Dunia Pendidikan Kian Memprihatinkan, Butuh Regulasi yang Solutif

Photo Author
M Kiblat Said, Suara Pembaruan
- Sabtu, 2 Mei 2026 | 10:46 WIB
Misdalifah Suli, M.Pd
Misdalifah Suli, M.Pd

Oleh: Misdalifah Suli, M.Pd (Praktisi Pendidikan)

Tanggal 2 mei telah ditetapkan sebagai hari pendidikan Nasional. Ketetapan ini sudah berlangsung sejak tahun 1959 atau kurang lebih 67 tahun yang lalu. Keputusan ini dimaksudkan untuk mengenang jasa Ki Hajar Dewantara dan pentingnya pendidikan bagi generasi bangsa. Diharapkan perayaan Hardiknas tiap tahunnya bisa memberi wajah baru yang lebih baik kepada dunia pendidikan namun kenyataannya dunia pendidikan hari ini makin buram dan memprihatinkan.

Kasus demi kasus terus mencuat menimpa para pelajar ataupun para pengajar. Belum lama kita disajikan kasus 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) yang melakukan pelecehan secara verbal melalui grup chat (BBC.com, 15/4/2026). Ada juga kasus penghinaan kepada guru oleh beberapa siswa dari SMAN 1 Purwakarta, kasus ini melibatkan sembilan siswa yang melakukan tindakan tidak sopan dan mengacungkan jari tengah di kelas (Detik.com, 18/4/2026).

Kasus kecurangan dalam ujian, maraknya joki UTBK tak lupa mewarnai lembaga pendidikan negeri ini. Di kutip dari Kompas.com, kecurangan berupa praktik perjokian dalam Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) terungkap di Surabaya, Jawa Timur. Perjokian untuk meloloskan calon mahasiswa program studi kedokteran itu terungkap dalam UTBK-SNBT di tiga perguruan tinggi. Dua pelaku berhasil ditangkap (Kompas.com, 22/4/2026). Kasus yang melibatkan oknum guru juga ada, salah satunya guru PPPK SMP Sungai Jambi ditangkap usai mencabuli dua orang siswa di toilet sekolah (detik.com, 28/4/2026)

Kasus-kasus yang serupa atau kasus lain yang menimpa dunia pendidikan ini masih sedikit yang terekspos. Jika kita selami lebih dalam akan lebih banyak dan beragam kasus yang ditemukan. Kurikulum yang berubah-ubah tiap kali menteri berganti ternyata tak mampu membendung kondisi buruk dunia pendidikan hari ini. Kurikulum yang diterapkan telah gagal mencetak generasi intelektual yang beradab dan bermoral.

Kurikulum yang berasal dari sistem pendidikan sekuler kapitalistik akan menghasilkan output orang-orang yang ingin sukses instan tanpa mau berusaha secara serius, juga orang-orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang dalam jumlah yang besar.

Maraknya kasus di dunia pendidikan tak lepas juga dari sistem sanksi yang diadopsi oleh negeri ini. Sistem sanksi yang tidak menjerakan akan membuat para pelaku tidak menyesali perbuatannya, siswa yang hanya diberi sanksi ringan atas dasar masih dibawah umur akan terus melakukan perbuatan buruk bahkan lebih buruk dari sebelumnya.

Minimnya pendidikan nilai-nilai agama yang benar dalam pendidikan sekuler makin memperparah keadaan. Nihilnya nilai-nilai agama dalam kehidupan memperlebar ruang kebebasan yang akhirnya mengikis moral dan keluhuran akhlak bahkan para pelajar akan mudah terseret pada tindak kejahatan dan kemaksiatan.

Dengan demikian, butuh regulasi baru untuk memperbaiki kualitas pendidikan saat ini. Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan dan menjadikan uang sebagai orientasi utama yang biasa kita sebut dengan sistem sekulerisme kapitalisme merupakan biang kerok kebobrokan dunia pendidikan yang harus segera diganti. Satu-satunya sistem yang mampu memulihkan kondisi pendidikan hari ini adalah sistem Islam.

Dalam Islam, pendidikan merupakan hal penting dan mendasar yang wajib dijamin pemenuhannya oleh negara. Asas pendidikan dalam Islam adalah akidah Islamiyah. Asas inilah yang akan menuntun para pelajar dan pengajar untuk senantiasa menjaga sikap sebab segala perbuatan akan dimintai pertanggungjawab sehingga nantinya pendidikan Islam mampu menghasilkan insan kamil (manusia) yang cerdas sekaligus bertakwa.

Pendidikan dalam Islam memiliki tujuan yakni mencetak generasi yang bersyakhsiyah (kepribadian) Islam dimana para pelajar harus memiliki keselarasan antara pola sikap dan pola pikir yang islami. Nah, untuk mendukung keselarasan dibutuhkan peranan keluarga, masyarakat dan Negara.

Keluarga akan menjadi madrasahtul ula (madrasah pertama) bagi pelajar. Orang tua tidak boleh melimpahkan semua pendidikan anak hanya kepada pihak sekolah. Orang tua harus turun tangan langsung mendidik anak-anak mereka. Anak harus mengenal penciptanya dan memahami tujuan penciptaan dirinya. Keluarga juga harus memperkenalkan syariat Islam kepada si anak sejak dini agar si anak terbiasa dan tidak merasa asing akan aturan hidup yang mesti dijalani. Selain keluarga, peranan masyarakat juga sangat dibutuhkan. Masyarakat yang gemar amar makruf nahi mungkar akan menjadi sosial kontrol bagi pelajar.

Peranan yang tak kalah penting juga untuk membenahi dunia pendidikan adalah negara. Negara Islam akan membangun suasana hidup yang penuh ketakwaan dan mendorong setiap orang untuk berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan. Negara akan memberlakukan aturan yang berlaku bagi seluruh rakyat tanpa terkecuali. Aturan yang diberlakukan tentunya berpijak pada aqidah dan syariat Islam. Negara Islam akan menyusun kurikulum pendidikan yang berorientasi pada tujuan pendidikan Islam. Negara akan menyediakan anggaran dari baitul mal untuk membiayai sarana dan prasarana pendidikan. Para pengajar akan diberi upah yang layak agar mereka bisa fokus mentransfer ilmu dan mendidik para pelajar. Negara juga akan menerapkan sanksi yang tegas dan menjerakan bagi para pelaku kejahatan termasuk pelajar. Pelajar yang sudah masuk usia baligh akan diberi sanksi jika terbukti melakukan tindak kejahatan termasuk jika mereka melakukan penghinaan terhadap guru, terlibat pelecehan, melakukan kecurangan dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengembalikan kehidupan Islam dibawah naungan kepemimpinan Islam sebagai wujud keimanan dan ketaqwaan kita. Allah SWT telah berjanji akan menurunkan keberkahan jika kita bertaqwa padaNya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S Al Araf ayat 96 yang artinya: "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya". (*)

Editor: M Kiblat Said

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Rekomendasi

Terkini

Sapi Banpres dan Hikmah dari Dusun Ngumpul

Senin, 1 Juni 2026 | 11:20 WIB

Kebijakan Penghematan BBM dari Sisi Transportasi

Senin, 13 April 2026 | 07:05 WIB

“Untal Malang” ke Otonomi Guru

Jumat, 10 April 2026 | 14:27 WIB

Quo Vadis Tata Kelola PNBP Kepelabuhanan

Rabu, 1 April 2026 | 10:24 WIB
X