Wartawan Sejati, Manusia Baik

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Rabu, 11 Februari 2026 | 08:40 WIB

“Untuk menjadi wartawan sejati, seseorang harus menjadi manusia yang baik.”

Adagium itu disampaikan Ryszard Kapuściński, wartawan, koresponden internasional, sekaligus penulis nonfiksi sastra asal Polandia. Pria kelahiran 4 Maret 1932, di Pinsk (saat itu wilayah Polandia, kini jadi bagian negara Belarus) menjelaskan gagasannya: bahwa jurnalisme bukan sekadar keterampilan teknis menulis berita, mengumpulkan data, atau mengejar kecepatan publikasi. Lebih dari itu, jurnalisme adalah praktik kemanusiaan.Baca Juga: Booth BYD di IIMS 2026 Jadi Magnet EV Lovers, Komunitas BEYOND Ramaikan Pengalaman Listrik yang Nyata

Seorang wartawan, kata Ryszard Kapuściński, berhadapan langsung dengan manusia lain—dengan penderitaan, harapan, ketidakadilan, dan kebenaran yang sering kali rapuh—sehingga kualitas moral pribadi wartawan menjadi fondasi utama pekerjaannya. Dengan kata lain, etika, empati, dan kemanusiaan adalah fondasi profesi wartawan.


Menjadi “manusia yang baik” berarti memiliki empati: kemampuan mendengar dengan sungguh, memahami konteks hidup narasumber, dan tidak memperlakukan mereka sekadar sebagai objek berita. Wartawan yang berempati tidak mengeksploitasi luka, tragedi, atau kemiskinan demi sensasi, melainkan menghadirkannya dengan hormat dan tanggung jawab. Di sinilah etika bertemu dengan kemanusiaan.Baca Juga: Bikin Gaduh Jalanan, Knalpot Brong Jadi Target Operasi Keselamatan Candi 2026

Melalui gagasan ini, Kapuściński mengingatkan bahwa kualitas jurnalisme pada akhirnya mencerminkan kualitas manusianya. Wartawan yang baik lahir dari manusia yang baik—yang hatinya peka, nuraninya hidup, dan komitmennya pada kebenaran serta kemanusiaan tidak tergoyahkan.

Ryszard Kapuściński adalah seorang wartawan, penulis, dan koresponden perang legendaris asal Polandia, yang dikenal luas sebagai salah satu jurnalis paling berpengaruh di abad ke-20. Dia wafat pada 23 Januari 2007 dalam usia 75 tahun.Baca Juga: Genjot Reformasi Pasar Modal, OJK–BEI–KSEI Gaspol Benahi Transparansi demi Naik Kelas Global

Kapuściński dikenal karena liputannya dari Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Timur Tengah, terutama dari negara-negara yang mengalami perang, revolusi, kemiskinan, dan pergolakan politik. Ia bukan tipe wartawan yang hanya melaporkan peristiwa dari jauh—ia hidup bersama orang-orang kecil, mendengar cerita mereka, dan menuliskannya dengan empati mendalam.

Yang membuatnya istimewa, Ia memadukan jurnalisme dan sastra (sering disebut literary journalism). Fokusnya bukan hanya pada fakta politik, tapi pada pengalaman manusia di balik peristiwa besar. Ia percaya bahwa wartawan harus punya kepekaan moral dan kemanusiaan, bukan sekadar kecerdasan intelektual.Baca Juga: Awal 2026 Ngebut! Penumpang Bandara Ahmad Yani Tembus 201 Ribu, Penerbangan Melesat 40%

Beberapa karyanya yang terkenal, yakni The Emperor (tentang runtuhnya kekaisaran Ethiopia), Shah of Shahs (tentang Revolusi Iran), Imperium (tentang Uni Soviet), dan The Soccer War (kumpulan reportase konflik dan kemanusiaan).

Karena pemikirannya, Kapuściński sering dikutip bukan hanya di dunia pers, tapi juga dalam diskusi etika, kemanusiaan, dan tanggung jawab moral wartawan. Kutipannya, “Untuk menjadi wartawan sejati, seseorang harus menjadi manusia yang baik,” merangkum seluruh pandangannya tentang profesi ini.Baca Juga: Data Masih Amburadul, Baleg DPR Desak ‘Satu Data Indonesia’ Jadi Prioritas Nasional

Ryszard Kapuściński bekerja untuk Polish Press Agency (PAP) atau Polska Agencja Prasowa. Ia bergabung dengan PAP pada tahun 1958 dan bekerja di sana selama puluhan tahun sebagai koresponden luar negeri. Melalui PAP inilah Kapuściński meliput berbagai peristiwa besar dunia—perang, kudeta, revolusi, dan runtuhnya rezim—di Afrika, Asia, Amerika Latin, dan Timur Tengah.

Kapuściński sering menjadi satu-satunya koresponden Polandia di wilayah konflik. Laporannya dikirim sebagai berita kantor, tetapi kemudian banyak dikembangkan menjadi buku reportase sastra. Selain bekerja untuk PAP, tulisan-tulisannya juga diterjemahkan dan dimuat di berbagai media internasional.Baca Juga: Data Masih Amburadul, Baleg DPR Desak ‘Satu Data Indonesia’ Jadi Prioritas Nasional

Ryszard Kapuściński mulai tertarik pada jurnalistik dan dunia tulis-menulis sejak masa muda. Ia sangat tertarik pada peristiwa dunia dan sejarah kontemporer, bukan hanya masa lampau. Ini menumbuhkan rasa ingin mengamati dan menafsirkan peristiwa secara mendalam.

Sejak muda, Kapuściński ingin memahami manusia dalam konteks sejarah dan konflik. Ia percaya bahwa politik, perang, dan perubahan sosial paling nyata terasa dalam kehidupan sehari-hari orang biasa. Inilah yang menjadi dasar humanisme dalam liputannya kelak.Baca Juga: Ucapkan Selamat Hari Pers Nasional 2026, Gubernur Bengkulu : Jurnalisme Bernurani dan Junjung Tinggi Etika

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Jangan Tunggu (Sampai Ada) Revolusi !

Rabu, 4 Maret 2026 | 15:49 WIB

MBG Untuk Siapa?

Selasa, 24 Februari 2026 | 11:41 WIB

Jalan Pertobatan Menuju Masyarakat Sejahtera

Minggu, 15 Februari 2026 | 10:41 WIB

Wartawan Sejati, Manusia Baik

Rabu, 11 Februari 2026 | 08:40 WIB

Perjalanan Pulang

Senin, 9 Februari 2026 | 17:23 WIB

Reformasi Setengah Hati

Senin, 1 September 2025 | 11:29 WIB

Dwi Hartono dan Dark Triad Personality

Rabu, 27 Agustus 2025 | 10:30 WIB

Arya Daru Tewas, Diplomat Dibungkam?

Jumat, 11 Juli 2025 | 10:33 WIB

Porta Potty Party Dubai

Jumat, 27 Juni 2025 | 09:09 WIB

Gaji Hakim dan Mahalnya Keadilan

Jumat, 13 Juni 2025 | 08:55 WIB

Belajar dari (Kekalahan atas) Jepang

Rabu, 11 Juni 2025 | 09:16 WIB

Oom Simon, Terima Kasih!

Jumat, 23 Mei 2025 | 09:05 WIB

Ijazah dan Ilusi Bangsa yang Tertinggal

Jumat, 16 Mei 2025 | 10:35 WIB
X