Saat itu, Radit masih berharap istrinya selamat dan sedang mendapatkan penanganan medis di rumah sakit.
“Waktu itu saya berdoanya ya handphone-nya saja yang di situ, jadi istri saya tuh sudah di rumah sakit,” lanjutnya.
Namun harapan tersebut perlahan berubah menjadi duka mendalam setelah pencarian panjang yang dilakukannya sepanjang malam.
Radit mengaku dihantui rasa bersalah karena merasa gagal menjaga sang istri.
“Saya merasa bersalah, kenapa dia harus kerja,” ucapnya lirih.
Tak hanya itu, ia juga merasa sedih dan kecewa karena tidak mampu melindungi istrinya hingga akhirnya menjadi korban dalam tragedi tersebut.
“Merasa bersalah ke mertua, tidak bisa menjaga istri saya, marah dan kecewa,” imbuhnya.
Di tengah kesedihan itu, Radit masih mengingat jelas pesan terakhir yang dikirim sang istri sebelum kecelakaan maut terjadi.
Saat jadwal perjalanan KRL terganggu akibat insiden taksi yang tertemper kereta lain di area stasiun, Harum sempat memberi kabar kepada suaminya lewat pesan singkat.
“Sayang, ini keretanya nabrak mobil,” kata Radit menirukan pesan terakhir istrinya.
Setelah berkeliling mencari ke sejumlah rumah sakit di Bekasi, Radit akhirnya menemukan keberadaan sang istri di RS Polri Kramat Jati, Jakarta.
Namun pertemuan itu terjadi dalam suasana pilu, karena Harum telah berada di dalam peti jenazah.*
Artikel Terkait
Taksi Green SM Belum Dievakuasi, Dugaan Pemicu Tragedi KRL–Argo Bromo Makin Disorot
Usai Tragedi Bekasi, Menteri PPPA Usul Gerbong Perempuan KRL Dipindah ke Tengah
Prabowo Siapkan Rp4 Triliun Usai Tragedi KRL Bekasi, Flyover Bulak Kapal Dipercepat
TASPEN Gerak Cepat Cairkan Santunan Rp283 Juta untuk Guru Korban Tragedi KRL
Firasat Anak Selamatkan Ibu dari Tragedi KA Argo Bromo vs KRL Bekasi Timur, Kisahnya Viral dan Bikin Haru