opini

Representasi Kepentingan Anak Muda Dalam Kampanye di TikTok Pada Pemilu 2024

Senin, 8 Desember 2025 | 12:08 WIB
IlPotret kampanye TikTok Pemilu 2024: ketika politik menjelma layar tanpa tepi, dan suara anak muda direduksi menjadi tarian citra, filter, serta hiperrealitas yang lebih nyaring daripada fakta. (ema/suara.com)

 

Oleh : Dilla Annisa

 

Demokrasi merupakan sistem politik yang menitikberatkan partisipasi rakyat dalam pengambilan keputusan, baik melalui pemilihan umum, musyawarah, maupun mekanisme lainnya Namun, pemikiran kritis dari Jean Baudrillard mengungkapkan bahwa demokrasi dalam realitas modern tidak selalu mencerminkan keterlibatan rakyat secara murni, melainkan telah mengalami pergeseran menjadi sebuah hiperrealitas.Baca Juga: Warga Tidak Terprovokasi Jelang Hari HAM dan HUT Melanesia: “Fokus Sambut Natal, Jaga Wamena Tetap Damai”

Menurut Baudrillard dunia realitas lebih banyak dipengaruhi oleh simbol dan representasi yang diciptakan oleh media massa dibandingkan dengan esensi realitas yang sebenarnya.


Sebagai contoh, masyarakat sering kali menerima realitas politik melalui kampanye yang telah dikonstruksi sedemikian rupa dan bukan berdasarkan fakta politik yang. Dalam kondisi ini, demokrasi tidak lagi hanya menjadi sistem pemerintahan, tetapi juga sebuah tatanan yang penuh dengan ilusi, di mana opini publik dibentuk oleh narasi yang terus- menerus diproduksi dan dikendalikan oleh kekuatan kampanye.Baca Juga: Gubernur Jatim Salurkan Bantuan & Pastikan Kirim Relawan Medis dan Obat Obatan ke Aceh


Kampanye politik merupakan sarana komunikasi yang digunakan untuk membangun elektabilitas kandidat di mata publik. Dalam praktiknya, kampanye tidak hanya sekadar menyampaikan visi, misi, dan program kerja, tetapi juga menciptakan hiperrealitas politik melalui pembentukan simulacra.

Simulacra dalam konteks ini merujuk pada gambaran politik yang lebih bersifat ilusi daripada realitas, di mana citra kandidat dikonstruksi sedemikian rupa sehingga sering kali berbeda dari keadaan sebenarnya.

Baca Juga: Dua Dosen Universitas Dehasen Bengkulu Terima Penghargaan Internasional
Kampanye digital dalam dunia politik modern telah berkembang menjadi sebuah produksi simulacra, di mana realitas yang disajikan kepada publik sering kali merupakan hasil konstruksi media sosial, big data, dan algoritma.

TikTok merupakan salah satu media sosial populer yang digemari oleh berbagai kalangan masyarakat. Menurut laporan, TikTok menjadi salah satu media sosial yang paling lama diakses, dengan rata-rata penggunaan sekitar 29 jam dalam satu bulan.Baca Juga: Ratusan Desa di Bengkulu Belum Cairkan Dana Desa Non Earmarked Tahap II

TikTok adalah platform yang paling lama digunakan, dengan rata-rata durasi penggunaan mencapai 1,5 jam per hari. Selain sebagai platform hiburan, TikTok juga berfungsi sebagai alat untuk melakukan kampanye digital, sehingga kampanye digital melalui TikTok memiliki berbagai manfaat yang berdampak positif dan sangat visible untuk digunakan sebagai pengganti alat kampanye tradisional.


Kampanye Partai Gerindra dan PDI-Perjuangan dalam Pemilu Presiden 2024 di platform TikTok menciptakan sebuah lanskap politik yang sepenuhnya terlepas dari realitas substantif program dan kebijakan.Baca Juga: Warga Tidak Terprovokasi Jelang Hari HAM 10 Desember: Mari Jaga Kamtibmas dan Sambut Natal Dengan Damai

Melalui pendekatan teori Baudrillard (2006), dapat diamati bahwa konten-konten yang dihasilkan kedua partai tersebut beroperasi sebagai simulacra, di mana tanda-tanda tidak lagi mewakili realitas sama sekali tetapi justru menggantikannya dengan realitas buatannya sendiri.


Kampanye PDIP dan Gerindra Di TikToknya dalam konteks representasi kepentingan anak muda, kedua partai tidak benar-benar menjawab aspirasi atau masalah struktural yang dihadapi generasi muda. Kepentingan anak muda justru direduksi dan disimulasi melalui penggunaan bahasa gaul, janji-janji gemilang yang tidak jelas implementasinya, dan ilusi partisipasi melalui engagement media sosial.Baca Juga: Jelang Hari HAM Sedunia, Kepala Distrik Bibida Ajak Warga Paniai Jaga Kedamaian di Bulan Desember

Halaman:

Tags

Terkini

Sapi Banpres dan Hikmah dari Dusun Ngumpul

Senin, 1 Juni 2026 | 11:20 WIB

Kebijakan Penghematan BBM dari Sisi Transportasi

Senin, 13 April 2026 | 07:05 WIB

“Untal Malang” ke Otonomi Guru

Jumat, 10 April 2026 | 14:27 WIB

Quo Vadis Tata Kelola PNBP Kepelabuhanan

Rabu, 1 April 2026 | 10:24 WIB