Toleransi atau Sensasi? Kritik atas Penggunaan Simbol Salib dalam Film Jangan Panggil Mama Kafir

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Senin, 2 Maret 2026 | 18:13 WIB


Komersialisasi Isu Agama

Tak dapat dipungkiri, tema agama memiliki daya tarik pasar. Kontroversi seringkali menjadi strategi promosi yang efektif. Namun, di sinilah letak persoalan. Ketika isu sensitif dijadikan komoditas, kualitas dialog publik justru menurun. Diskursus tentang toleransi berubah menjadi polemik emosional.Baca Juga: Gubernur Bengkulu Pasang Listrik dan Bedah Rumah Janda Miskin di Rejang Lebong

Industri film perlu refleksi: apakah kontroversi adalah satu-satunya cara menarik penonton? Jika demikian, maka film kehilangan fungsi edukatif dan transformasionalnya. Padahal, sejarah perfilman Indonesia menunjukkan bahwa karya yang matang dan reflektif justru lebih bertahan lama.

Kasus ini juga menunjukkan pentingnya peran lembaga sensor dan komunitas film dalam menjaga keseimbangan antara kebebasan artistik dan tanggung jawab sosial. Kritik publik bukan ancaman, melainkan mekanisme koreksi.Baca Juga: Menbud Fadli Zon Resmikan Pemugaran Masjid Padang Betuah, Perkuat Jejak Peradaban Islam di Bengkulu Tengah

Selain itu, literasi media masyarakat juga menjadi kunci. Penonton perlu memahami bahwa film adalah konstruksi, bukan realitas mutlak. Namun, tanggung jawab terbesar tetap berada pada pembuat film. Mereka memiliki kekuatan membentuk imajinasi kolektif.

Film bertema toleransi seharusnya menjadi ruang dialog, bukan arena konflik baru. Penggunaan simbol agama harus dilakukan secara hati-hati, kontekstual, dan penuh penghormatan. Jika tidak, pesan yang ingin disampaikan justru kehilangan makna.Baca Juga: Perkuat Ekonomi Syariah, Pemprov Bengkulu Dukung Launching LKS-PWU dan CWLD

Kritik terhadap film Jangan Panggil Mama Kafir bukan bentuk anti terhadap karya seni, tetapi seruan agar sinema Indonesia semakin matang, berani, sekaligus sensitif. Toleransi bukan sekadar slogan promosi. Ia adalah komitmen yang harus tercermin dalam setiap detail cerita.

Pada akhirnya, publik berhak mengingatkan bahwa karya seni, terutama yang menyentuh ranah iman, tidak boleh sekadar mengejar sensasi. Indonesia membutuhkan film yang menyembuhkan luka sosial, bukan memperdalamnya. Dengan pendekatan yang lebih bijak, industri film dapat menjadi kekuatan pemersatu, bukan sumber polemik baru.*Baca Juga: Safari Ramadan, Pemprov Bengkulu Bantu 10 Unit Ambulans Untuk Kabupaten Kepahiang

BUNG STH BICARA adalah kolom opini tentang isu hangat dan aktual yang ditulis oleh Stefy Thenu, jurnalis senior Suara Pembaruan, aktivis sejumlah organisasi, anggota PWI Jateng dan bersertifikat Wartawan Utama Dewan Pers.

 

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Jangan Tunggu (Sampai Ada) Revolusi !

Rabu, 4 Maret 2026 | 15:49 WIB

MBG Untuk Siapa?

Selasa, 24 Februari 2026 | 11:41 WIB

Jalan Pertobatan Menuju Masyarakat Sejahtera

Minggu, 15 Februari 2026 | 10:41 WIB

Wartawan Sejati, Manusia Baik

Rabu, 11 Februari 2026 | 08:40 WIB

Perjalanan Pulang

Senin, 9 Februari 2026 | 17:23 WIB

Reformasi Setengah Hati

Senin, 1 September 2025 | 11:29 WIB

Dwi Hartono dan Dark Triad Personality

Rabu, 27 Agustus 2025 | 10:30 WIB

Arya Daru Tewas, Diplomat Dibungkam?

Jumat, 11 Juli 2025 | 10:33 WIB

Porta Potty Party Dubai

Jumat, 27 Juni 2025 | 09:09 WIB

Gaji Hakim dan Mahalnya Keadilan

Jumat, 13 Juni 2025 | 08:55 WIB

Belajar dari (Kekalahan atas) Jepang

Rabu, 11 Juni 2025 | 09:16 WIB

Oom Simon, Terima Kasih!

Jumat, 23 Mei 2025 | 09:05 WIB

Ijazah dan Ilusi Bangsa yang Tertinggal

Jumat, 16 Mei 2025 | 10:35 WIB
X