Hotman Paris Murka, Santri Korban Pembakaran Ponpes di Lombok Disebut Sulit Ditemui

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Jumat, 10 Juli 2026 | 18:20 WIB
Hotman Paris geram karena timnya dihalangi untuk bertemu dengan santri korban pembakaran di Lombok Tengah. (Instagram/hotmanparisofficial - sumargodenny)
Hotman Paris geram karena timnya dihalangi untuk bertemu dengan santri korban pembakaran di Lombok Tengah. (Instagram/hotmanparisofficial - sumargodenny)

Jakarta, SUARA PEMBARUAN – Pengacara Hotman Paris Hutapea meluapkan kemarahannya setelah tim Hotman 911 disebut tidak diizinkan bertemu dengan santri korban pembakaran di Pondok Pesantren Rosyidatusshaulatiyyah Al Ibrahimy NW, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Hotman juga menyinggung dugaan adanya tekanan terhadap keluarga korban agar tidak banyak berbicara di media sosial.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @hotmanparisofficial, Jumat (10/7/2026), Hotman menyebut timnya sudah berupaya menjenguk korban namun tidak mendapat akses. Ia mengaku menerima informasi bahwa ibu korban juga sempat dimarahi karena dinilai terlalu sering muncul di media sosial.

“Tim Hotman 911 tidak diizinkan besuk korban, ibunya dimarahin kalau sering masuk medsos,” tulis Hotman dalam unggahannya.

Hotman yang saat ini berada di Singapura menyatakan timnya tetap siap mendampingi keluarga korban. Ia bahkan membuka kemungkinan membawa keluarga korban ke Jakarta untuk memperjuangkan penanganan kasus tersebut.

“Hotman masih di Singapura, tapi Tim Hotman 911 siap bawa keluarga korban ke Jakarta,” lanjutnya.

Tak berhenti di situ, Hotman juga menilai kondisi korban saat ini seperti sengaja dijauhkan dari publik. Ia menyebut korban seolah diisolasi di rumah sakit, sehingga sulit diakses keluarga, media, maupun pihak yang ingin memberi bantuan hukum.

Dalam unggahan lainnya, Hotman meminta Komisi III DPR RI turun tangan dengan memanggil Kapolres Lombok Tengah untuk meminta penjelasan terkait penanganan korban.

“Halo Komisi III DPR agar memanggil Kapolres Lombok Tengah. Bukannya dibawa berobat untuk operasi, malah diisolasi di RS Bhayangkara biar dijauhi dari media,” tulisnya lagi.

Salah satu anggota tim hukum Hotman 911, Putri Maya Rumanti, yang berada di Lombok Tengah, juga mengaku mengalami kesulitan saat hendak menemui korban.

“Mau besuk enggak bisa masuk, katanya dijagain,” kata Putri.

Di sisi lain, keluarga salah satu korban juga secara terbuka meminta bantuan kepada Hotman Paris agar kasus tersebut dikawal hingga tuntas. Permintaan itu disampaikan melalui unggahan video yang turut dibagikan di media sosial.

“Kami dari keluarga santri atas nama SS yang kemarin meninggal dunia, mohon bantuannya untuk pengacara Hotman untuk mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya,” ujar kakak korban.

Ia berharap Hotman Paris dan timnya dapat membantu keluarga memperoleh keadilan atas tragedi yang menimpa adiknya.

Kasus pembakaran santri di ponpes tersebut sendiri kini telah memasuki tahap penetapan tersangka. Satuan Reserse Kriminal Polres Lombok Tengah telah menetapkan dua orang sebagai tersangka, masing-masing MR, yang berstatus anak berhadapan dengan hukum (ABH), dan AMR, selaku pimpinan pondok pesantren.

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X