Karanganyar, SUARA PEMBARUAN — Di ketinggian lebih dari 3.000 meter di atas permukaan laut, di tengah dinginnya kabut dan sunyinya jalur pendakian Gunung Lawu, ada satu nama yang tak pernah absen dari cerita para pendaki: Mbok Yem.Baca Juga: Bongkar Sisi Lain Skandal OCI: Mantan Pawang Gajah Ungkap Sifat Asli Bos Taman Safari
Kini, sang penjaga warung legendaris itu telah berpulang.
Mbok Yem — atau Wakiyem — tutup usia pada Rabu, 23 April 2025, di usia 82 tahun. Kabar duka itu turun seperti kabut pagi di lereng Lawu, menyelimuti hati mereka yang pernah singgah di warungnya, menyeruput teh hangat, dan menemukan pelukan keibuan di puncak dunia.Baca Juga: Paus Fransiskus Akan Dimakamkan di Santa Maria Maggiore: Ini Jadwal dan Proses Pemakamannya
Mbok Yem bukan sekadar penjual makanan. Ia adalah legenda hidup, perempuan tangguh yang memilih mengabdi di atap Jawa, tempat banyak orang mendaki untuk mencari makna, keheningan, dan mungkin, secangkir kehangatan di tengah dingin yang menggigit.Baca Juga: Tiga Peti, Satu Jiwa: Pemakaman Paus Fransiskus dan Simbol-Simbol Abadi di Ujung Hidup Sang Gembala
Warung kecilnya berdiri kokoh di dekat puncak Hargo Dumilah, menjadi titik istirahat terakhir sekaligus oase bagi jiwa-jiwa lelah yang hampir menyerah. Di situlah, teh manis, mie hangat, dan senyum tulus Mbok Yem menjadi penghibur paling sederhana — dan paling berarti.Baca Juga: Kepergian Paus Fransiskus Duka Bagi Tanah Papua
Sejarahnya dimulai dari langkah-langkah kecil di tahun 1980-an. Awalnya hanya perempuan desa biasa dari Gonggang, Poncol, Magetan, yang naik ke hutan Lawu untuk mencari bahan jamu. Tapi dari ketekunan itu, tumbuhlah warung yang menjadi saksi bisu ribuan langkah kaki dan cerita pendakian.
Ia hidup bersahaja, jauh dari gemerlap kota, tapi keberadaannya justru menyentuh ribuan jiwa. Banyak pendaki menganggap warung itu rumah kedua, dan Mbok Yem sebagai ibu gunung — pelindung yang tak pernah minta balas jasa.Baca Juga: Bank Bengkulu Siap Dukung Program Pemkab Benteng Sediakan Rumah Tanpa DP bagi ASN dan Masyarakat
Ketika tubuhnya melemah pada Februari lalu, ia harus turun gunung lebih awal dari biasanya — dibantu enam orang menandu tubuh renta yang sudah tak sanggup lagi menapaki jalur yang dulu begitu akrab. Ia dirawat di rumah sakit, sempat membaik, lalu kembali melemah hingga akhirnya berpulang.
Jenazahnya disemayamkan di kampung halaman, Dusun Dagung, Desa Gonggang, tempat yang jauh lebih rendah dari langit tempat ia biasa bermukim, tapi penuh cinta dari keluarga dan tetangga.Baca Juga: Warga Batu Lugun Semangat Bentuk Koperasi Merah Putih
Mbok Yem telah pergi. Tapi jejaknya tetap abadi. Dalam setiap cerita yang dibisikkan dari mulut ke mulut, dalam aroma teh hangat yang mengingatkan pada pelukannya, dan dalam setiap langkah pendaki yang berhenti sejenak untuk mengenang sosoknya di ujung langit.
Ia tidak hanya menjual makanan, ia menghidangkan kasih sayang. Ia tidak hanya menunggu pelanggan, ia menemani perjalanan spiritual.Baca Juga: CITCOM CONNEXT 2025 Satukan Pemerintah, Komunitas, dan Dunia Usaha Bahas Masa Depan AI di Indonesia
Kini, surga kecil di atas awan itu kehilangan penjaganya. Tapi kisah Mbok Yem akan terus hidup, menyatu dengan Lawu, menyapa setiap jiwa yang mendaki — dalam sunyi, dalam doa.*
Artikel Terkait
Satu Pendaki Meninggal Satu Belum Ditemukan
9 Pendaki Naik Gunung Marapi secara Ilegal, BKSDA Sumbar Akhirnya Tutup Permanen Jalur Wisata
Dua Jenazah Pendaki Puncak Yang Meninggal di Cartenz Diterbangkan ke Jakarta
Ini Kronologi 2 Wanita Pendaki Meninggal Dunia di Puncak Carstensz, Fiersa Besari: Terjebak di Area Tebing
Warung Legendaris di Puncak Lawu Sepi Setelah Kepergian Mbok Yem, Sang Penjaga Negeri Awan