Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN – Nama “Raminten” bukan sekadar label restoran, melainkan simbol kuat yang mewakili semangat pelestarian budaya Jawa melalui cita rasa dan seni. Di balik kesuksesan besar nama ini, berdirilah seorang tokoh berjiwa seni dan berdedikasi tinggi terhadap warisan budaya: Hamzah Sulaiman.Baca Juga: Paus Fransiskus Akan Dimakamkan di Santa Maria Maggiore: Ini Jadwal dan Proses Pemakamannya
Sosok serba bisa ini meninggal dunia pada Rabu, 23 April 2025 di usia 75 tahun di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta. Kepergiannya menyisakan duka mendalam, namun juga menjadi momentum untuk mengenang kiprahnya yang luar biasa dalam dunia seni, usaha, dan pelestarian budaya.Baca Juga: IM3 Platinum: Layanan Sultan Rasa AI, Ga Pake Nunggu-Nunggu!
Dari Seniman Menjadi Ikon Budaya
Hamzah Sulaiman bukan hanya pengusaha, tetapi juga seniman sejati. Ia menciptakan karakter Raminten dalam acara komedi situasi di Jogja TV—seorang perempuan Jawa paruh baya yang penuh humor dan cinta budaya. Tokoh ini muncul lengkap dengan kebaya, jarik, konde, dan kacamata bulat besar, mencerminkan sosok yang menghibur sekaligus menyentuh hati.Baca Juga: Israel Hapus Ucapan Duka untuk Paus Fransiskus: Ketegangan Tersembunyi di Balik Kritik terhadap Perang Gaza
Dari layar kaca, karakter ini menjelma menjadi inspirasi restoran The House of Raminten yang berdiri tahun 2008 di Kotabaru, Yogyakarta. Dengan konsep yang menyatu antara kuliner, budaya, dan seni pertunjukan, restoran ini menjadi salah satu destinasi favorit yang memikat wisatawan lokal dan mancanegara.
Atas dedikasinya, Hamzah dianugerahi gelar kehormatan dari Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai Kanjeng Mas Tumenggung Hamijinindyo, sebagai bentuk apresiasi terhadap jasanya dalam memperkuat identitas budaya Yogyakarta melalui jalur ekonomi kreatif.Baca Juga: Bongkar Sisi Lain Skandal OCI: Mantan Pawang Gajah Ungkap Sifat Asli Bos Taman Safari
Selain restoran, ia juga dikenal sebagai pemilik Hamzah Batik (sebelumnya Mirota Batik), pusat oleh-oleh yang menjadi ikon kawasan Malioboro.
Restoran Bernuansa Tradisi
The House of Raminten bukan hanya tempat makan, tetapi sebuah pengalaman budaya yang imersif. Setiap sudut restoran dirancang untuk menyuguhkan atmosfer Jawa: mulai dari dekorasi kayu klasik, aroma dupa, iringan gamelan, hingga pelayan yang mengenakan pakaian adat seperti kebaya, surjan, dan blangkon.Baca Juga: Stok Terbatas, Masyarakat Bengkulu Sulit Dapatkan BBM Pertalite dan Pertamax di SPBU
Fasilitas area lesehan, patung Raminten ikonik, dan suasana sakral menciptakan ruang yang tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga mengajak pengunjung menyelami budaya Jawa secara langsung.
Restoran ini menawarkan menu yang memadukan resep leluhur dengan sentuhan kekinian:Baca Juga: Warung Legendaris di Puncak Lawu Sepi Setelah Kepergian Mbok Yem, Sang Penjaga Negeri Awan
Sego Kucing Premium, Ayam Koteka, Gudeg Modern, Maheso Selo Gromo, Bebek Lombok Ijo, hingga Tempe Mendoan Eksklusif.
Minuman khas seperti Es Kacang Merah, Wedang Uwuh, Es Perawan Tancep, dan Teh Purwoceng juga menjadi daya tarik tersendiri.Baca Juga: Kepergian Paus Fransiskus Duka Bagi Tanah Papua
Hamzah Sulaiman menjadikan Raminten bukan hanya ruang makan, tapi juga ruang edukasi budaya—terjangkau, terbuka untuk semua, dan inklusif. Lewat tempat ini, ia menyampaikan pesan bahwa budaya Jawa bukan untuk dipajang, tapi untuk dirayakan, dirasakan, dan diwariskan.Baca Juga: Presiden Prabowo Kagum Tanam Padi pakai Drone Pertanian, 1 Hari Bisa Tanam 25 Hektare