Toleransi atau Sensasi? Kritik atas Penggunaan Simbol Salib dalam Film Jangan Panggil Mama Kafir

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Senin, 2 Maret 2026 | 18:13 WIB

Dalam teologi Kristen, salib adalah titik balik sejarah keselamatan. Melalui kematian dan kebangkitan Kristus, dosa ditebus dan manusia memperoleh jalan menuju keselamatan. Maka, ketika umat Kristen memandang salib, yang diingat bukan hanya penderitaan, tetapi juga kemenangan atas dosa dan maut.Baca Juga: Dunia Berduka! Ali Khamenei Tewas, Iran Tuduh Amerika Serikat–Israel Lakukan Pembunuhan Terencana

3. Simbol Kasih Tanpa Syarat

Salib juga dimaknai sebagai perwujudan kasih tanpa batas. Ayat terkenal dalam Alkitab menyatakan bahwa Allah mengasihi dunia sehingga mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal. Bagi umat Kristen, salib menjadi pengingat bahwa kasih sejati bersifat memberi, bukan menuntut.

4. Identitas dan Iman

Secara sosial dan kultural, salib adalah identitas iman Kristen. Ia hadir di gereja, rumah, sekolah Kristen, bahkan dikenakan sebagai kalung atau tanda di tubuh. Namun, penggunaannya bukan sekadar aksesori; ia menjadi pernyataan iman dan komitmen hidup mengikuti ajaran Kristus.Baca Juga: Travel Papua Wakili Tanah Papua di Pameran Pariwisata dan Travel Terbesar Dunia 2026

5. Simbol Penderitaan dan Pengharapan

Paradoks salib terletak pada maknanya: alat hukuman mati berubah menjadi lambang harapan. Dari penderitaan lahir kebangkitan. Karena itu, bagi umat Kristen, salib juga menjadi penghiburan saat menghadapi kesulitan hidup—bahwa penderitaan bukan akhir dari segalanya.

6. Ruang Sakral dan Sensitivitas

Karena maknanya yang mendalam, salib diperlakukan dengan hormat. Penempatan, penggambaran, atau penggunaan simbol ini dalam konteks publik memerlukan sensitivitas. Bagi umat Kristen, salib bukan sekadar properti visual, melainkan simbol iman yang hidup dan sakral.Baca Juga: Viral! Diduga Oknum Dinas Perhubungan Kota Medan Pungli Rp500 Ribu ke Sopir Pikap

Singkatnya, salib bagi umat Kristen adalah pusat spiritualitas dan teologi. Ia berbicara tentang kasih, pengampunan, pengorbanan, dan harapan. Karena itu, setiap representasi simbol ini di ruang publik sepatutnya dilakukan dengan penghormatan dan pemahaman yang memadai.

Intoleransi Terselubung dalam Kemasan Narasi

Kalau tema sentral dalam film ini adalah risiko dan dampak dari pernikahan beda agama, mengapa harus Kristen? Mengapa tidak dipilih narasi netral “non-muslim” tanpa harus merujuk pada simbol kekristenan? Padahal, dari berbagai dialog yang ditemukan dalam film ini, pembuat film telah memakai narasi netral tersebut. Kalau ingin netral dan mengusung toleransi, mengapa harus pakai simbol Salib yang menjadi simbol sakral dari Kristen, mengapa tidak pakai simbol lain? Atau seharusnya, jangan pakai simbol (agama tertentu) sama sekali, kalau pembuat film ingin mempertahankan narasi netral tersebut. Baca Juga: Perkuat Ekonomi Syariah, Pemprov Bengkulu Dukung Launching LKS-PWU dan CWLD

Kalau ingin netral dan mengusung toleransi, mengapa di akhir film, perlu ditampilkan adegan pemeran utama wanita yang "melepas kalung salib" - menjadi adegan bias dan rawan konflik karena menunjukkan kelemahan iman dari seorang ibu yang sejak awal berpacaran hingga menikah, tetap mempertahankan iman dan keyakinannya. Sejatinya, jika film ditutup usai adegan sidang dramatis saat pemeran anak menoleh kepada pengacara "Om, jangan panggil Mama kafir", film ini akan benar-benar layak dipuji sebagai film yang mengusung toleransi sejati. Sayangnya, sutradara tidak memilih ending tersebut. 


Kritik keras terhadap film ini muncul karena kekhawatiran adanya “intoleransi terselubung”. Narasi toleransi digunakan sebagai bungkus, tetapi visual yang dihadirkan dapat memperkuat prasangka tertentu di tengah masyarakat. Dalam konteks media, representasi memiliki dampak besar. Penonton tidak selalu memaknai secara kritis. Sebagian akan membawa persepsi yang dibentuk film ke kehidupanBaca Juga: Dukung Pertumbuhan Ekonomi Daerah, Pemprov Perbaiki Empat Ruas Jalan Provinsi di Bengkulu Tengah nyata.

Dalam masyarakat yang masih rentan konflik identitas, pendekatan seperti ini berisiko memperuncing stigma. Sensitivitas sosial bukan berarti membatasi kreativitas, melainkan mengarahkan agar kebebasan berekspresi tetap bertanggung jawab.

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Jangan Tunggu (Sampai Ada) Revolusi !

Rabu, 4 Maret 2026 | 15:49 WIB

MBG Untuk Siapa?

Selasa, 24 Februari 2026 | 11:41 WIB

Jalan Pertobatan Menuju Masyarakat Sejahtera

Minggu, 15 Februari 2026 | 10:41 WIB

Wartawan Sejati, Manusia Baik

Rabu, 11 Februari 2026 | 08:40 WIB

Perjalanan Pulang

Senin, 9 Februari 2026 | 17:23 WIB

Reformasi Setengah Hati

Senin, 1 September 2025 | 11:29 WIB

Dwi Hartono dan Dark Triad Personality

Rabu, 27 Agustus 2025 | 10:30 WIB

Arya Daru Tewas, Diplomat Dibungkam?

Jumat, 11 Juli 2025 | 10:33 WIB

Porta Potty Party Dubai

Jumat, 27 Juni 2025 | 09:09 WIB

Gaji Hakim dan Mahalnya Keadilan

Jumat, 13 Juni 2025 | 08:55 WIB

Belajar dari (Kekalahan atas) Jepang

Rabu, 11 Juni 2025 | 09:16 WIB

Oom Simon, Terima Kasih!

Jumat, 23 Mei 2025 | 09:05 WIB

Ijazah dan Ilusi Bangsa yang Tertinggal

Jumat, 16 Mei 2025 | 10:35 WIB
X