Jurnalisme di Tengah Riuh Zaman: Antara Kecepatan, Etika, Kekuasaan dan Nurani

Photo Author
Bangun P Lubis, Suara Pembaruan
- Senin, 9 Februari 2026 | 14:25 WIB
Bangun Lubis, M.Si
Bangun Lubis, M.Si

Baca Juga: Turmini Tenis Meja Gelapa Series 2 2026 Siap Digelar, Pertoe Siap Jadi Tuan Rumah yang Baik

Dalam situasi seperti ini, peran wartawan senior justru semakin penting. Pengalaman bukan sekadar nostalgia, melainkan kompas moral. Wartawan yang telah melewati berbagai rezim, krisis, dan perubahan teknologi memiliki kejernihan yang tidak bisa digantikan algoritma. Mereka menjadi penyeimbang di tengah euforia digital, pengingat bahwa jurnalisme adalah amanah publik, bukan sekadar industri konten.

Jurnalisme tidak akan mati. Ia hanya sedang diuji—oleh teknologi, pasar, dan kekuasaan. Sejarah mencatat, setiap zaman memiliki tantangannya sendiri.

Baca Juga: Februari Istimewa di Meruorah Labuan Bajo: Perpaduan Budaya, Kuliner, dan Kehangatan Hati

Jika dahulu wartawan berhadapan dengan sensor dan tekanan politik, hari ini ia berhadapan dengan algoritma, modal, dan kepentingan yang lebih kompleks. Namun nilai dasarnya tetap sama: kebenaran, keberimbangan, dan kemanusiaan.

Di tengah riuh zaman, wartawan sejati dituntut untuk lebih tenang. Tidak hanyut oleh arus, tidak silau oleh angka, dan tidak lupa tujuan. Karena pada akhirnya, berita bukan hanya tentang apa yang terjadi hari ini, tetapi tentang bagaimana sejarah kelak mencatatnya. Dan di situlah jurnalisme menemukan kembali martabatnya—ketika ia tetap berdiri tegak, meski dunia berlari terlalu cepat.

.

Halaman:

Editor: Bangun P Lubis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB
X