Sri Sultan Tegaskan Peran Strategis Pers Jaga Demokrasi di Tengah Arus Informasi Deras

Photo Author
Philipus Anton, Suara Pembaruan
- Kamis, 22 Januari 2026 | 19:47 WIB
pelantikan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DIY periode 2025–2030, Kamis (22/1), di Gedhong Pracimasana, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta. (Doc. Humas Pemda DIY)
pelantikan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DIY periode 2025–2030, Kamis (22/1), di Gedhong Pracimasana, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta. (Doc. Humas Pemda DIY)

Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengingatkan dunia pers untuk menjadikan etika dan integritas sebagai fondasi utama dalam menjalankan fungsinya. Peringatan ini disampaikan di tengah tantangan era pasca-kebenaran, di mana kecepatan dan viralitas informasi kerap mengabaikan prinsip verifikasi.

“Kemerdekaan pers harus berjalan beriringan dengan integritas dan kebijaksanaan, serta kesadaran penuh atas dampak sosial informasi di ruang publik,” tegas Sri Sultan dalam sambutannya pada pelantikan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DIY periode 2025–2030, Kamis (22/1), di Gedhong Pracimasana, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta.

Dalam acara yang dihadiri Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, tersebut, Sri Sultan mengkritik praktik jurnalistik yang hanya mengejar kecepatan dan viralitas. Menurutnya, hal itu berpotensi menggeser prinsip kehati-hatian sehingga opini dan algoritma dapat mengalahkan fakta.

“Pers yang bermartabat bukan hanya hadir lebih cepat dari peristiwa, tetapi lebih dalam dari sekadar ‘headline’. Inilah era, dimana arus informasi kerap bergerak jauh lebih cepat daripada proses verifikasi. Jangan sampai opini mengalahkan fakta dan algoritma lebih berpengaruh daripada nurani,” paparnya.

Sri Sultan menawarkan falsafah Jawa, Undhaking Pawarta Sudaning Kiriman, sebagai pedoman etika bagi insan pers. Falsafah ini menekankan bahwa mutu sebuah kabar ditentukan oleh kejernihan sumber, ketepatan cara, dan kebersihan niat dalam menyampaikannya.

Ia juga menegaskan posisi strategis pers sebagai mitra pemerintah dalam menjaga kualitas demokrasi dan kepercayaan publik. Relasi ini, ditegaskannya, harus dibangun dengan jarak yang sehat namun tetap saling menguatkan demi kepentingan masyarakat.

Sejalan dengan pesan Sri Sultan, Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, menegaskan bahwa tugas utama organisasi profesi ini adalah menjaga marwah wartawan di tengah tantangan industri media yang berat.

“Marwah profesi wartawan saat ini sedang mengalami tantangan yang sangat berat. Wartawan harus tetap kokoh menjalankan kode etik meski berada di tengah tekanan bisnis media yang tidak mudah,” kata Munir.

Pada kesempatan yang sama, PWI menganugerahkan keanggotaan kehormatan kepada Sri Sultan sebagai bentuk penghargaan atas kepeduliannya terhadap kemerdekaan pers dan kontribusi bagi masyarakat.

Berikut susunan pengurus inti PWI DIY periode 2025–2030 yang dilantik:

  • Ketua: Hudono (Koran Merapi)
  • Sekretaris: Primaswolo Sudjono (Kedaulatan Rakyat)
  • Wakil Sekretaris: Hari Susmayanti (Tribun Jogja)
  • Bendahara: Swasto Dayanto (Koran Merapi)
  • Wakil Bendahara: Sigit Purwita (beritajogja.com)

Editor: Philipus Anton

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB
X