Pakar UGM Sebut 3 Penyebab Tingkat Konsumsi Ikan di Pulau Jawa Masih Rendah

Photo Author
Philipus Anton, Suara Pembaruan
- Senin, 29 Juni 2026 | 12:53 WIB
konsumsi ikan di masyarakat pulau jawa rendah (ilustrasi AI)
konsumsi ikan di masyarakat pulau jawa rendah (ilustrasi AI)

Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki produksi perikanan terbesar kedua di dunia setelah China, memasok sekitar 25% dari total permintaan ikan global. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan perikanan (KKP), pada 2025, total produksi mencapai 26,25 juta ton, yang terdiri dari 11,65 juta ton rumput laut, 7,85 juta ton perikanan tangkap, dan 6,75 juta ton perikanan budidaya.

Akan tetapi, produksi perikanan yang besar tersebut tidak membuat masyarakatnya banyak mengkonsumsi ikan. Dibandingkan negara lain, jumlah konsumsi ikan di Indonesia masih tertinggal. Data menunjukkan konsumsi ikan masyarakat Indonesia masih di bawah negara lain, seperti Malaysia dan Jepang. Angka Konsumsi Ikan (AKI) nasional tahun 2024 berada di angka 58, 76 kg/kapita/tahun. Di Daerah Istimewa Yogyakarta dan wilayah Jawa secara umum, rerata konsumsi ini cenderung lebih rendah dibandingkan kawasan pesisir atau Indonesia Timur yang rata-rata konsumsinya mencapai 77 hingga 82 kg/kapita/tahun.

Guru Besar Departemen Perikanan UGM, Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc., menilai rendahnya angka konsumsi hasil laut banyak ditemukan di Jawa. Hal tersebut disebabkan karena ada beberapa faktor, salah satunya adalah kebiasaan makan masyarakat. Di Jawa sebagian besar sumber lauk di meja makan mereka sehari-hari bukan ikan. Sebab, masyarakat Jawa sejak kecil dibiasakan makan protein dari ayam, tahu, atau tempe. Sementara di Indonesia Timur, sejak kecil sejak kecil mereka sudah dibiasakan untuk makan ikan. “Kondisi ini sebenarnya kebiasaan dari kecil yang seharusnya ini diberikan pembelajaran untuk adik-adik generasi muda untuk dibiasakan mengkonsumsi ikan,” terangnya, Senin (29/6). 

Selain kebiasaan, Alim menyebutkan kurangnya pengetahuan menjadi faktor rendahnya angka konsumsi ikan di Indonesia. Banyak masyarakat yang belum tahu bahwa ikan memiliki nilai gizi tinggi, mengandung asam amino lengkap, baik esensial maupun non-esensial, serta asam lemak tidak jenuh, seperti omega 3 yang baik untuk kesehatan peredaran darah, jantung, dan perkembangan otak tanpa memicu kolesterol. “Belum banyak beredar produk olahan ikan yang siap santap di masyarakat, membuat mereka malas untuk mengkonsumsinya,” ujarnya. 

Menurut Alim, permasalahan distribusi dan logistik juga menjadi penyebab sedikitnya konsumsi ikan. Sebagian besar ikan berasal dari Indonesia Timur, sehingga pengiriman ke daerah berpopulasi tinggi membutuhkan waktu, biaya, angkutan, dan penanganan khusus. Ikan mudah rusak sehingga memerlukan sistem rantai dingin (cold chain), namun tidak semua daerah memiliki fasilitas logistik ini. “Nah, logistik untuk mengirim ke daerah-daerah yang mempunyai populasi tinggi itu kan memerlukan waktu dan biaya, juga memerlukan penanganan khusus. Tidak semua daerah itu kan mempunyai logistik yang memadai, sehingga distribusi itu terbatas,” jelasnya. 

Lebih lanjut, Alim menjelaskan bahwa rendahnya angka konsumsi ikan ini akan berdampak pada sektor bisnis perikanan. Harga ikan akan menjadi sangat sensitif terhadap tingkat konsumsi. Saat panen banyak hasil tangkap ikan, tetapi angka konsumsi turun maka akan membuat harga ikan menurun, karena daya serap konsumen yang rendah. Disamping itu, Alim mengungkapkan bahwa hingga hari ini, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan ekosistem laut. Dari permasalahan degradasi ekosistem hingga terjadinya penangkapan ikan berlebih yang mengancam populasi ikan lain. “Di daerah-daerah tertentu sudah terjadi overfishing atau penangkapan yang berlebihan, ini akan membahayakan populasi karena ikan yang ditangkap terlalu banyak,” jelasnya. 

Alim menjelaskan terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah atau stakeholder untuk mengatasi permasalahan ini. Pertama, perlu dilakukan edukasi sejak dini gerakan makan ikan sejak usia dini. Kedua, membantu kelompok pengolah ikan dalam mengembangkan produk pengolahan ikan yang siap santap, agar mudah untuk dikonsumsi serta mudah didistribusikan. Ketiga, dengan memastikan ketersediaan pasokan ikan segar untuk bahan baku. Keempat, membantu distribusi ikan dari laut ke daerah penduduk agar cepat sampai tanpa menurunkan kualitas ikan. Dan yang terakhir, melalui penegakan hukum. Pemerintah harus terus menindak tegas pelaku kerusakan ekosistem dan mengatasi overfishing demi menjaga kualitas dan keberlanjutan sektor maritim di Indonesia. Juga penjagaan kawasan konservasi laut perlu dilakukan dengan ketat. “Nah, itu harus diterapkan penegakan-penegakan hukum dan kawasan-kawasan konservasi itu juga harus dijaga dengan ketat,” pungkasnya.

Editor: Philipus Anton

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X