opini

Representasi Kepentingan Anak Muda Dalam Kampanye di TikTok Pada Pemilu 2024

Senin, 8 Desember 2025 | 12:08 WIB
IlPotret kampanye TikTok Pemilu 2024: ketika politik menjelma layar tanpa tepi, dan suara anak muda direduksi menjadi tarian citra, filter, serta hiperrealitas yang lebih nyaring daripada fakta. (ema/suara.com)

Bahasa seperti "circle" dari PDIP atau "savage" dari Gerindra merupakan tiruan gaya komunikasi anak muda yang kehilangan referensi otentisitasnya, digunakan sekadar untuk menciptakan kesan kekinian dan relevan. Narasi-narasi ini membangun citra pemuda yang energik dan optimis tanpa menyentuh substansi partisipasi nyata atau kebijakan yang konkret bagi masa depan mereka. Realitas pemuda yang kompleks, penuh dengan tantangan seperti pengangguran, ketidakpastian, dan ketimpangan, akhirnya tergantikan oleh citra media yang hiperreal dan menyenangkan.Baca Juga: Pertamina Perkuat Pendidikan Inklusif Lewat Program PADU


Simulacra kepentingan anak muda juga terlihat dalam janji-janji pembangunan seperti "pekerjaan terhormat" yang hadir sebagai solusi instan dan simplistik. Janji-janji ini menawarkan mimpi tanpa menunjukkan roadmap atau mekanisme pencapaian yang jelas, sehingga beroperasi dengan mendahului realitas yang sebenarnya. Isu-isu kesehatan dan lingkungan, misalnya, hadir sebagai aksi simbolis seperti janji "satu desa satu puskesmas" yang mengabaikan kompleksitas sistem kesehatan nasional.

Program "internet gratis" ditawarkan untuk menutupi masalah infrastruktur digital yang masih timpang dan tidak merata. Pemuda diajak untuk mengonsumsi citra dan mimpi indah ini tanpa diajak untuk mendalami atau terlibat dalam pemecahan akar masalah yang struktural.Baca Juga: Kapal Kemanusiaan Bawa 60 Tangki Air dan Bantuan Logistik ke Aceh, Sumut, dan Sumbar

Hiperrealitas pembangunan ini berhasil mengaburkan ketimpangan nyata dan menciptakan siklus simulasi tanpa akhir.


Pada akhirnya, kampanye politik di TikTok telah menciptakan sebuah ekosistem hiperreal di mana politik tidak lagi tentang kebenaran material, tetapi tentang daya pesan simbolik yang terdistribusi melalui logika algoritmik.


Masyarakat, khususnya anak muda, tidak lagi berhadapan dengan program dan visi nyata, tetapi dengan konstruksi realitas hiper yang lebih menarik, persuasif, namun secara substantif lebih kosong.Baca Juga: Yogyakarta Royal Orchestra Hangatkan Pembukaan Seminar Jejak Peradaban

 

Penulis adalah Mahasiswi Magister Ilmu Politik Universitas Diponegoro Semarang

 

Halaman:

Tags

Terkini

Sapi Banpres dan Hikmah dari Dusun Ngumpul

Senin, 1 Juni 2026 | 11:20 WIB

Kebijakan Penghematan BBM dari Sisi Transportasi

Senin, 13 April 2026 | 07:05 WIB

“Untal Malang” ke Otonomi Guru

Jumat, 10 April 2026 | 14:27 WIB

Quo Vadis Tata Kelola PNBP Kepelabuhanan

Rabu, 1 April 2026 | 10:24 WIB