Suatu sore, sepulang dari kantor, istri saya mengajak menonton sebuah film drama Indonesia yang tayang di Netflix. Semula karena lelah, saya menanggapinya acuh tak acuh. Namun, akhirnya saya putuskan ikut bergabung menyaksikan film bertajuk "Jangan Panggil Mama Kafir" produksi Maxima Pictures dan Rocket Studio Entertainment, tersebut.Baca Juga: Jangan Panik! 99 Ribu Warga Semarang Nonaktif BPJS Kini Direaktivasi, Layanan Kesehatan Tetap Aman
Karya film ini dipromosikan sebagai film bertema toleransi dan kemanusiaan. Namun, alih-alih menghadirkan dialog yang menyejukkan, sejumlah adegan justru memunculkan kontroversi, terutama penggunaan simbol salib dalam konflik dramatis yang dinilai tidak sensitif.
Film Jangan Panggil Mama Kafir disutradarai Dyan Sunu Prastowo resmi dirilis pada 16 Oktober 2025, dengan pemeran utama Michelle Ziudith, Giorgino Abraham, Elma Theana, dan Dira Sugandi. Film ini membawa kisah drama keluarga penuh haru, tentang cinta, janji, perbedaan iman, hingga konsekuensi dari sebuah keputusan besar dalam hidup.Baca Juga: Kepala Suku Besar Puncak Ajak Masyarakat Jaga Kondusivitas Wilayah Ilaga
Diceritakan Fafat adalah putra seorang ustadzah yang jatuh cinta pada Maria seorang non-muslim. Meski banyak halangan dan penolakan, keduanya tetap memperjuangkan hubungan mereka hingga akhirnya menikah dan dikaruniai seorang putri bernama Laila.
Di tengah perjalanan, takdir berkata lain. Fafat meninggal dalam sebuah kecelakaan. Sebelum pergi, ia meminta Maria membesarkan Laila sesuai ajaran Islam. Sejak saat itu, Maria berjuang menepati janjinya untuk merawat dan mendidik Laila dengan penuh kasih, belajar memahami nilai-nilai Islam, serta menghadapi pandangan sekitar dengan kepala tegak.Baca Juga: Safari Ramadan di Tabah Penanjung, Gubernur Helmi Hasan Serahkan Buku Merah Putih pada Bupati Bengkulu Tengah
Cerita kemudian berpusat pada sosok Maria. Meski ia adalah seorang perempuan Kristen (dibuktikan dengan kalung salib yang dipakainya), namun ia berusaha menepati janji dan mengajarkan Laila tentang agama dan arti toleransi yang sesungguhnya.
Sejak lahir, Laila telah dijanjikan untuk memeluk agama Islam sesuai permintaan sang ayah. Kehidupan Maria memang berubah drastis setelah Fafat meninggal dunia, ia menjadi seorang ibu tunggal yang harus berjuang keras membesarkan anaknya seorang diri. Cobaan demi cobaan menghampiri, semakin berat ketika Umi Habibah, ibu dari Fafat, menggugat hak asuh atas Laila.Baca Juga: Dukung Pertumbuhan Ekonomi Daerah, Pemprov Perbaiki Empat Ruas Jalan Provinsi di Bengkulu Tengah
Pertanyaan mendasar muncul: apakah simbol agama dalam hal ini kalung Salib yang dipakai oleh tokoh Maria (Michelle Ziudith) diperlukan untuk menyampaikan pesan toleransi? Dalam konteks masyarakat majemuk seperti Indonesia, penggunaan simbol keagamaan bukan sekadar elemen estetika. Ia menyangkut iman, identitas, dan ruang sakral umat.
Ketika simbol tersebut ditempatkan dalam konflik dramatis, apalagi dalam narasi yang emosional dan provokatif, maka risiko stereotipe dan generalisasi sangat besar. Film ini seolah berada di antara dua kutub: mengusung toleransi sebagai pesan, namun menggunakan strategi dramatik yang berpotensi menciptakan kontroversi.Baca Juga: Mencekam! Selebgram Tresnany Moonlight Cerita Detik-Detik Rudal Iran Hujani Dubai
Jika tujuan utama adalah membangun empati, seharusnya pendekatan naratif berfokus pada relasi manusia, bukan simbol. Banyak karya sinema dunia berhasil mengangkat isu toleransi tanpa harus menonjolkan atribut agama secara konfrontatif. Fokus pada nilai universal seperti kasih, pengampunan, dan dialog lintas budaya terbukti lebih efektif dan minim gesekan.
Harus dipahami pula bahwa Salib dalam keyakinan umat Kristen adalah simbol yang sakral, bukan asesoris semata. Bagi umat Kristen, salib bukan sekadar simbol visual atau ornamen religius. Salib adalah lambang paling suci yang merangkum inti iman Kristen: kasih, pengorbanan, penebusan, dan harapan akan keselamatan.Baca Juga: Safari Ramadan Gubernur Helmi Hasan, Anggarkan Dana Rp 30 Miliar Atasi Banjir Rawa Makmur, Kota Bengkulu
Secara garis besar, Salib merangkum 6 makna berikut:
1. Lambang Pengorbanan Yesus Kristus
Salib merujuk pada peristiwa penyaliban Yesus Kristus di Golgota. Dalam keyakinan Kristen, kematian Yesus di kayu salib bukan sekadar eksekusi para tentara kekaisaran Romawi, melainkan tindakan kasih ilahi untuk menebus dosa manusia. Karena itu, salib menjadi simbol pengorbanan tertinggi—kasih yang rela menderita demi keselamatan orang lain.
2. Tanda Penebusan dan Keselamatan