Makanan dalam Film Gowok: Kamasutra Jawa (2025) : Simbol Keseimbangan Hidup dan Filosofi Spiritual dalam Budaya

Photo Author
Bangun P Lubis, Suara Pembaruan
- Kamis, 3 Juli 2025 | 14:33 WIB

Oleh: Roma Kyo Kae Saniro

[ Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas]

 

Makanan tidak hanya sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Lebih dari itu, makanan memiliki peran yang sangat penting dalam kajian budaya, khususnya makanan tradisional. Makanan dapat berperan sebagai elemen budaya yang penting karena dapat memengaruhi identitas, mediator komunikasi dan wacana sosial, serta membentuk warisan dan tradisi lisan. Seperti halnya di Hongaria, makanan memiliki peran penting sebagai sebuah warisan pada masa lalu dengan masa kini (Bati, 2024). 

Tidak hanya sebagai sebuah warisan, makanan pun dapat menjadi sebuah identitas penting bagi sebuah nilai, budaya, sejarah, dan tradisi masyarakat. Putri, dkk. Pun mengungkapkan bahwa makanan tradisional dapat menjadi “duta” kebudayaan global (Putri, dkk., 2024). Begitu pun di Indonesia yang memiliki beragam kebudayaan, Indonesia pun memiliki beragam makanan yang menjadi sebuah kebanggaan sendiri, salah satunya adalah makanan dalam budaya Jawa. 

Makanan dalam budaya Jawa sering kali bukan hanya berfungsi sebagai pemenuh kebutuhan fisik, tetapi juga sebagai simbol atau representasi dari nilai-nilai kehidupan, keseimbangan, dan filosofi. Beberapa waktu lalu, munculnya film Gowok: Kamasutra Jawa yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan diproduseri oleh Raamm Punjabi beserta MVP Pictures. Film ini dirilis tahun 2025 dan sangat kaya dengan budaya Jawa, salah satunya adalah makanan tradisional

Baca Juga: Atasi Enggano,Pemprov Bengkulu Siapkan Rp5 Miliar

Dalam konteks cerita film Gowok: Kamasutra Jawa, makanan tidak hanya sekadar hidangan, melainkan memiliki makna yang dalam terkait dengan keseimbangan hidup dan perjalanan spiritual. Makan menjadi pendukung representasi gambaran masyarakat dan budaya Jawa. Selain itu, makanan juga menjadi sebuah harapan bagi masyarakat Jawa untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. 

Makan-makanan dalam narasi film digambarkan dperoleh dari Serat Wulangreh, karya sastra dalam bentuk tembang macapat karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV, raja Keraton Kasunanan Surakarta. Kata wulang dan pitutur dalam bahasa Jawa sering digunakan secara bergantian, keduanya merujuk pada konsep ajaran atau petunjuk yang diberikan oleh seseorang yang lebih berpengalaman atau bijaksana. Dalam konteks ini, kedua kata tersebut menggambarkan informasi yang diberikan dengan tujuan untuk membimbing seseorang dalam menjalani kehidupan atau mencapai suatu tujuan tertentu.

Kata reh, yang berasal dari bahasa Jawa Kuno, memiliki beberapa makna yang berkaitan dengan jalan, aturan, atau cara. Dalam penggunaannya, reh menggambarkan suatu proses atau perjalanan yang harus dilalui, yang sering kali melibatkan tata cara atau langkah-langkah tertentu untuk mencapai hasil yang diinginkan. Dalam bahasa Jawa Kuno, kata ini sering digunakan untuk menyebutkan tuntutan atau tujuan yang harus dicapai, atau aturan hidup yang harus dipatuhi.

Baca Juga: Kolaborasi Hijau di Teluk Awur: Sampah Plastik Diolah Jadi Energi Alternatif

Dengan demikian, Wulang Reh dapat diartikan sebagai ajaran atau petunjuk yang berfungsi untuk memandu seseorang dalam menjalani proses tertentu, yang tujuannya adalah untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, harmonis, atau sempurna. Ajaran ini tidak hanya sebatas teori, tetapi mencakup langkah-langkah praktis yang harus diikuti untuk mencapai keseimbangan hidup. Dalam banyak konteks budaya Jawa, Wulang Reh berhubungan dengan pencapaian kesempurnaan diri, seperti mencapai keharmonisan antara raga, jiwa, dan hubungan dengan sesama, serta dengan alam semesta.

Secara lebih mendalam, Wulang Reh bisa dilihat sebagai pedoman hidup yang mengajarkan bagaimana seorang individu dapat menyelaraskan dirinya dengan hukum alam, moralitas, dan nilai-nilai kearifan lokal untuk mencapai kemuliaan atau kesempurnaan hidup. Prinsip-prinsip yang terkandung dalam Wulang Reh ini juga mencakup tata krama, etika, dan cara berinteraksi yang baik dengan sesama serta dengan alam, yang kesemuanya bertujuan untuk mencapai harmoni dalam hidup.

Makanan pertama, cenil dan lanting yang menggambarkan keseimbangan hidup manis dan asin. Cenil adalah makanan tradisional yang terbuat dari tepung ketan yang diberi warna-warni, kemudian direbus dan disajikan dengan kelapa parut. Cenil, dengan rasa manis dan tekstur kenyal, melambangkan kelembutan dan kebahagiaan dalam hidup. Sementara itu, lanting, yang terbuat dari tepung beras dengan rasa yang lebih asin dan sedikit gurih, melambangkan tantangan atau ujian hidup yang sering kali tidak manis.

Halaman:

Editor: Bangun P Lubis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X