Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN – Gelombang revolusi Kecerdasan Buatan (AI) kini resmi mengguncang industri film Indonesia. Bertepatan dengan semangat Hari Pahlawan, Kementerian Kebudayaan mendeklarasikan era baru perfilman tanah air: di mana kreativitas tak lagi dibelenggu oleh biaya produksi fantastis.
Dalam sebuah pemutaran film spesial Hari Pahlawan "Diponegoro Hero" di Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta, Senin (10/11/2025). Soegimitro, seorang AI Film creator profesional, yang menjadi finalis dari berbagai ajang festival Film AI, mendemonstrasikan secara sangat detail proses produksi, peralatan, aplikasi dan media yang dipakainya untuk menghasilkan sebuah film contoh berdurasi 4 menit. "Perintahkan AI untuk memproduksi kreasi kita tambahkan rasa dalam setiap prosesnya." pungkasnya menutup demonstrasi dan kursus singkatnya.
Kementerian Kebudayaan yang mewakili Pemerintah melalui Direktur Film, Musik, dan Seni, Syaifullah Agam, menyampaikan terobosan yang bisa mengubah peta perfilman nasional. “Jangan lagi bayangkan biaya produksi film action yang bisa mencapai Rp 330 miliar. Dengan AI, semua bisa dikerjakan hanya dengan sekitar Rp 40 juta!” tegas Syaifullah, menyodorkan perbandingan yang bakal membuat industri bergidik.
Menurutnya, AI bukanlah algojo yang akan membunuh kreativitas seniman. Sebaliknya, ia adalah kuas dan pahat digital masa kini. “Proses imajinasi tetap murni dari otak manusia. AI hanyalah alat super canggih untuk mewujudkan imajinasi itu dengan cara yang lebih efisien dan terjangkau,” ujarnya.
Syaifullah juga mengingatkan agar Indonesia tidak mengulangi sejarah penolakan terhadap inovasi, sebagaimana terjadi pada awal kemunculan ojek online. “Jika kita tutup mata dan tidak mau belajar memanfaatkan AI hari ini, bersiaplah untuk tertinggal lima tahun ke depan. Kereta teknologi ini tidak akan menunggu,” tambahnya dengan nada tegas.
Pernyataannya bukan sekadar wacana. Film "Diponegoro Hero" karya AI Creator King Bagus, yang diputar malam itu, menjadi bukti nyata. Film tersebut berhasil menghidupkan kembali epik 200 tahun Perang Jawa dengan visual yang memukau dan, yang paling mengejutkan, dengan anggaran yang sangat minimal.
Dukungan juga datang dari Pemkot Yogyakarta. Wakil Wali Kota, Wawan Harmawan, menyambut hangat kolaborasi ini dan menepis kekhawatiran bahwa AI akan merebut pekerjaan seniman. “Justru sebaliknya, AI adalah peluang emas untuk memperkuat identitas lokal. Untuk membuat wajah Indonesia yang autentik atau lanskap Jawa yang memukau, tetap dibutuhkan sentuhan ahli dan rasa seniman kita,” paparnya.
Acara yang penuh semangat ini pun berubah menjadi ajakan terbuka bagi generasi muda. Syaifullah berpesan, “Jangan hanya jadi penonton. Jadilah pionir! Kuasai AI ini untuk kesejahteraan diri dan bangsa. Kita tidak boleh takut. AI bukan musuh, ia adalah sahabat bagi kreativitas. Kalau kita tidak gunakan, orang lain yang akan maju duluan.” "Di tangan anak muda kreatif, AI bukan lagi ancaman, melainkan senjata baru untuk memenangkan pertarungan di panggung kreativitas global" tegasnya.
Artikel Terkait
Kerinduan Slanker Bakal Terobati Dalam Tur 10 Kota “HEY... SLANK X BERANI KITA BEDA”
Diponegoro Hero Film AI Sejarah Kepahlawanan Bangsa Karya Anak Bangsa
Sawung Jabo dan Sirkus Barock Kembali Hadir Menggelar Karya Kesaksian Jalanan Di Jogja