Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN – Upaya memperkuat ekosistem pariwisata di kawasan Candi Prambanan dan Keraton Ratu Boko mendapat dorongan baru melalui program Ambara Budaya Peningkatan Kapasitas UMKM dan Pendukung Pariwisata yang digagas InJourney Destination Management (IDM). Program ini dirancang untuk mengangkat peran usaha mikro, kecil, dan menengah agar mampu beradaptasi dengan kebutuhan wisata modern sekaligus menjaga keberlanjutan ekonomi lokal.
Sebanyak seratus pelaku UMKM dari wilayah sekitar Prambanan mengikuti kegiatan ini. Mereka berasal dari Kecamatan Prambanan di Klaten, Jawa Tengah, Desa Bokoharjo dan Sambirejo di Sleman, Yogyakarta, serta Desa Tamanmartani di Kecamatan Kalasan. Produk yang mereka hasilkan beragam, mulai dari kuliner tradisional, fesyen berbasis batik ecoprint dan shibori, hingga jasa wisata dan layanan kreatif seperti salon maupun bengkel.
Baca Juga: Prekuel Sewu Dino, Janur Ireng Hadirkan Horor Jawa Lebih Pekat
General Manager Prambanan dan Ratu Boko, Ratno Timur, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pemetaan sosial yang telah dilakukan IDM. Menurutnya, masyarakat sekitar tidak boleh hanya menjadi penonton, melainkan harus menjadi aktor utama dalam aktivitas pariwisata dan ekonomi kreatif. “Dengan kapasitas yang lebih baik, warga diharapkan mampu mendukung terwujudnya pariwisata berkualitas di kawasan Prambanan,” ujarnya.
Sustainability Division Head IDM, Ismiyati, menambahkan bahwa program ini merupakan bagian dari pilar ekonomi Cipta Ambara Budaya. Fokusnya adalah pemberdayaan UMKM di kawasan warisan budaya dunia agar mampu bersaing sekaligus menjaga identitas lokal. Dampak kegiatan ini akan dinilai menggunakan metode Social Return on Investment (SROI), sehingga manfaatnya benar-benar terukur dan dirasakan masyarakat.
Baca Juga: Kasus Penggeledahan Penumpang Super Air Jet Korban Tempuh Jalur Hukum
Materi pelatihan mencakup pengenalan legalitas usaha, kesadaran pasar, hingga pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan. Para pelaku usaha didorong untuk mengurus Nomor Induk Berusaha (NIB) sebagai pintu masuk legalitas, sekaligus mempermudah akses sertifikasi seperti PIRT dan halal. Selain itu, mereka juga dilatih membuat foto produk sederhana dan mengolahnya dengan aplikasi berbasis AI agar tampil lebih menarik di media sosial. Kemasan dan visual yang baik diyakini akan meningkatkan daya jual produk serta memperluas jangkauan pasar.
Kepala Desa Bokoharjo menyambut positif langkah ini. Ia menilai masyarakat yang tinggal di kawasan ring satu Candi Prambanan memiliki peran strategis dalam mendukung pariwisata berkelanjutan. Pelatihan ini diharapkan mampu mendorong UMKM naik kelas, memperkuat kualitas produk, dan memberi kontribusi nyata bagi ekosistem pariwisata Prambanan.
Salah satu peserta, Rindang Irwina, mengaku pelatihan ini membuka wawasan baru. Ia merasa lebih memahami pentingnya legalitas usaha serta cara menampilkan produk agar lebih menjual di media sosial. Harapannya, pengetahuan tersebut dapat meningkatkan daya tarik dan penjualan produk yang ia hasilkan.
Dengan program Ambara Budaya, IDM tidak hanya menempatkan UMKM sebagai pelengkap pariwisata, tetapi sebagai motor penggerak ekonomi lokal. Di tengah tantangan global, langkah ini menjadi bukti bahwa penguatan kapasitas masyarakat sekitar warisan budaya dunia adalah kunci menjaga keberlanjutan sekaligus meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia.
Artikel Terkait
Bakpia Kukus Tugu Jogja Resmikan Gerai Terbesar Berkonsep Satu Tempat Banyak Rasa
Debut di DPR, Dirut Baru KAI Bobby Rasyidin Ungkap Perjalanan dari Industri Pertahanan ke Transportasi Kereta Api
Ignasius Jonan Dipanggil Prabowo di Tengah Panasnya Isu Whoosh: Kami Hanya Sharing, Bukan Bahas Kereta Cepat