Zohran Mamdani Menang Pemilu Internal Demokrat, Berpeluang Jadi Wali Kota Muslim Pertama New York

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Rabu, 2 Juli 2025 | 18:16 WIB
Calon wali kota (cawalkot) muslim pertama di New York, Amerika Serikat (AS), Zohran Mamdani. (X.com/ZohranKMamdani)
Calon wali kota (cawalkot) muslim pertama di New York, Amerika Serikat (AS), Zohran Mamdani. (X.com/ZohranKMamdani)

Jakarta, SUARA PEMBARUAN - Zohran Mamdani resmi terpilih sebagai calon wali kota New York dari Partai Demokrat Amerika Serikat pada Rabu, 2 Juli 2025. Tokoh Muslim berusia 33 tahun ini mengungguli lawannya, mantan Gubernur New York Andrew Cuomo, dalam putaran ketiga pemungutan suara dengan hasil 56 persen berbanding 44 persen.

Dilansir dari AFP, pemilihan dilakukan menggunakan sistem voting berperingkat setelah tidak ada kandidat yang memperoleh suara mayoritas pada 25 Juni. Setelah kandidat dengan suara terendah dieliminasi dan suara dihitung ulang, Mamdani berhasil meraih keunggulan signifikan.

Meski sebelumnya mendapatkan dukungan dari tokoh besar seperti mantan Presiden Bill Clinton, Cuomo akhirnya mengakui kekalahannya sebelum perhitungan final diumumkan.

“Rakyat Demokrat menyampaikan pesan yang kuat—mereka menginginkan kota yang lebih terjangkau, kebijakan progresif, dan pemimpin yang berani melawan otoritarianisme,” ujar Mamdani dalam pidatonya seperti dikutip AFP.

Apabila terpilih dalam pemilihan umum wali kota pada November 2025 mendatang, Mamdani akan menjadi Muslim pertama yang menjabat sebagai wali kota di kota New York, yang dikenal sebagai basis kuat Partai Demokrat. Mamdani sendiri adalah keturunan India yang lahir di Uganda dan dikenal luas sebagai politisi progresif.

Namanya kerap jadi sorotan karena berani menentang arus politik mapan. Ia dikenal vokal mengkritik kebijakan Presiden Donald Trump dan mengusulkan program-program seperti pembekuan sewa, layanan bus gratis, hingga perawatan anak universal—semua berseberangan dengan agenda konservatif "Make America Great Again" (MAGA).

Meski pernah dilabeli sebagai ‘komunis’, Mamdani tak gentar. “Saya rasa, tidak seharusnya ada miliarder. Saya di sini untuk bekerja bagi seluruh warga New York,” ujarnya.

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X