Kisah Yusmar, Pemuda Asal Sabu Raijua Lolos Tanpa Tes dan Kuliah Gratis di UGM

Photo Author
Philipus Anton, Suara Pembaruan
- Senin, 13 Juli 2026 | 16:35 WIB
Yusmar terima penghargaan dari sekolah dok. Humas UGM
Yusmar terima penghargaan dari sekolah dok. Humas UGM

Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Mimpi untuk menggapai pendidikan tinggi seakan terasa begitu mustahil bagi Julian Yusmar Dima Huda (18). Di rumah panggung berdinding anyaman bambu dengan tiang berbahan kayu lontar di Desa Raenalulu, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, Yusmar terpaksa tumbuh dibesarkan tanpa kehadiran kasih sayang kedua orang tuanya. Sang ayah telah meninggal dunia saat usianya baru menginjak 1 tahun. Sedangkan ibunya telah membangun kehidupan baru di daerah lain. Sejak saat itu, Yusmar diasuh oleh kakek dan neneknya di tengah segala keterbatasan.


Sang kakek, Rehabeam Wadu Dima (75) bekerja sebagai petani, sementara sang nenek, Welmintje Wila Magga (67) berjualan kue untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka. Putra sulung sekaligus cucu pertama di keluarganya itu mengaku bahwa kesempatan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi bukanlah hal yang ia rencanakan karena keterbatasan kondisi ekonomi keluarga. Akan tetapi, perubahan besar terjadi ketika ia duduk di kelas 12 SMA saat ia mengikuti Duta Siswa Indonesia. Pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya terhadap pendidikan dan membuatnya yakin bahwa dirinya juga memiliki kesempatan untuk berkuliah. “Dari situ, saya benar-benar terbuka pikiran bahwa pendidikan itu sangat penting, apalagi untuk melanjutkan ke perguruan tinggi,” tuturnya saat diwawancarai, Senin (13/7).


Semasa di bangku SMA, Yusmar dikenal aktif mengikuti berbagai kegiatan. Ia aktif mengikuti organisasi pramuka dan pernah dipercaya menjadi wakil ketua OSIS. Memasuki kelas 12 SMA, ia mulai memberanikan diri mengikuti berbagai kompetisi. Setelah dua tahun menunggu kesempatan ditunjuk mewakili sekolah namun tak kunjung datang, ia memutuskan untuk mendaftarkan diri secara mandiri pada sejumlah ajang, di antaranya Duta Siswa Indonesia dan beberapa olimpiade. “Selama dua tahun saya menunggu dipilih guru untuk ikut lomba, tapi tidak pernah dapat kesempatan. Akhirnya pada saat kelas 12 saya tidak mau menyesal, jadi saya mulai daftar sendiri ikut berbagai lomba,” terangnya.


Padatnya aktivitas organisasi tidak membuatnya mengabaikan prestasi akademiknya. Ia menerapkan manajemen waktu dengan menyusun skala prioritas antara kegiatan organisasi dan belajar. Karena sebagian besar waktu selepas sekolah hingga malam digunakan untuk menjalankan aktivitas organisasi, ia memilih belajar pada dini hari. “Hampir setiap hari saya bangun sekitar pukul 04.00 hingga 05.00 untuk membaca kembali materi yang akan dipelajari di sekolah. Pagi hari menjadi waktu paling efektif untuk memahami pelajaran karena kondisi tubuh dan pikiran masih segar,” tuturnya.


Di balik keberhasilannya, tersimpan perjuangan sang kakek dan nenek yang telah membesarkannya sejak kecil. Keduanya tidak pernah mengenyam pendidikan formal dan hidup sebagai petani. Keterbatasan tersebut turut mempengaruhi akses pendidikan yang diterimanya semasa kecil. Ia mengaku baru lancar membaca ketika duduk di kelas 5 SD dan baru mendapatkan pelajaran Bahasa Inggris saat memasuki jenjang SMA. Menyadari keterbatasan itu, ia berupaya mengejar ketertinggalannya dengan belajar secara mandiri melalui telepon genggam yang dimilikinya sejak masa pandemi Covid-19. “Saya dulu baru bisa membaca waktu kelas 5 SD karena memang tidak ada yang mengajari. Opa dan Oma juga tidak sekolah, bahkan tidak bisa bahasa Indonesia. Waktu pandemi Covid-19 baru punya handphone, dari situ saya berkomitmen untuk serius belajar,” jelasnya.


Sejak di SMA, ia sudah berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan tinggi pada program studi Ilmu Komunikasi bukan tanpa alasan. Sebelum menentukan program studi, ia lebih dahulu mengenali minat dan kemampuan dirinya. Ia menyadari bahwa dirinya senang berkomunikasi serta aktif membuat konten di media sosial, sehingga ia melihat prospek kerja lulusan Ilmu Komunikasi sesuai dengan cita-citanya.


Sementara itu, ia memilih melanjutkan pendidikannya di UGM karena ingin keluar dari zona nyaman dan membuktikan bahwa anak-anak dari daerah 3T juga mampu bersaing di perguruan tinggi terbaik di Indonesia. “Saya suka berkomunikasi, suka membuat konten di media sosial. Jadi Ilmu Komunikasi benar-benar sesuai dengan minat saya. Saya juga punya prinsip ingin keluar dari zona nyaman dan ingin membuktikan bahwa kita yang berasal dari daerah terpencil juga bisa bermimpi dan kuliah di kampus besar seperti UGM,” jelasnya.


Melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), Yusmar akhirnya dapat diterima di program studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM. Kabar bahagia semakin sempurna setelah ia pada akhirnya berkesempatan memperoleh beasiswa UKT pendidikan unggul bersubsidi 100% atau kuliah gratis di UGM.


Menutup perbincangan, ia berpesan kepada teman-teman yang tengah berjuang meraih pendidikan tinggi agar tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti bermimpi. Menurutnya, keberanian untuk mencoba menjadi langkah awal dalam mewujudkan cita-cita. Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh nilai yang tinggi, tetapi juga oleh strategi, ketekunan, dan kemauan untuk terus belajar. “Nikmati prosesnya, jangan hanya mengejar hasilnya saja. Jangan mengecilkan mimpi kalian hanya karena berasal dari daerah 3T atau memiliki keterbatasan ekonomi. Kalau ingin lolos SNBP, siapkan strategi yang matang dan percaya pada usaha serta doa,” pungkas Yusmar.

Editor: Philipus Anton

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X