Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Andini Dwi Lestari masih mengingat jelas detik-detik menegangkan pada 31 Maret 2026. Di tengah rasa cemas menanti hasil pengumuman Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP 2026), siswi asal Cirebon tersebut bersama sang ibu, Siti Patonah, terus memanjatkan doa sambil berharap namanya tercantum sebagai mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada.
Saat tanda biru muncul di layar, pertanda dirinya diterima di Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), tangis haru pun langsung pecah. Perjuangan panjang dan impian yang ia pupuk sejak kecil akhirnya menjadi kenyataan.
“Deg-degan bakal diterima atau tidak, kalau belum diterima saya harus mengejar lagi untuk belajar, berjuang di SNBT. Begitu melihat biru, saya langsung bersyukur dan menangis memeluk ibu,” ungkap Andini saat ditemui di kediamannya belum lama ini.
Kabar bahagia tersebut segera disampaikan kepada kakaknya yang merupakan alumni Teknik Fisika UGM. Sementara sang ayah, Suryanto, saat itu masih bekerja di sebuah bengkel mobil di kota Cirebon baru mengetahui kabar tersebut saat pulang bekerja.
“Bapak langsung memeluk saya. Beliau bilang rasanya campur aduk dan sangat lega,” tutur Andini.
Mengejar Impian
Keinginan untuk berkuliah di UGM sebenarnya telah tumbuh sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Sosok sang kakak yang lebih dahulu menempuh pendidikan di UGM menjadi inspirasi sekaligus motivasi bagi dirinya untuk mengikuti jejak yang sama.
Selain reputasi akademik yang baik, Andini memilih UGM karena lingkungan belajar yang berkualitas dan jaringan alumni yang luas yang diyakininya dapat mendukung pengembangan karier di masa depan.
Ketertarikannya pada bidang ekonomi dan bisnis telah tumbuh sejak lama. Ia bercita-cita menjadi seorang pengusaha sehingga memilih Program Studi Manajemen sebagai tempat untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya.
Konsisten Berprestasi
Dalam perjalanan akademiknya, Andini dikenal sebagai siswa yang konsisten berprestasi. Sejak SD hingga SMA, ia beberapa kali meraih peringkat pertama di kelas. Di SMA, tepatnya SMA 1 CIrebon, ia berhasil menjadi peringkat pertama paket IPS dan dinyatakan sebagai siswa eligible pertama. Ia juga pernah mengikuti Olimpiade Sains Nasional tingkat Kota Cirebon bidang Ekonomi pada tahun 2025.
Menurut Andini, kunci untuk menjaga prestasi adalah kemampuan mengatur waktu dan menentukan prioritas. Ia selalu berusaha menyeimbangkan waktu belajar, bermain, dan kegiatan lainnya.
“Saya juga selalu mengingat mimpi jangka panjang saya untuk menjadi pengusaha sehingga lebih semangat untuk belajar,” katanya.
Beasiswa UKT 0 Ringankan Beban Keluarga
Di balik capaian tersebut, dukungan keluarga menjadi kekuatan terbesar bagi Andini. Kedua orang tuanya selalu menanamkan nilai kejujuran, disiplin, dan pentingnya memohon ridha Tuhan dalam setiap usaha yang dilakukan.
Kebahagiaan keluarga semakin lengkap ketika Andini mengetahui dirinya memperoleh subsidi Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar 100 persen dari UGM. Sebelumnya, sang ibu sempat memikirkan berbagai kebutuhan biaya kuliah, mulai dari uang pendidikan, biaya hidup, hingga tempat tinggal selama Andini menempuh studi di Yogyakarta.
“Alhamdulilah senang sekali ketika melihat nominal UKT nol rupiah karena bisa membantu meringankan keluarga untuk biaya kuliah,” ungkapnya.
Setelah menyelesaikan studi nanti, Andini berencana untuk bekerja terlebih dahulu dan melanjutkan pendidikan ke jenjang magister apabila memiliki kesempatan.
Andini berpesan kepada teman-teman yang masih berjuang meraih cita-cita agar tidak mudah menyerah.
“Terus semangat belajar, berusaha, dan berdoa. Kalau kita bersungguh-sungguh dalam berikhtiar, pasti akan ada jalan,” pesannya.
Dukungan Keluarga
Sementara itu Siti Patonah menyampaikan bahwa ia dan suami selalu mendukung keinginan putra putrinya untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Siti, yang merupakan lulusan SMA, bersama sang suami yang mengenyam pendidikan hingga jenjang SMP, berharap Andini dapat memiliki masa depan yang lebih baik dibandingkan orang tuanya. Meski sempat memikirkan keterbatasan biaya, keluarga tetap bertekad mencari berbagai peluang bantuan pendidikan. Mereka bahkan telah berupaya mengajukan Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), meskipun pada akhirnya belum berhasil mendapatkannya.
“Yang penting Andini bisa masuk kuliah dulu. Soal biaya, kami yakin selalu ada jalan dan bisa diusahakan kemudian, termasuk mencari beasiswa. Dulu kakaknya juga masuk UGM lewat jalur SBMPTN dan mendapat beasiswa KIP-K ,” ujar Siti.
Siti mengatakan bahwa selama ini ia dan suami selalu menanamkan pentingnya doa, ikhtiar, dan semangat untuk tidak mudah menyerah kepada anaknya. Menurutnya, setiap hari harus menjadi kesempatan untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik dari hari sebelumnya.
“Saya selalu berpesan kepada Andini untuk jangan pernah putus asa, terus berusaha dan berdoa. Hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan besok harus lebih baik dari hari ini. Jangan sampai mengecewakan bapak dan ibu,” tuturnya.
Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada UGM atas kesempatan dan bantuan pendidikan yang diberikan kepada putrinya.
“Terima kasih kepada UGM yang telah menerima Andini dan memberikan subsidi UKT. Semoga kesempatan ini bisa dimanfaatkan dengan baik, menjadi amanah yang dijaga dengan sungguh-sungguh, dan membantu Andini mewujudkan cita-citanya sehingga bantuan yang diberikan tidak sia-sia,” ungkapnya.
Kini, langkah Andini menuju FEB UGM tidak hanya menjadi kebanggaan bagi keluarganya, tetapi juga menjadi bukti bahwa mimpi besar dapat diraih dengan kerja keras, doa, dan dukungan orang-orang terdekat
Artikel Terkait
Pemerintah Tutup Prodi Tak Relevan, Ekonom UGM Ingatkan Bahaya Pendidikan Berbasis Pasar
Dari Tanah Suci ke Tahanan Kejagung, Nasib Dadan Hindayana Berubah Drastis dalam Tiga Hari
Ketua KPK Setyo Budiyanto Paparkan Modus Pemerasan Sistemik yang Jerat Silmy Karim
Mahfud MD Soroti Dugaan Korupsi MBG, Nilai Hukuman Mati Layak Dipertimbangkan untuk Koruptor
Firman Soroti Pelaksanaan MBG, Minta Pemerintah Percepat Evaluasi dan Audit Menyeluruh