IRWAN HIDAYAT mungkin tak pernah bercita-cita menjadi pebisnis jamu. Ternyata takdir membawanya menjadi nakhoda sukses Sido Muncul, perusahaan keluarga yang kini telah menjadi ikon industri jamu nasional dan internasional. Dalam menjalankan roda perusahaan, dia menganut sebuah filosofi menghargai hidup dan keterampilan meyakinkan orang lain sebagai kunci suksesnya.Baca Juga: Efisiensi Anggaran, OPD Lingkup Pemprov Bengkulu Segera Dirampingkan
Meski awalnya enggan, Irwan kini dikenal sebagai pengusaha yang sukses mengantarkan Sido Muncul keluar dari krisis utang. Bahkan menjelma menjadi raksasa farmasi tradisional.
Keberhasilan itu kini membuat Irwan dan keluarganya tercatat dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia versi Forbes 2024, dengan total kekayaan sekitar Rp 18,6 triliun. Bersama dengan keempat saudaranya, ia menjaga keberlangsungan warisan sang nenek, Rakhmat Sulistio, perintis jamu Tolak Angin sejak 1930.Baca Juga: Gubernur Helmi Hasan Lantik Riduan sebagai Komisaris Independen Bank Bengkulu
Irwan menekankan pentingnya konsensus dalam setiap keputusan bisnis. “The art of convincing” menurutnya bukan sekadar teknik persuasi, melainkan sebuah seni membangun kesepahaman. Irwan percaya, keberhasilan dalam mengelola perusahaan keluarga juga disebabkan oleh semangat kekeluargaan. Ditambah lagi dengan menjunjung nilai-nilai seperti kejujuran serta kreativitas, meski ia dan saudara-saudaranya tak pernah mengenyam pendidi-kan formal yang tinggi.Baca Juga: Pemprov–Polda Bengkulu Satukan Langkah Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Bencana
Dalam keseharian, Irwan selalu menampakan kesederhanaan dan keterbukaan. Tak jarang dia kerap berbincang dengan pengunjung restoran miliknya yang juga menyajikan menu berbasis jamu. Bahkan, ketika ditanya apakah dirinya rutin minum jamu, Irwan langsung menunjukkan bukti. Rutinitasnya: kunyit di pagi hari, temu lawak di sore hari.Baca Juga: Hadiri Konferda PDI-P Bengkulu, Ribka Tjiptaning Kagumi Semangat Nasionalisme Gubernur Helmi
Perjalanan Irwan di Sido Muncul dimulai sejak 1969. Salah satu titik balik besar terjadi pada 1972, ketika perusahaan nyaris bangkrut akibat utang Rp 46 juta. Solusinya datang dari jamu kewanitaan Amor yang berhasil diselamatkan lewat iklan radio. Kreativitas Irwan, termasuk memotret kemasan produknya sendiri, berperan besar.Baca Juga: Pertamina Dukung One Day Trail Troff Hasanuddin Jelajah Butta Pangrannuangku
Irwan tak pernah melupakan orang-orang yang berjasa dalam hidupnya. Foto pengasuhnya, Cie Berta, terpajang di dokumentasi sejarah perusahaan. Ia pun selalu mendoakan para pengasuh dan leluhurnya. Hal ini menunjukkan kepedulian personal yang jarang ditemukan dalam dunia bisnis.
Pada tahun 1985, Irwan mulai mempertanyakan mengapa jamu tidak bisa setara dengan obat modern. Dia lantas mengubah haluan Sido Muncul ke pendekatan berbasis sains. Puncaknya, pabrik modern berstandar farmasi seluas 30 hektar dibangun di daerah Klepu, Ungaran. Dan sejak tahun 2000, Sido Muncul mengantongi sertifikat CPOTB dan CPOB.Baca Juga: Sekolah Adat Tunggu Tubang Warga Semende Ulu Nasal Diresmikan
Sebuah langkah berani juga diambil dengan menjalani uji klinis pada jamu. Uji toksisitas pada 2006 membuktikan Tolak Angin aman dikonsumsi jangka panjang. Dua tahun kemudian, uji farmakologi pun menunjukkan khasiatnya dalam meningkatkan daya tahan tubuh. Istilah “masuk angin” pun dijelaskan secara ilmiah sebagai gejala awal turunnya imunitas.Baca Juga: Gubernur Helmi Hasan Kukuhkan Sugimulyo Kepala Perwakilan BPKP Provinsi Bengkulu
Pertemuan Irwan dengan Prof Iwan Darmansjah, farmakolog ternama, menjadi momen penting. Dulu Prof Iwan menolak gagasan jamu diuji klinis, namun setelah melihat sendiri pencapaian Sido Muncul, ia memberikan apresiasi. Sejak itu, Irwan makin percaya diri berbicara soal jamu di forum medis dan menjadi pembicara di berbagai fakultas kedokteran.Baca Juga: Seminar Rohani Kristen di Gesba Makassar, Hadirkan Pembicara Pdt. Dr Immanuel Darsana, M.Th
Pada 2024, Irwan dianugerahi gelar doktor kehormatan (HC) dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) berkat kontribusinya dalam memasarkan jamu tanpa campuran bahan kimia. Ia juga berhasil membawa Sido Muncul ke lantai bursa pada 2013, dan memperoleh sertifikasi halal untuk ratusan produknya.
Meski kini dikenal sebagai tokoh penting di dunia jamu, masa muda Irwan penuh kejutan. Dia sempat bercita-cita menjadi arsitek. Kuliah hukum hanya sehari, lalu berhenti gara-gara ditegur dosen perihal gaya berpakaian. Dia juga mengaku pernah salah berjabat tangan dengan ajudan menteri karena gugup, cerminan dari rasa tidak percayanya dulu menghadapi publik.Baca Juga: Tablik Akbar di Balai Raya Semarak Dihadiri Ribuan Masyarakat Bengkulu
Kini Irwan sukses mengubah citra jamu menjadi bagian dari gaya hidup kelas menengah atas. Ia juga merambah ke bisnis herbal, farmasi, kuliner, dan perhotelan, termasuk membangun Hotel Tentrem. Semua dilakukan dengan modal utama: kepercayaan orang lain.Baca Juga: Sarfas Pengisian Bahan Bakar Pesawat di Manado Dipastikan Siap dan Andal
Irwan lantas menutup kisah hidupnya dengan mengutip satu pepatah Tiongkok kuno: “Seratus kali diceritakan tak sebanding dengan sekali melihat.” Ia telah membuktikan bahwa keberhasilan bukan hanya soal warisan, tetapi tekad, strategi, dan rasa hormat pada hidup dan sesama.*Baca Juga: Menanam Doa di Bumi Gunungkidul, FKY 2025 Ditutup dengan Ritus Syukur dan Harapan
Artikel Terkait
Ummi Salamah Sukses Jual Jamu Hingga Mancanegara Berkat Pendampingan Rumah BUMN SIG
Sambut 100 Bakul Jamu Gendong, Irwan Hidayat: Budaya Minum Jamu Jadi Gaya Hidup Sehat Masa Kini
Jamu Gubernur, Wagub dan seluruh Kepala Daerah Terpilih se-Sulsel, Mentan Ajak Kolaborasi untuk Jadi Pemimpin Terbaik
Irwan Hidayat : Bakul Jamu Gendong Ujung Tombak Pelestarian Jamu
Sido Muncul Dorong Saintifikasi Jamu