Presiden Berganti, Diplomasi Tetap Berlanjut: Strategi di Balik Pengutusan Jokowi ke Pemakaman Paus

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Senin, 28 April 2025 | 09:00 WIB
Theofransus Litaay
Theofransus Litaay

 

Oleh : Theofransus Litaay


Mengapa seorang mantan presiden diutus mewakili negara dalam pemakaman kepala negara asing? Jawabannya bukan sekadar soal kehadiran, melainkan pesan diplomatik yang sarat makna.Baca Juga: Kamaluddin Terpilih Aklamasi Pimpin DPP AABI 2025-2030

Dalam tradisi hubungan internasional, mengirimkan mantan presiden atau pemimpin senior untuk menghadiri pemakaman kepala negara lain adalah praktik yang telah lama dilakukan.

"Ini bukan hanya bentuk penghormatan, tetapi juga sebuah strategi diplomatik halus yang memperkuat hubungan antarbangsa, menjaga kesinambungan komunikasi, serta menunjukkan solidaritas global.Baca Juga: Revitalisasi dan Pembangunan Rumah Mata Kota Bengkulu Telan Dana Rp 110 Miliar

Mengapa Mantan Presiden? Menghadirkan mantan presiden memungkinkan negara mengirim figur yang tetap memiliki wibawa tinggi tanpa mengganggu tugas-tugas kenegaraan presiden aktif. Mantan presiden membawa simbol kesinambungan negara, sekaligus menawarkan kehangatan personal yang kadang lebih efektif dalam momen-momen penuh emosi seperti pemakaman.Baca Juga: Berantas Praktik Prostutisi, Wali Kota Dedy Wahyudi Razia Warem dan Penjual Miras di Kota Bengkulu

Diplomasi di Balik Duka Tindakan ini menyiratkan bahwa hubungan antarnegara tidak hanya bersifat formal, melainkan juga personal dan berkelanjutan melampaui masa jabatan. Kehadiran di pemakaman menjadi pernyataan publik tentang pentingnya hubungan bilateral yang telah terjalin, sekaligus menghindari kesan renggang di tengah pergantian kepemimpinan.Baca Juga: Menyentuh Hati Lewat Ruqyah: Kisah Aipda Fahrurrozi, Polisi yang Menjadi Obat Bagi Masyarakat

Preseden Internasional

Amerika Serikat kerap mengutus mantan presiden, seperti saat George W. Bush dan Bill Clinton mewakili AS di berbagai pemakaman kenegaraan.Baca Juga: Disorot karena Pajak Menunggak, Dedi Mulyadi Mutasi Mobil ke Jawa Barat dan Ganti Pelat Nomor

Inggris mengandalkan anggota senior kerajaan, seperti Pangeran Philip, untuk tampil dalam momen duka di negara sahabat.

Pada 2017, Presiden Joko Widodo mengutus Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri untuk menghadiri pemakaman Raja Bhumibol Adulyadej di Thailand, memperlihatkan betapa seriusnya tradisi ini dijalankan.Baca Juga: Tarif Opsen di Jateng Picu Kekhawatiran: Pajak Kendaraan Naik hingga 48%, Melebihi Thailand


Konteks Indonesia: Jokowi ke Vatikan Keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk mengutus Presiden ke-7 Joko Widodo menghadiri pemakaman Paus Fransiskus mengandung banyak lapisan makna. Selain menunjukkan penghormatan tertinggi terhadap sosok Paus yang berpengaruh luas secara global, ini juga mencerminkan eratnya hubungan pribadi dan diplomatik yang telah dibangun Jokowi dengan Vatikan selama masa kepemimpinannya.Baca Juga: Menanti Konklaf Usai Wafatnya Paus Fransiskus, Siapa Penerus Tahta Suci?

Pengutusan ini mempertegas kontinuitas diplomasi Indonesia dan memperlihatkan kedewasaan negara dalam menjaga hubungan internasional di tengah dinamika politik domestik.

Kesimpulan Dalam diplomasi, setiap isyarat memiliki bobot. Mengutus mantan presiden bukan sekadar soal tata krama, tetapi juga bagian dari politik simbolik yang memastikan bahwa jalinan antarbangsa tetap hangat, kokoh, dan penuh penghormatan – bahkan di tengah suasana berkabung.*

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Sapi Banpres dan Hikmah dari Dusun Ngumpul

Senin, 1 Juni 2026 | 11:20 WIB

Kebijakan Penghematan BBM dari Sisi Transportasi

Senin, 13 April 2026 | 07:05 WIB

“Untal Malang” ke Otonomi Guru

Jumat, 10 April 2026 | 14:27 WIB

Quo Vadis Tata Kelola PNBP Kepelabuhanan

Rabu, 1 April 2026 | 10:24 WIB
X