Amar Bank Terlibat Aktif Untuk Dorong UMKM dan Industri Kreatif

Photo Author
Philipus Anton, Suara Pembaruan
- Minggu, 30 November 2025 | 14:44 WIB
Josua Sloane dan Mira Lesmana (Philip Anton)
Josua Sloane dan Mira Lesmana (Philip Anton)

   

Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN – Dukungan terhadap dunia industri kreatif mendapat dorongan baru dengan hadirnya layanan Amar Bank Bisnis. Peluncuran ini dilakukan di Yogyakarta bertepatan dengan digelarnya JAFF Market 2025, bagian dari Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF). Momentum tersebut menandai edisi kedua pasar film Asia yang digelar di kota budaya ini, sekaligus memperlihatkan sinergi antara dunia finansial dan industri kreatif dalam memperkuat ekosistem ekonomi nasional. 

Amar Bank, lembaga keuangan yang berdiri sejak 2014 dan dikenal sebagai pionir digital lending di Indonesia, sejak awal menempatkan fokus pada segmen yang jarang disentuh perbankan konvensional. Senior Vice President MSME Amar Bank, Josua Sloane, dalam talk show di Jogja Expo Center (JEC) Minggu (30/11/2025) menegaskan bahwa sekitar 60 persen portofolio bank berada di sektor mikro dan kecil. Menurutnya, talenta Indonesia semakin hebat dan teknologi semakin maju, namun masih banyak pelaku usaha yang menghadapi masalah dalam pengelolaan keuangan. Pertanyaan seputar akses pendanaan selalu muncul dalam berbagai pertemuan dengan pelaku usaha di Yogyakarta, dan hal inilah yang mendorong Amar Bank meluncurkan layanan Amar Bank Bisnis. Layanan ini diharapkan menjadi solusi bagi pelaku usaha yang membutuhkan pembiayaan lebih fleksibel, baik untuk memperluas portofolio maupun memulai proyek baru. Dengan pengalaman lebih dari satu dekade, Amar Bank optimistis kehadiran layanan ini akan memperkuat ekosistem UMKM sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. 

Peluncuran Amar Bank Bisnis di Yogyakarta bertepatan dengan JAFF Market 2025 yang resmi dibuka di kota ini. Pasar film tersebut menjadi wadah penting untuk memperkuat ekosistem perfilman Indonesia sekaligus membuka peluang kolaborasi internasional. Kehadiran Amar Bank dalam konteks ini memperlihatkan keterkaitan erat antara dukungan finansial dan keberlanjutan industri kreatif, yang sama-sama membutuhkan sistem keuangan yang kuat dan transparan. 

Dalam momentum yang sama, produser film sekaligus penulis skenario Mira Lesmana menekankan pentingnya pengelolaan keuangan dalam setiap produksi film. Menurutnya, proses produksi bukan hanya soal kreativitas, tetapi juga membutuhkan manajemen finansial yang matang, mulai dari perkiraan jumlah penonton, pengajuan anggaran kepada investor, hingga pengaturan arus kas dan dana cadangan. Ia menyebut pengelolaan keuangan film mirip dengan mengatur rumah tangga: harus ada budget, dana cadangan, dan semua harus dikelola dengan disiplin agar produksi berjalan lancar dan investor tetap percaya. Tantangan terbesar, menurut Mira, selalu ada pada bagaimana mendapatkan kapital, mengelolanya, dan memastikan investasi dari para investor bisa berfungsi dengan baik. Diskusi ini menjadi relevan karena banyak proyek film di Yogyakarta yang membutuhkan dukungan finansial berkelanjutan. 

“Setiap produksi memiliki pola sendiri dalam pengelolaan. Kami menyebutnya milestone, karena setiap film adalah perjalanan panjang yang harus direncanakan dengan cermat,” ujar Mira. Meski rumah produksinya telah berusia sepuluh tahun, jumlah film yang dihasilkan tidak banyak. “Biasanya kami hanya membuat satu film dalam setahun. Tantangan terbesar selalu ada pada bagaimana mendapatkan kapital, mengelolanya, dan memastikan investasi dari para investor bisa berfungsi dengan baik,” tambahnya. 

Sebelum memutuskan memproduksi sebuah film, Mira dan tim selalu melakukan perkiraan pasar terlebih dahulu. Dari data tersebut, mereka menentukan besaran anggaran yang sesuai. “Kalau filmnya besar dengan basis penonton luas, tentu budget lebih besar. Tapi kalau pasarnya niche, anggaran harus lebih kecil. Tujuannya untuk mengurangi risiko kerugian,” jelasnya. Setelah anggaran disusun, proposal diajukan kepada investor lengkap dengan proyeksi pendapatan. Proses ini, menurut Mira, sering kali menjadi tantangan karena dunia perbankan sulit menilai potensi film. “Kami harus melalui proses pembuktian. Investor perlu diyakinkan bahwa dana yang mereka berikan dikelola dengan baik,” katanya. 

Manajemen arus kas juga menjadi kunci. Mira menjelaskan bahwa setiap produksi biasanya disusun dengan cash flow tahunan, dibagi per dua atau tiga bulan sesuai kebutuhan. “Dengan begitu, investor bisa melihat secara jelas bagaimana dana digunakan. Ini penting untuk menjaga kepercayaan mereka,” ujarnya. Selain itu, setiap produksi harus menyiapkan dana cadangan atau contingency. Hal ini diperlukan untuk mengantisipasi hal-hal tak terduga, seperti perubahan lokasi atau kendala teknis. “Kalau ada satu lokasi yang melebihi anggaran, sembilan lokasi lain harus diatur ulang. Kadang kami harus berdiskusi lagi dengan sutradara untuk menyesuaikan,” kata Mira. 

Menanggapi hal tersebut, Josua Sloane menyebut bahwa investor tetap ingin melihat proyeksi pendapatan dan pengeluaran yang jelas, serta laporan keuangan berkala agar yakin dana digunakan sesuai rencana. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah penggunaan akun-akun terpisah untuk pemasukan, iklan, atau sewa, sehingga pelaporan menjadi lebih mudah dan transparan. Kejelasan laporan keuangan juga akan memudahkan perusahaan ketika kembali mengajukan pendanaan di masa depan. Meski pada awalnya membangun sistem akuntansi yang solid terasa sulit, Amar Bank percaya bahwa setelah berjalan, prosesnya akan semakin mudah. Dengan manajemen keuangan yang disiplin, perusahaan tidak hanya menjaga kelancaran operasional, tetapi juga memperkuat reputasi di mata investor dan perbankan.

Untuk para kreator pemula baik itu Production House Baru maupun kreator mandiri “Kalaupun Amar Bank belum bisa mendukung pendanaan, Amar Bank bersedia melakukan pendampingan melalui dengan tools tools yang ada dalam aplikasi pelanggannya untuk membuat pencatatan keuangan dan histori pengelolaan keuangan untuk nantinya memberikan nilai tambah dalam portofolio kepada calon investor di masa depan”Josua menambahkan.

Editor: Philipus Anton

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X