Pakar Psikologi UMY Beberkan Modus Child Grooming dan Trauma Berkepanjangan yang Dialami Korban

Photo Author
Philipus Anton, Suara Pembaruan
- Sabtu, 17 Januari 2026 | 20:30 WIB
Psikolog Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Cahyo Setiadi Ramadhan, S.Psi., M.Psi., Psikolog. (Doc. Humas UMY) (Istimewa)
Psikolog Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Cahyo Setiadi Ramadhan, S.Psi., M.Psi., Psikolog. (Doc. Humas UMY) (Istimewa)

Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Kasus child grooming atau pendekatan halus untuk mengeksploitasi anak kerap bermula dari interaksi yang tampak biasa, bahkan terkesan hangat dan penuh perhatian. Fenomena ini, seperti yang dialami Aurelie Moeremans sejak remaja, mengungkap bagaimana relasi tidak sehat dibangun secara bertahap hingga menciptakan ketergantungan emosional pada korban.

Psikolog Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Cahyo Setiadi Ramadhan, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa proses bertahap dan manipulatif merupakan ciri khas child grooming. Pelaku dengan sengaja membangun ikatan emosional dengan anak sebelum akhirnya memanfaatkan hubungan itu untuk kepentingan pribadi, sering kali dalam bentuk eksploitasi seksual.

"Pelaku menciptakan rasa aman dan ketergantungan. Saat anak sudah merasa nyaman dan bergantung secara emosional, pelaku mulai mengambil keuntungan dari situasi itu," jelas Cahyo di UMY, Sabtu (17/1).

Yang memperparah, lanjut Cahyo, child grooming dalam beberapa kasus bisa berujung pada hubungan yang seolah sah di mata masyarakat, seperti pernikahan. Namun, status formal tersebut tidak menghilangkan jejak eksploitasi dan ketimpangan kuasa yang sudah terbangun sejak awal.

"Relasi yang dimulai saat anak dalam posisi rentan akan tetap membawa ketidaksetaraan. Sulit bagi hubungan seperti itu untuk tumbuh menjadi hubungan yang sehat dan setara," tegasnya.

Bahaya praktik ini sering luput dari pengamatan karena pelaku biasanya menyamar sebagai figur yang peduli, suportif, dan layak dipercaya.

"Pelaku tampil sebagai pendengar yang baik, memberi perhatian dan validasi emosional. Di balik topeng baik itu, tersimpan motif tidak sehat yang dapat merusak perkembangan psikologis anak," ungkap Cahyo.

Dampak psikologis yang dihadapi korban, menurut Cahyo, bisa bersifat jangka panjang. Awalnya, korban mungkin mengalami kebingungan, rasa tidak nyaman, dan konflik batin. Namun, kondisi ini dapat berkembang menjadi trauma yang lebih serius.

"Dalam jangka panjang, korban berisiko mengalami rendah diri, kecemasan tinggi, kesulitan membangun hubungan sehat, hingga gangguan stres pascatrauma (PTSD). Perasaan bersalah karena tidak bisa menolak juga sering terbawa hingga dewasa," paparnya.

Untuk mencegah child grooming, Cahyo menekankan peran kunci orang tua dan lingkungan terdekat dalam membangun kedekatan emosional yang sehat dengan anak. Komunikasi terbuka dan pendampingan yang kuat dapat menjadi benteng perlindungan.

"Anak perlu diajarkan tentang batasan diri, bagian tubuh yang privat, serta keberanian untuk menolak. Dengan fondasi emosional yang kuat dari keluarga, anak akan lebih sulit dimasuki oleh orang-orang yang berniat buruk," pungkasnya.

Editor: Philipus Anton

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB
X