Firasat Anak Selamatkan Ibu dari Tragedi KA Argo Bromo vs KRL Bekasi Timur, Kisahnya Viral dan Bikin Haru

Photo Author
Rully Satriadi, Suara Pembaruan
- Kamis, 30 April 2026 | 18:14 WIB
Mengintip kisah haru seorang ibu yang sempat ditahan anaknya untuk tidak menaiki KRL sebelum tragedi kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur. (Instagram.com/nureqisp)
Mengintip kisah haru seorang ibu yang sempat ditahan anaknya untuk tidak menaiki KRL sebelum tragedi kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur. (Instagram.com/nureqisp)

Jakarta, SUARA PEMBARUAN - Empat hari setelah kecelakaan maut antara KA Argo Bromo dan KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026, peristiwa tersebut masih menjadi perbincangan publik. Tragedi itu meninggalkan duka mendalam setelah ratusan penumpang menjadi korban.

Data terbaru mencatat sebanyak 107 orang terdampak dalam insiden tersebut. Dari jumlah itu, 16 orang meninggal dunia, sementara 91 lainnya mengalami luka-luka. Sebanyak 43 korban sudah diperbolehkan pulang, sedangkan sisanya masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit.

Kecelakaan tersebut pun disebut sebagai salah satu tragedi perkeretaapian paling memilukan dalam beberapa tahun terakhir.

Di tengah suasana duka, muncul kisah menyentuh dari seorang pengguna KRL rute Bekasi Timur bernama Nureqi Satriani. Ceritanya viral setelah diunggah melalui akun Instagram @nureqisp pada Kamis, 30 April 2026.

Dalam unggahan itu, Nureqi mengaku bersyukur karena dirinya dan sang anak berhasil terhindar dari tragedi maut tersebut. Ia percaya keselamatan mereka bermula dari firasat tak biasa yang ditunjukkan anaknya sejak pagi hari.

“Malaikat penyelamatku,” tulis Nureqi dalam unggahannya.

Ia menjelaskan bahwa video yang dibagikannya direkam pada pagi sebelum kecelakaan terjadi.

Cerita Nureqi langsung menarik perhatian warganet dan menyebar luas di media sosial. Banyak netizen mengaku ikut terharu mendengar kisah sang ibu dan anak yang lolos dari maut.

Nureqi menceritakan, pagi itu anaknya menangis dan tidak ingin dirinya pergi bekerja sendirian. Sikap tersebut terasa berbeda dari biasanya.

Karena sang anak terus merengek, Nureqi akhirnya memutuskan membawa anaknya ikut bekerja. Keputusan itulah yang kemudian mengubah rencana perjalanan mereka.

“Akhirnya aku bawa bocah ini kerja, dan pulang kita naik mobil,” ungkapnya.

Padahal, biasanya mereka selalu menggunakan KRL saat bepergian bersama. Sang anak bahkan dikenal sangat menyukai perjalanan menggunakan kereta.

“Biasanya aku pasti KRL kawal bawa dia, karena dia suka naik kereta,” lanjut Nureqi.

Keanehan kembali terasa saat sore hari ketika mereka hendak pulang ke rumah. Nureqi sempat menawarkan pilihan kendaraan kepada sang anak, apakah ingin naik kereta atau mobil.

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB
X