BPJS: Semua Pasien Harus Dilayani
Sementara itu, Kepala Cabang BPJS Kesehatan Cabang Semarang, Sari Quratul Ainy, menyampaikan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit dan klinik, untuk memastikan pelayanan tetap berjalan.
“Jika peserta nonaktif dan belum dapat direaktivasi, maka akan dibackup oleh pemerintah daerah melalui UHC. Yang terpenting, pasien tetap mendapatkan pelayanan,” katanya.Baca Juga: Travel Papua Wakili Tanah Papua di Pameran Pariwisata dan Travel Terbesar Dunia 2026
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk mengecek status kepesertaan secara mandiri melalui aplikasi Mobile JKN atau layanan WhatsApp resmi BPJS. Melalui layanan tersebut, masyarakat dapat melakukan pendaftaran mandiri dengan mudah.
Menurutnya, proses validasi selama enam bulan bertujuan memastikan bantuan tepat sasaran. Peserta yang tidak memenuhi kriteria desil 1–5 dapat beralih menjadi peserta mandiri.Baca Juga: Jusuf Kalla : Konflik Timur Tengah, Berdampak Ekonomi bagi Indonesia
Warga Diminta Tenang
Pemkot Semarang menegaskan masyarakat tidak perlu resah atau menyebarkan informasi yang belum jelas. Pemerintah memastikan seluruh warga tetap mendapat akses kesehatan.
“Intinya, tidak ada warga yang tidak dilayani. Pemerintah Kota Semarang hadir untuk menjamin kesehatan masyarakat,” pungkas Agus.Baca Juga: Perang Israel–Iran Memanas, Bandara Dubai hingga Madinah Ditutup, WNI Terjebak
Dengan sinergi lintas sektor ini, Pemkot optimistis seluruh warga tetap terlindungi dalam sistem jaminan kesehatan, sekaligus memastikan bantuan tepat sasaran bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan.*Baca Juga: 2.024 Keluarga Miskin Terima Bantuan Pemasangan Listrik Grtatis dari Pemprov Bengkulu
Artikel Terkait
Kuota PBI JKN Bengkulu 184.000 Jiwa
Pemprov Bengkulu Dukung Percepatan JKS Melalui Pemenuhan Kuota PBI-JK
Darmawangsyah Berharap Banggar Bantu Percepatan Pencairan Dana Sharing PBI BPJS
Pemprov Jateng Siap Berkolaborasi, Verifikasi Ulang 1.089.767 Peserta PBI JK yang Dinonaktifkan
Dirut BPJS Kesehatan Buka Fakta: “Berobat Itu Mahal, Cuma Ada yang Bayarin”