bung-sth-bicara

Toleransi atau Sensasi? Kritik atas Penggunaan Simbol Salib dalam Film Jangan Panggil Mama Kafir

Senin, 2 Maret 2026 | 18:13 WIB

 

Suatu sore, sepulang dari kantor, istri saya mengajak menonton sebuah film drama Indonesia yang tayang di Netflix. Semula karena lelah, saya menanggapinya acuh tak acuh. Namun, akhirnya saya putuskan ikut bergabung menyaksikan film bertajuk "Jangan Panggil Mama Kafir" produksi Maxima Pictures dan Rocket Studio Entertainment, tersebut.Baca Juga: Jangan Panik! 99 Ribu Warga Semarang Nonaktif BPJS Kini Direaktivasi, Layanan Kesehatan Tetap Aman

Karya film ini dipromosikan sebagai film bertema toleransi dan kemanusiaan. Namun, alih-alih menghadirkan dialog yang menyejukkan, sejumlah adegan justru memunculkan kontroversi, terutama penggunaan simbol salib dalam konflik dramatis yang dinilai tidak sensitif.

Film Jangan Panggil Mama Kafir disutradarai Dyan Sunu Prastowo resmi dirilis pada 16 Oktober 2025, dengan pemeran utama Michelle Ziudith, Giorgino Abraham, Elma Theana, dan Dira Sugandi. Film ini membawa kisah drama keluarga penuh haru, tentang cinta, janji, perbedaan iman, hingga konsekuensi dari sebuah keputusan besar dalam hidup.Baca Juga: Kepala Suku Besar Puncak Ajak Masyarakat Jaga Kondusivitas Wilayah Ilaga

Diceritakan Fafat adalah putra seorang ustadzah yang jatuh cinta pada Maria seorang non-muslim. Meski banyak halangan dan penolakan, keduanya tetap memperjuangkan hubungan mereka hingga akhirnya menikah dan dikaruniai seorang putri bernama Laila.

Di tengah perjalanan, takdir berkata lain. Fafat meninggal dalam sebuah kecelakaan. Sebelum pergi, ia meminta Maria membesarkan Laila sesuai ajaran Islam. Sejak saat itu, Maria berjuang menepati janjinya untuk merawat dan mendidik Laila dengan penuh kasih, belajar memahami nilai-nilai Islam, serta menghadapi pandangan sekitar dengan kepala tegak.Baca Juga: Safari Ramadan di Tabah Penanjung, Gubernur Helmi Hasan Serahkan Buku Merah Putih pada Bupati Bengkulu Tengah

Cerita kemudian berpusat pada sosok Maria. Meski ia adalah seorang perempuan Kristen (dibuktikan dengan kalung salib yang dipakainya), namun ia berusaha menepati janji dan mengajarkan Laila tentang agama dan arti toleransi yang sesungguhnya.

Sejak lahir, Laila telah dijanjikan untuk memeluk agama Islam sesuai permintaan sang ayah. Kehidupan Maria memang berubah drastis setelah Fafat meninggal dunia, ia menjadi seorang ibu tunggal yang harus berjuang keras membesarkan anaknya seorang diri. Cobaan demi cobaan menghampiri, semakin berat ketika Umi Habibah, ibu dari Fafat, menggugat hak asuh atas Laila.Baca Juga: Dukung Pertumbuhan Ekonomi Daerah, Pemprov Perbaiki Empat Ruas Jalan Provinsi di Bengkulu Tengah

Pertanyaan mendasar muncul: apakah simbol agama dalam hal ini kalung Salib yang dipakai oleh tokoh Maria (Michelle Ziudith) diperlukan untuk menyampaikan pesan toleransi? Dalam konteks masyarakat majemuk seperti Indonesia, penggunaan simbol keagamaan bukan sekadar elemen estetika. Ia menyangkut iman, identitas, dan ruang sakral umat.

Ketika simbol tersebut ditempatkan dalam konflik dramatis, apalagi dalam narasi yang emosional dan provokatif, maka risiko stereotipe dan generalisasi sangat besar. Film ini seolah berada di antara dua kutub: mengusung toleransi sebagai pesan, namun menggunakan strategi dramatik yang berpotensi menciptakan kontroversi.Baca Juga: Mencekam! Selebgram Tresnany Moonlight Cerita Detik-Detik Rudal Iran Hujani Dubai

Jika tujuan utama adalah membangun empati, seharusnya pendekatan naratif berfokus pada relasi manusia, bukan simbol. Banyak karya sinema dunia berhasil mengangkat isu toleransi tanpa harus menonjolkan atribut agama secara konfrontatif. Fokus pada nilai universal seperti kasih, pengampunan, dan dialog lintas budaya terbukti lebih efektif dan minim gesekan.


Harus dipahami pula bahwa Salib dalam keyakinan umat Kristen adalah simbol yang sakral, bukan asesoris semata. Bagi umat Kristen, salib bukan sekadar simbol visual atau ornamen religius. Salib adalah lambang paling suci yang merangkum inti iman Kristen: kasih, pengorbanan, penebusan, dan harapan akan keselamatan.Baca Juga: Safari Ramadan Gubernur Helmi Hasan, Anggarkan Dana Rp 30 Miliar Atasi Banjir Rawa Makmur, Kota Bengkulu

Secara garis besar, Salib merangkum 6 makna berikut:
1. Lambang Pengorbanan Yesus Kristus

Salib merujuk pada peristiwa penyaliban Yesus Kristus di Golgota. Dalam keyakinan Kristen, kematian Yesus di kayu salib bukan sekadar eksekusi para tentara kekaisaran Romawi, melainkan tindakan kasih ilahi untuk menebus dosa manusia. Karena itu, salib menjadi simbol pengorbanan tertinggi—kasih yang rela menderita demi keselamatan orang lain.

2. Tanda Penebusan dan Keselamatan

Halaman:

Tags

Terkini

Jangan Tunggu (Sampai Ada) Revolusi !

Rabu, 4 Maret 2026 | 15:49 WIB

MBG Untuk Siapa?

Selasa, 24 Februari 2026 | 11:41 WIB

Jalan Pertobatan Menuju Masyarakat Sejahtera

Minggu, 15 Februari 2026 | 10:41 WIB

Wartawan Sejati, Manusia Baik

Rabu, 11 Februari 2026 | 08:40 WIB

Perjalanan Pulang

Senin, 9 Februari 2026 | 17:23 WIB

Reformasi Setengah Hati

Senin, 1 September 2025 | 11:29 WIB

Dwi Hartono dan Dark Triad Personality

Rabu, 27 Agustus 2025 | 10:30 WIB

Arya Daru Tewas, Diplomat Dibungkam?

Jumat, 11 Juli 2025 | 10:33 WIB

Porta Potty Party Dubai

Jumat, 27 Juni 2025 | 09:09 WIB

Gaji Hakim dan Mahalnya Keadilan

Jumat, 13 Juni 2025 | 08:55 WIB

Belajar dari (Kekalahan atas) Jepang

Rabu, 11 Juni 2025 | 09:16 WIB

Oom Simon, Terima Kasih!

Jumat, 23 Mei 2025 | 09:05 WIB

Ijazah dan Ilusi Bangsa yang Tertinggal

Jumat, 16 Mei 2025 | 10:35 WIB