Oleh : Bram Hertasning
Logistik bukan sebuah barang baru, dalam benak penulis ini sebagai tulang punggung rantai pasok memastikan produk berada ditempat yang tepat, waktu yang tepat, dan biaya serendahnya.Baca Juga: Pembenahan Ruang Publik, PKL Taman Berkas Ditertibkan Pemkot Bengkulu
Bila kita coba tarik lebih jauh jejak jejak logistik bermula dari peradaban manusia pertama, ketika orang-orang menyadari kebutuhan untuk memasok dan memindahkan barang demi kelangsungan hidup.
Kekaisaran Mesir (3300 SM hingga 332 SM) mengembangkan teknik transportasi dan penyimpanan untuk menjaga pasokan makanan dan komoditas dasar yang stabil.Baca Juga: Sukseskan PSN Pendidikan, Pembangunan Sekolah Rakyat di Kota Bengkulu Dikebut
Kekaisaran Romawi (27 SM hingga 476 M) membangun jaringan jalur darat yang dikenal sebagai jalan Romawi untuk pengangkutan barang dan terutama pasukan di seluruh wilayahnya. Lalu salah satu jalur perdagangan yang paling terkenal, Jalur Sutra, menjadi penghubung utama antara Timur dan Barat dengan demikian selama berabad-abad logistik memasok kebutuhan kita sejak awal peradaban manusia.Baca Juga: Setia Sampai Akhir! Jeon Mido Pamer Still Cuts Menyentuh untuk ‘The King’s Warden’
Kembali kemasa sekarang peran logistik tetap sama, karena pentingnya hal tersebut Worldbank turut membuat alat analisa yang hasilnya sering digunakan dalam acuan pembuatan kebijakan, dan tolak ukur di seluruh dunia untuk industri logistik yang mereka namakan Logistics Performance Index (LPI).Baca Juga: Hadapi Cuaca Ekstrem, Pemprov Bengkulu Perkuat Mitigasi Teknis
Sayangnya, posisi Indonesia anjlok 17 peringkat dari peringkat 46 pada 2018, menjadi peringkat 63 tahun 2023, tentu ini bukan posisi yang bisa mengantarkan kita mendapatkan medali dan podium.
Pemerintah sebagai regulator tentu tidak tinggal diam, strategi pengembangan logistik seperti transformasi digital, layanan logistik, pengurangan biaya transportasi, optimalisasi pemanfaatan tol laut, penguatan konektivitas dimaksudkan sebagai upaya-upaya yang bertujuan untuk menurunkan biaya logistik nasional melalui pengembangan strategi yang komprehensif.Baca Juga: Apresiasi Kunjungan Wapres di Papua Pegunungan, Tokoh Gereja Baptis: Ajak Jaga Kamtibmas
Tren skor LPI Indonesia secara umum menunjukkan pertumbuhan yang positif, bahkan mulai menyusul peringkat LPI Filipina.
Dengan targetkan menurunkan biaya logistik dari 14,29% menjadi 8% dari Produk domestik bruto (PDB) tahun 2045, angka 8% sama dengan negara maju yang memiliki biaya logistik murah yakni 8% dari PDB tentu ini harus melibatkan berbagai variable seperti pengembangan berbagai Kawasan logistik yang terintegrasi dan mendorong penggunaan transportasi multimoda.Baca Juga: Shock! Anak SD Korea Selatan Tahun Ini Turun di Bawah 300 Ribu, Krisis Kelahiran Semakin Parah
Bicara tentang multimoda, empat undang undang transportasi mengamanatkan lewat Pasal 165 ayat (4) UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Pasal 55 UU No. 17 Tahun 2008 tantang Pelayaran, Pasal 191 UU No. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, dan Pasal 148 UU No. 23 Tahun 2007 tantang Perkeretaapian.
Darinya lahirlah PP No 8 Tahun 2011 tentang Angkutan Multimoda, lebih lanjut untuk melaksanakan ketentuan dalam PP, ditetapkanlah Peraturan Menteri Perhubungan PM 8 Tahun 2012.Baca Juga: Tokoh Adat Lanny Jaya Ajak Masyarakat Dukung Pembangunan Daerah
Dengan bukti risalah panjang tersebut mencerminkan bahwa ada intensi regulator untuk membuat ekosistem multimoda yang kuat dan efisien. Hal ini tidak membuat heran karena multimoda adalah strategi logistik yang membuka cakrawala juga memperluas cakupan.
Multimoda terbukti efektif dalam mengurangi kemacetan di jalur darat utama. Misalnya, penggunaan kereta api peti kemas dan kapal peti kemas dapat mengurangi kepadatan di Jalur Pantura hingga 47,97% dalam satu tahun pertama.Baca Juga: ARMY Kaget! Harga Tiket BTS World Tour 2026 Capai Jutaan, Soundcheck dan VIP Jadi Sorotan
Artikel Terkait
Debut di DPR, Dirut Baru KAI Bobby Rasyidin Ungkap Perjalanan dari Industri Pertahanan ke Transportasi Kereta Api
Transportasi Laut Lancar, Harga Pisang Kepok di Enggano Stabil
Hadapi Libur Natura, BPTD Bengkulu Gelar Rakor Kesiapan Operasi Transportasi
Mengurai Macet Jakarta: Saatnya Otoritas Transportasi Jakarta Raya Ambil Kendali
Kinerja Lalu Lintas dan SDM Transportasi: Celah Kebijakan yang Terabaikan