3 Dokter Meninggal dalam 3 Bulan, Dugaan Bullying di Dunia Medis Kembali Disorot

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Kamis, 9 Juli 2026 | 08:17 WIB
Menyoroti fakta di balik viralnya dugaan perundungan yang dialami dr Adrian Rantung yang masuk daftar skandal kematian tenaga kesehatan di Indonesia. (Dok. Istimewa)
Menyoroti fakta di balik viralnya dugaan perundungan yang dialami dr Adrian Rantung yang masuk daftar skandal kematian tenaga kesehatan di Indonesia. (Dok. Istimewa)

 

Manado, SUARA PEMBARUAN - Dunia medis kembali menjadi sorotan setelah kabar meninggalnya dr. Adrian Rantung, dokter asal Manado yang sedang menempuh Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), ramai diperbincangkan di media sosial. Dokter muda yang sempat menjalani pendidikan Anestesiologi di Universitas Sam Ratulangi itu ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya di Manado pada Minggu, 5 Juli 2026.

Peristiwa ini memicu keprihatinan luas karena dr. Adrian diduga meninggal di tengah tekanan berat selama menjalani pendidikan dan pekerjaan. Dugaan adanya perundungan atau bullying di lingkungan pendidikan kedokteran pun kembali mengemuka.

Merespons kasus tersebut, Kementerian Kesehatan mengambil langkah cepat dengan menghentikan sementara aktivitas pendidikan Program Studi Anestesiologi di RSUP Kandou. Penghentian itu dilakukan sambil menunggu hasil investigasi yang kini tengah berjalan.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Widyawati, menegaskan bahwa kebijakan tersebut hanya berlaku untuk kegiatan pendidikan di lingkungan RSUP Kandou, bukan penghentian program studi secara keseluruhan.

“Sementara investigasi itu berjalan, kegiatan pendidikan prodi anestesi di RS Kandou dihentikan sementara,” kata Widyawati dalam keterangan resminya, Rabu (8/7/2026).

Ia menjelaskan, aktivitas PPDS di RSUP Kandou akan dibuka kembali setelah tim investigasi menyelesaikan penelusuran terhadap kasus tersebut. Pemeriksaan disebut mencakup sejumlah aspek, mulai dari data jam kerja korban, jejak digital, hingga dugaan adanya tekanan atau perundungan dari dokter senior maupun konsulen.

Kasus wafatnya dr. Adrian menambah daftar panjang persoalan serius di dunia pendidikan kedokteran Indonesia. Dalam tiga bulan terakhir, publik setidaknya dihadapkan pada tiga kasus kematian dokter yang diduga berkaitan dengan tekanan kerja, intimidasi, hingga bullying.

Kasus pertama terjadi pada Mei 2026 dan menimpa dr. Myta Aprilia Azmy, dokter internship di RSUD KH Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi. Saat itu, dr. Myta diduga meninggal dunia akibat kelelahan ekstrem setelah menjalani tugas panjang tanpa jeda. Ia disebut bekerja selama berbulan-bulan tanpa libur, dengan kondisi fisik yang terus menurun.

Sorotan publik kemudian berlanjut pada Juni 2026, ketika dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha meninggal dunia di Nusa Tenggara Timur. Dokter muda berusia 27 tahun itu sebelumnya bertugas di RS Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara. Dalam proses investigasi, dr. Icha diduga mengalami tekanan mental berat setelah mendapat intimidasi saat menangani pasien di instalasi gawat darurat.

Kini, pada Juli 2026, wafatnya dr. Adrian kembali memantik pertanyaan besar mengenai kondisi lingkungan pendidikan dan kerja tenaga kesehatan, khususnya di jalur pendidikan dokter spesialis. Publik menyoroti adanya pola tekanan yang berulang, mulai dari jam kerja berlebihan, kultur feodal, hingga dugaan perundungan yang disebut masih membayangi dunia kedokteran.

Rangkaian peristiwa ini memperkuat desakan agar evaluasi menyeluruh segera dilakukan, baik terhadap sistem pendidikan dokter spesialis, pola relasi senior-junior, maupun perlindungan kesehatan mental tenaga medis. Sebab, di balik cita-cita mencetak dokter spesialis berkualitas, ada nyawa dan keselamatan para tenaga kesehatan yang tak boleh lagi dipertaruhkan.

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X