Catatan Dibalik Rencana Kereta Api di Tanah Papua: Tidak Ada Perubahan Besar yang Lahir Tanpa Sebuah Mimpi

Photo Author
Muhammad Cholid, Suara Pembaruan
- Jumat, 17 April 2026 | 08:59 WIB
Gubernur Papua Mathius Juru Bicara Gubernur Fakhiri dan Rifai Darus (Istimewa)
Gubernur Papua Mathius Juru Bicara Gubernur Fakhiri dan Rifai Darus (Istimewa)

DALAM masa kampanye, Gubernur Papua pernah menyampaikan sebuah visi tentang masa depan Papua yang lebih maju. Sebuah mimpi besar: menghadirkan infrastruktur modern seperti jalan tol dan kereta api agar konektivitas wilayah Papua semakin kuat dan pembangunan ekonomi semakin terbuka.

Banyak orang mungkin menganggap itu sebagai mimpi besar yang akan sangat sulit direalisasikan.
Namun dalam perjalanan waktu, mimpi itu perlahan menemukan jalannya.

Memang penting untuk dipahami bahwa gagasan tentang konektivitas besar di Tanah Papua bukanlah gagasan yang lahir tanpa dasar. Ia adalah bagian dari mata rantai pemikiran para pemimpin Papua dari masa ke masa yang sejak lama memikirkan bagaimana membuka keterisolasian wilayah dan menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi rakyat Papua.

Dalam konteks itulah, langkah yang diambil oleh Gubernur Papua Komjen Pol (Purn) Matius D. Fakhiri (MDF) hari ini juga dapat dipahami sebagai melanjutkan mimpi besar para pendahulu.

Kita mengenang bahwa pada masa kepemimpinannya, Gubernur Barnabas Suebu (Kaka Bas) juga pernah memasukkan gagasan tentang kereta api di Tanah Papua sebagai bagian dari rencana program besar pembangunan masa depan Papua.

Demikian pula Almarhum Lukas Enembe (LE) yang telah meletakkan fondasi penting melalui perjuangan pembangunan Jalan Lintas Papua yang layak, sebagai tulang punggung konektivitas darat yang membuka akses antar wilayah di Papua.

Karena itu, apa yang dilakukan hari ini oleh Gubernur MDF sesungguhnya adalah melanjutkan mimpi para pendahulu, yang kemudian disesuaikan dengan kebutuhan zaman, perkembangan teknologi, serta kondisi kekinian Papua.

_Sebab dalam kepemimpinan, seorang pemimpin memang boleh bermimpi besar. Namun mimpi itu tidak boleh berhenti sebagai angan-angan. Tugas seorang pemimpin adalah memastikan langkah-langkah nyata agar mimpi tersebut perlahan menjadi kenyataan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh rakyat._

Pada awal tahun 2026, dalam sebuah pertemuan antara Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dengan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia, Presiden menyampaikan sebuah pandangan penting:

Bahwa dalam sejarah dunia, kehadiran kereta api sering menjadi tanda lahirnya sebuah peradaban baru._

Presiden kemudian bertanya:
"Di wilayah mana negara bisa hadir mulai menghadirkan jalur kereta api baru? Diluar Pulau Jawa”.

Secara spontan, Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyebut Provinsi Papua dengan Jayapura sebagai titik awalnya.

Bagi banyak orang, momentum ini terasa seperti sebuah jalan yang telah disiapkan oleh Tuhan untuk Papua.

Seolah mimpi yang pernah disampaikan Gubernur Papua dalam visi dan misinya, dibawa Tuhan sampai ke hati Presiden Republik Indonesia.
Dan dari sanalah lahir sebuah keputusan besar:
negara mulai membuka jalan untuk menghadirkan kereta api di Tanah Papua.

Langkah awal itu kemudian ditindaklanjuti melalui pertemuan antara Gubernur Papua bersama tim pemerintah daerah dengan Direktur Utama KAI beserta jajaran timnya pada 14 April 2026 di Jakarta.

Halaman:

Editor: Roberth Vanwi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Rekomendasi

Terkini

Sapi Banpres dan Hikmah dari Dusun Ngumpul

Senin, 1 Juni 2026 | 11:20 WIB

Kebijakan Penghematan BBM dari Sisi Transportasi

Senin, 13 April 2026 | 07:05 WIB

“Untal Malang” ke Otonomi Guru

Jumat, 10 April 2026 | 14:27 WIB

Quo Vadis Tata Kelola PNBP Kepelabuhanan

Rabu, 1 April 2026 | 10:24 WIB
X