Realita Pendidikan di Indonesia
Oleh: Ifah Rasyidah — Pegiat Literasi Islam
Berbicara tentang pendidikan di Indonesia berarti berbicara tentang sederet persoalan yang tak kunjung usai. Kerusakan akhlak, pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, hingga maraknya tawuran antar pelajar dan mahasiswa hanyalah sebagian dari potret buram pendidikan kita hari ini. Semua ini berakar dari rendahnya pendidikan berkarakter yang seharusnya mampu melahirkan generasi terbaik. Nyatanya, sistem pendidikan yang ada belum mampu memperbaiki arah generasi bangsa.
Sederet kenyataan di depan mata ini lahir dari sistem pendidikan sekuler-liberal yang selama ini diadopsi negeri ini. Sistem tersebut memang menghasilkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi kehilangan arah dalam moral dan akidah. Kita menyaksikan anak-anak bangsa yang pandai berpikir namun miskin adab; unggul secara akademis namun terseret dalam pergaulan bebas. Apakah ini generasi yang kita cita-citakan? Tentu tidak.
Akar Permasalahan: Sekularisme dan Liberalisme
Mengapa hal ini bisa terjadi? Akar persoalannya adalah karena sistem pendidikan kita menjauhkan nilai-nilai Islam dari kehidupan. Negara ini mengadopsi demokrasi yang berpijak pada ide kebebasan (liberalisme), sehingga seluruh program dan kurikulumnya dirancang untuk membentuk generasi sekuler dan liberal. Akibatnya, pendidikan agama hanya menjadi pelengkap, sementara sains dan budaya asing justru lebih diutamakan.
Baca Juga: Gas Bumi Masuk Desa, PGN Ajak Warga Lumajang Beralih ke Energi Bersih
Ibarat membangun rumah, kita sibuk memperindah dinding dan atap, tetapi lupa menguatkan pondasinya. Maka tak heran jika bangunan pendidikan kita mudah rapuh dan goyah.
Sistem evaluasi pendidikan pun tak berjalan sebagaimana mestinya. Pendidikan seakan hanya menjadi formalitas—mengejar ijazah, gelar, dan jabatan. Ironisnya, banyak gelar yang disandang tidak sebanding dengan kemampuan dan tanggung jawab moral yang seharusnya menyertainya.
Perlu Perbaikan Mendasar
Masalah pendidikan yang kompleks ini tentu tidak bisa dibiarkan. Diperlukan perbaikan mendasar, bukan sekadar tambal sulam kebijakan. Belum terlambat untuk memperbaikinya, yakni dengan kembali pada sistem pendidikan Islam yang berlandaskan akidah Islam.
Baca Juga: Ngeri! 602 Ribu Warga Jakarta Main Judi Online, Transaksi Capai Rp3,12 Triliun
Namun, penerapan sistem pendidikan Islam tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus ditopang oleh sistem kehidupan yang juga Islami—meliputi politik, ekonomi, sosial, dan budaya—agar pelaksanaannya berjalan utuh dan efektif.
Mencontoh Sistem Pendidikan Islam
Artikel Terkait
Ratusan Masyarakat Meriahkan Lomba Burung Berkicau Piala Gubernur Cup Bengkulu
Beda Gaya Main era Patrick Kluivert vs STY di Balik Kekosongan Kursi Pelatih Timnas Indonesia, Jeje Soroti Taktik 4 Bek
Gestur Diplomasi Prabowo Jadi Sorotan di KTT ASEAN
Ngeri! 602 Ribu Warga Jakarta Main Judi Online, Transaksi Capai Rp3,12 Triliun
DPR: Segera Gunakan Dana Mengendap Rp234 Triliun!
Larangan Impor Pakaian Bekas Jadi Sorotan DPR, Imas Aan Ubudiyah Dukung Langkah Tegas Pemerintah
Di Balik Isyarat Meredanya Perang Dagang AS vs China Muncul usai KTT ASEAN
Purbaya Tindaklanjuti Laporan Dugaan Pelanggaran Pegawai, dari Suap hingga Penagihan di Luar Jam Kerja
Soal Legalisasi Umrah Mandiri, Wamen Haji: Pemerintah Siap Tindak Oknum yang Menyalahgunakan Sistem
Gas Bumi Masuk Desa, PGN Ajak Warga Lumajang Beralih ke Energi Bersih