Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN – Nuansa brass orkes era Frank Sinatra terasa kental saat Yogyakarta Royal Orchestra (YRO) brass ensemble membuka rangkaian Seminar Jejak Peradaban: Resiliensi Budaya Jawa pada Era Disruptif, Sabtu (6/12/2025) di Hotel Morazen, Kulonprogo. Empat lagu nasional dimainkan dengan penuh semangat, dan suasana menjadi semakin atraktif ketika Brian Prasetyoadi, sang vokalis, membawakan “Indonesia Jaya” sambil mengajak para undangan bernyanyi bersama. Penampilan orkestra sempat berhenti sejenak untuk menyambut kehadiran Royal Family, sebelum dilanjutkan hingga suasana pembukaan seminar menjadi hangat dan cair.
Sejarah musik barat di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sesungguhnya telah berakar sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I, ketika instrumen terompet dan genderang mulai digunakan di lingkungan istana. Pada era Sri Sultan Hamengku Buwono V, penggunaan biola, seruling, saxofon, dan tambur semakin meluas. Bahkan, di area inti kedhaton terdapat bangunan khusus bernama Bangsal Mandalasang yang difungsikan untuk memainkan musik barat. Tradisi ini berkembang hingga masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, ketika kelompok musik orkestra Keraton dikenal dengan nama Kraton Orcest Djogja (KOD). Namun, masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia turut memengaruhi eksistensi KOD hingga akhirnya berhenti aktif sekitar tahun 1949.
Hampir tujuh dekade berselang, kegiatan musik orkestra di Keraton Yogyakarta kembali dihidupkan pada 2019 atas prakarsa KPH Notonegoro dengan izin Sri Sultan Hamengku Buwono X. Pementasan ensambel musik tiup di Bangsal Mandalasang pada 18 Agustus 2019, bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan ke-74, menjadi momentum kebangkitan. Setahun kemudian, pada 21 Juni 2020, Keraton merencanakan peresmian kelompok musik orkestra baru bernama Yogyakarta Royal Orchestra sekaligus memperingati Hari Musik Dunia. Namun pandemi COVID-19 membuat peresmian tertunda hampir satu tahun. Akhirnya, pada 21 Juni 2021, YRO resmi diluncurkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X dan langsung menggelar konser perdana di Pagelaran Keraton Yogyakarta.
Sebagai orkestra Kagungan Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, YRO berada di bawah lembaga Kawedanan Kridhamardawa yang dipimpin KPH Notonegoro. Para musisi yang terlibat merupakan Abdi Dalem Musikan. YRO memiliki agenda konser besar setiap tahun, yakni pada bulan Juni untuk memperingati Hari Musik Dunia, bulan Agustus dengan tajuk Konser Kamardikan, dan bulan Desember sebagai Konser Akhir Tahun. Selain itu, konser-konser chamber music juga kerap dipentaskan di berbagai tempat atas titah Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Para Abdi Dalem Musikan YRO terbagi dalam dua divisi, yaitu ansambel tiup dan ansambel gesek (string section). Mereka juga bertugas bersama Abdi Dalem pengrawit untuk mengiringi tari Keraton Yogyakarta. Dalam perkembangannya, YRO tidak hanya tampil dengan format brass and woodwind ensemble maupun string ensemble yang dilengkapi percussion section, tetapi juga menghadirkan format lebih kecil seperti string quintet yang terdiri dari pemain violin, viola, cello, dan contrabass.
Kehadiran YRO dalam pembukaan Seminar Jejak Peradaban menjadi bukti bahwa musik barat yang telah lama berakar di Keraton Yogyakarta tetap relevan dan mampu beradaptasi dengan zaman. Melalui konser-konsernya, YRO tidak hanya menghidupkan kembali tradisi musik orkestra, tetapi juga memperkuat posisi Keraton sebagai pusat kebudayaan yang dinamis dan terbuka terhadap kolaborasi lintas generasi.
Artikel Terkait
Darurat Normalisasi Sungai di Klaten untuk cegah Banjir
Kerinduan Slanker Bakal Terobati Dalam Tur 10 Kota “HEY... SLANK X BERANI KITA BEDA”
Amar Bank Terlibat Aktif Untuk Dorong UMKM dan Industri Kreatif
Dari Sayur Lodeh hingga Grounding: Filosofi Wellness GKR Bendara di Malioboro Culture Vibes 2025
Jejak Peradaban Keraton Yogyakarta, Menjawab Tantangan Budaya Masa Kini