolaan Museum Marsinah dilakukan secara profesional, berkelanjutan, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi serta kebutuhan edukasi masyarakat modern. Dengan begitu, museum ini dapat menjadi contoh bagi pengembangan museum tematik berbasis sejarah sosial di Indonesia.

Editor: Philipus Anton

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Romo Para Jomblo Itu Telah Berpulang…

Jumat, 3 Juli 2026 | 15:29 WIB
X