Mengupas Akar Ekstremisme Lewat Film Road to Resilience

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Selasa, 3 Juni 2025 | 22:54 WIB
Diskusi film dokumenter Road to Resilience yang digelar Kreasi Prasasti Perdamaian (KPP) dan ruangobrol.id.  (SP/dok panitia )
Diskusi film dokumenter Road to Resilience yang digelar Kreasi Prasasti Perdamaian (KPP) dan ruangobrol.id. (SP/dok panitia )

Namun, realita yang ia temui jauh dari ekspektasi. Febri justru mengalami kekejaman dan penderitaan. Bersama 16 anggota keluarganya, ia akhirnya berhasil dipulangkan ke Indonesia pada Agustus 2017.

Meski telah kembali, Febri harus menghadapi tantangan baru berupa stigma sosial, tekanan ekonomi, dan kebingungan identitas yang membuatnya mengalami depresi mendalam.

Selain film, kampanye ini juga mencakup diskusi buku Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah karya Noor Huda Ismail. Buku tersebut mendokumentasikan kisah nyata WNI yang terlibat dalam konflik Suriah dan menggunakan pendekatan teori 3N (needs, networks, narratives) serta identity fusion untuk menjelaskan motivasi mereka.

Buku ini juga membedah faktor penyebab keterlibatan seperti kemiskinan, keterasingan sosial, trauma kolektif, serta daya tarik seperti iming-iming surga, keuntungan finansial, dan semangat petualangan. Peran media sosial dan ruang gema digital dalam memperkuat pandangan ekstrem juga dikupas tuntas.

Menurut Huda, pendekatan tradisional lewat ceramah keagamaan kini tidak lagi cukup. “Anak muda sekarang lebih mendengar TikTok dan influencer ketimbang ulama,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan bahwa narasi “zero attack” bisa menyesatkan karena mengabaikan banyaknya aksi teror yang telah digagalkan.

“Tidak adanya serangan bukan berarti tidak ada gerakan. Banyak yang gagal karena berhasil dicegah. Ini disebut failed attack,” katanya.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh peserta dari berbagai sektor. Dari 20 peserta FGD yang direncanakan, jumlah yang hadir mencapai 40 orang.

Mereka berasal dari instansi seperti Kesbangpol, Diskominfo, Disdukcapil, Densus 88, Imigrasi, Bapas, Dinsos, serta organisasi keagamaan, Forum Anak, dan Persadani.

Menurut Huda, pelaku ekstremisme saat ini tidak lagi terbatas pada kelompok tertentu. “Bisa dari ibu rumah tangga, mahasiswa, atau bahkan kalangan elit. Jadi pendekatannya harus menyentuh ruang digital dan pola pikir anak muda,” tambahnya.

Alfrida Heaniti Panjaitan, Analis Kebijakan Ahli Muda BNPT, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Kekerasan (RAN PE).

“Ini bagian dari pelaksanaan strategi komunikasi RAN PE fase pertama. Dari total 135 aksi, 132 sudah terealisasi. Sekarang kami fokus pada percepatan fase kedua untuk periode 2025–2029,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa tantangan utama saat ini adalah menjangkau ruang digital yang menjadi tempat subur penyebaran ideologi ekstrem di kalangan muda.

“Berdasarkan data Komdigi, mayoritas pengguna internet di Indonesia adalah anak muda. Maka pendekatannya harus lintas sektor dan berbasis literasi digital,” katanya.

Indah Pengestu Amaritasari, dari Sekretariat Bersama RAN PE BNPT, menambahkan bahwa ada tiga elemen utama penyebab keterjerumusan seseorang dalam ekstremisme kekerasan.

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X