Oom Simon, Terima Kasih!

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Jumat, 23 Mei 2025 | 09:05 WIB
Sketsa Legenda Sepak Bola Belanda asal Maluku, Simon Tahamata
Sketsa Legenda Sepak Bola Belanda asal Maluku, Simon Tahamata


Di dunia sepak bola, tak banyak pemain yang kisah hidupnya melintasi batas antara legenda dan guru. Simon Tahamata adalah satu dari sedikit yang langka itu. Baca Juga: JK : Negara Akan Dihargai Jika Ekonominya Maju dan Punya Pendirian

Sosok mungil asal Vught, Belanda, yang pernah memukau publik Amsterdam dengan kelincahan di sisi lapangan, kini berdiri sebagai simbol harapan baru: bagi anak-anak muda, bagi masa depan sepak bola, termasuk—mungkin yang paling mengejutkan—di Indonesia.

Pada suatu sore di Johan Cruyff Arena, Minggu 3 Maret lalu, waktu seolah diputar mundur. Ajax Amsterdam memberi penghormatan khusus kepada mantan bintangnya itu. Spanduk besar terbentang di tribune: “Oom Simon, Terima Kasih.” Baca Juga: OJK Tegaskan Aturan Bunga Pinjaman Online Demi Lindungi Konsumen

Tidak banyak kata, tapi cukup untuk membuat matanya basah. Emosi membuncah di stadion megah itu, bukan karena skor atau laga, tetapi karena ingatan kolektif pada seorang pemain yang bermain dengan hati.

Tahamata bukan sekadar pesepak bola. Ia adalah narasi hidup tentang konsistensi, kerendahan hati, dan cinta pada permainan indah ini. Lahir dari keluarga Maluku di Belanda, ia menembus sekat-sekat representasi dan membuktikan bahwa talenta bisa mengalir dari siapa saja, asal diberi ruang. Baca Juga: Pemkab Kaur Tertibkan Hewan Ternak Liar Milik Masyarakat Berkeliaran Melalui Tembak Bius

Debut di tim nasional Belanda pada 1979 hanya permulaan. Dalam 22 penampilannya bersama De Oranje, ia mencetak dua gol—statistik yang tak membikin gegap gempita, tapi cukup untuk menunjukkan: “Saya pernah ada di sana.”

Karier klubnya jauh lebih bersinar. Ajax, Standard Liège, Feyenoord, Beerschot, hingga Germinal Ekeren—semuanya pernah menjadi panggung bagi sayap kecil yang lihai itu. Baca Juga: Konsumen Meikarta Menanti Kepastian dari Pemerintahan Prabowo

Di Ajax, ia mengangkat trofi Eredivisie tiga kali dan mengantarkan klub ke semifinal Liga Champions. Di Belgia, ia menjadi "Man of the Season", membawa Standard ke final Eropa, dan dikenal bukan hanya karena gocekan maut, tetapi juga sikap fair play yang konsisten.Baca Juga: Wabup Tarmizi : Pemkab Bengkulu Tengah Dukung Produksi Batik Sungai Lemau

Namun yang menarik justru terjadi setelah ia pensiun. Saat kebanyakan mantan pemain mengejar ketenaran sebagai komentator atau pengusaha, Tahamata memilih jalan berbeda: menjadi pelatih anak-anak.

Di balik nama besar klub-klub tempat ia mengabdi—Ajax, Standard Liège, Al Ahli—ada satu benang merah: pendidikan karakter lewat sepak bola. Bahkan ia mendirikan sekolah sepak bolanya sendiri: Simon Tahamata Soccer Academy. Di sinilah cerita bergeser dari trofi ke transformasi, dari kebintangan ke dampak jangka panjang.Baca Juga: Usai Tata Objek Wisata, Pemkot Bengkulu Kini Tertibkan Pedagang Pasar Panorama

Kini, angin perubahan itu bertiup ke timur jauh. Rencana kedatangannya ke Indonesia pada akhir Mei bukan sekadar reuni budaya atau nostalgia darah Maluku. Ini adalah babak baru. Ia datang membawa pengalaman global, jejaring Eropa, dan—yang paling penting—kesadaran bahwa talenta di negeri ini tidak kurang, hanya kurang diarahkan.

Apa arti kehadiran Oom Simon bagi Indonesia? Ia mungkin tidak membawa sistem ajaib, tapi ia membawa cara berpikir. Profesionalisme yang tidak meledak-ledak tapi konsisten. Disiplin yang tidak keras, tapi membumi. Ia tahu bagaimana membentuk pemain, bukan hanya mencetak pesepak bola.Baca Juga: Masyarakat Kota Bengkulu Diminta Waspadai Ancaman Kebakaran

Kita boleh berharap, tapi tidak berlebihan. Sepak bola Indonesia tidak butuh pahlawan penyelamat. Ia butuh arsitek yang sabar dan visioner—yang melihat anak muda sebagai benih, bukan hanya pemain cadangan. Dan dalam konteks itu, Simon Tahamata lebih dari cukup.

Jadi ketika suporter Ajax menulis “Terima Kasih” di tribun, mereka mungkin tak sadar bahwa ucapan itu sedang menggema jauh ke seberang samudra. Di Indonesia, ucapan itu bisa jadi awal dari kisah baru: tentang anak-anak kampung yang suatu hari nanti akan berkata, “Kami belajar dari Oom Simon.”Baca Juga: Karnaval Paskah 2025 Warnai Semarang, Rekayasa Lalu Lintas Diberlakukan Jumat Sore

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Jangan Tunggu (Sampai Ada) Revolusi !

Rabu, 4 Maret 2026 | 15:49 WIB

MBG Untuk Siapa?

Selasa, 24 Februari 2026 | 11:41 WIB

Jalan Pertobatan Menuju Masyarakat Sejahtera

Minggu, 15 Februari 2026 | 10:41 WIB

Wartawan Sejati, Manusia Baik

Rabu, 11 Februari 2026 | 08:40 WIB

Perjalanan Pulang

Senin, 9 Februari 2026 | 17:23 WIB

Reformasi Setengah Hati

Senin, 1 September 2025 | 11:29 WIB

Dwi Hartono dan Dark Triad Personality

Rabu, 27 Agustus 2025 | 10:30 WIB

Arya Daru Tewas, Diplomat Dibungkam?

Jumat, 11 Juli 2025 | 10:33 WIB

Porta Potty Party Dubai

Jumat, 27 Juni 2025 | 09:09 WIB

Gaji Hakim dan Mahalnya Keadilan

Jumat, 13 Juni 2025 | 08:55 WIB

Belajar dari (Kekalahan atas) Jepang

Rabu, 11 Juni 2025 | 09:16 WIB

Oom Simon, Terima Kasih!

Jumat, 23 Mei 2025 | 09:05 WIB

Ijazah dan Ilusi Bangsa yang Tertinggal

Jumat, 16 Mei 2025 | 10:35 WIB
X