Israel Hapus Ucapan Duka untuk Paus Fransiskus: Ketegangan Tersembunyi di Balik Kritik terhadap Perang Gaza

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Kamis, 24 April 2025 | 11:19 WIB
Alasan Israel Menghapus Ucapan Bela Sungkawa untuk Paus Fransiskus. (x.com/jacksonnhingklle)
Alasan Israel Menghapus Ucapan Bela Sungkawa untuk Paus Fransiskus. (x.com/jacksonnhingklle)

SUARA PEMBARUAN – Di balik sikap diam Pemerintah Israel atas wafatnya Paus Fransiskus, tersembunyi babak baru dalam ketegangan diplomatik yang selama ini tak banyak disorot publik.Baca Juga: Menteri Ekraf Merespon Kesiapan Pemkab Gowa Berkolaborasi Tingkatkan Ekonomi Kreatif

Kementerian Luar Negeri Israel sempat mengunggah ucapan belasungkawa di media sosial—namun hanya dalam hitungan jam, pesan itu lenyap.

Ketika dikonfirmasi, seorang pejabat kementerian mengatakan bahwa unggahan tersebut adalah “kesalahan,” sambil menegaskan bahwa kritik tajam Paus terhadap operasi militer Israel di Gaza tak bisa diabaikan, bahkan setelah wafatnya.Baca Juga: Kepergian Paus Fransiskus Duka Bagi Tanah Papua

Kritik itu memang bukan hal sepele. Dalam pernyataan-pernyataan terakhirnya, Paus Fransiskus menggambarkan konflik di Gaza bukan lagi sebagai perang, tetapi sebagai "kekejaman yang memiliki ciri-ciri genosida".

Ungkapan tersebut menggema luas, memicu amarah di kalangan pemimpin Yahudi, termasuk Kepala Rabbi Roma, yang menuduh Paus memiliki “kemarahan yang selektif.”Baca Juga: Prabowo Dorong Kesejahteraan Petani, Tapi Harga Gabah di Lapangan Masih di Bawah HPP

Selama masa kepemimpinannya, Paus dikenal vokal menyuarakan keadilan, mengecam pelanggaran HAM di berbagai belahan dunia, termasuk Gaza—namun di saat yang sama juga menentang antisemitisme dan membina hubungan lintas iman.

Hanya Presiden Israel Isaac Herzog yang secara resmi menyampaikan belasungkawa, menyebut Paus sebagai “pria penuh iman dan kasih sayang.”Baca Juga: Bank Bengkulu Siap Dukung Program Pemkab Benteng Sediakan Rumah Tanpa DP bagi ASN dan Masyarakat

Sementara itu, para pejabat tinggi Israel, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, memilih bungkam.

Kontroversi ini menjadi simbol nyata bahwa bahkan dalam kematian, suara kebenaran yang disuarakan seorang pemimpin spiritual bisa mengguncang politik dan diplomasi.*

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X